Malapetaka Gadis Cantik
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Malapetaka Gadis Cantik – Hallo sobat Ngocokers yang setia. Perkenalkan namaku Eliza. Cerita ini terjadi saat usiaku masih 17 tahun. Waktu itu, aku duduk di kelas 2 SMA swasta yang amat terkenal di Surabaya. Aku seorang Chinese, tinggi 157 cm, berat 45 kg, rambutku hitam panjang sepunggung. Kata orang orang, wajahku cantik dan tubuhku sangat ideal.
Namun karena inilah aku mengalami malapetaka di hari Sabtu, tanggal 18 Desember. Seminggu setelah perayaan ultahku yang ke 17 ini, dimana aku akhirnya mendapatkan SIM karena sudah cukup umur, maka aku ke sekolah dengan mengendarai mobilku sendiri, mobil hadiah ultahku.
Sepulang sekolah, jam menunjukkan waktu 18:30 (aku sekolah siang, jadi pulangnya begitu malam), aku merasa perutku sakit, jadi aku ke WC dulu. Karena aku bawa mobil sendiri, jadi dengan santai aku buang air di WC, tanpa harus kuatir merasa sungkan dengan sopir yang menungguku.
Tapi yang mengherankan dan sekaligus menjengkelkan, aku harus bolak balik ke wc sampai 5 kali, mungkin setelah tak ada lagi yang bisa dikeluarkan, baru akhirnya aku berhenti buang air. Namun perutku masih terasa mulas. Maka aku memutuskan untuk mampir ke UKS sebentar dan mencari minyak putih. Sebuah keputusan fatal yang harus kubayar dengan kesucianku.

Aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak obat. Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan rasa sakit perutku.
Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini. Aku yang sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini.
Dan belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya. Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma “eeemph… eeemph…”.
Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas. Namun apa arti tenaga seorang gadis yang mungil sepertiku menghadapi seorang lelaki yang tinggi besar seperti Hadi ini? Aku sungguh merasa tak berdaya.
“Halo non Eliza… kok masih ada di sekolah malam malam begini?” tanya Hadi dengan menjemukan. Mataku terbelalak ketika masuk lagi tukang sapu yang lain yang bernama bernama Yoyok. “Girnooo”, ia melongok keluar pintu dan berteriak memanggil satpam di sekolahku.
Aku sempat merasa lega, kukira aku akan selamat dari cengkeraman Hadi, tapi ternyata Yoyok yang mendekati kami bukannya menolongku, malah memegang pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mulai meremasi payudaraku.
“Wah baru kali ini ada kesempatan pegang susu amoy.. ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had?” tanya Yoyok pada Hadi, yang menjawab “iya Yok, amoy tercantik di sekolah ini. Betul gak?” tanya Hadi.
Sambil tertawa Yoyok meremas payudaraku makin keras. Aku menggeliat kesakitan dan terus meronta berusaha melepaskan diri sambil berharap semoga Girno yang sering kuberi tips untuk mengantrikan aku bakso kesukaanku tiap istirahat sekolah, tidak setega mereka berdua yang sudah seperti kerasukan iblis ini.
Tapi aku langsung sadar aku dalam bahaya besar. Yang memanggil Girno tadi itu kan Yoyok. Jadi sungguh bodoh bila aku berharap banyak pada Girno yang kalau tidak salah memang pernah aku temukan sedang mencuri pandang padaku. Ataukah… ?
Beberapa saat kemudian Girno datang, dan melihatku diperlakukan seperti itu, Girno menyeringai dan berkata, “Dengar! Kalian jangan gegabah.. non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam 8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong, dan itu saatnya kita berpesta kawan kawan!”.
Maka lemaslah tubuhku setelah dugaanku terbukti, dan dengan mudah mereka membaringkan tubuhku di atas ranjang UKS. Kedua tangan dan kakiku diikat erat pada sudut sudut ranjang itu, dan dua kancing bajuku yang belum lepas dilepaskan oleh Hadi, hingga terlihat kulit tubuhku yang putih mulus, serta bra warna pink yang menutupi payudaraku.
Aku mulai putus asa dan memohon “Pak Girno.. tolong jangan begini pak..”. Ratapanku ini dibalas ciuman Girno pada bibirku. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu, sampai aku megap megap kehabisan nafas, lalu ia menyumpal mulutku supaya aku tak bisa berteriak minta tolong. “Non Eliza, tenang saja.
Nanti juga non bakalan merasakan surga dunia kok”, kata Girno sambil tersenyum memuakkan. Kemudian Girno memerintahkan mereka semua untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dan mereka meninggalkanku sendirian di ruang UKS sialan ini. Girno kembali ke posnya, Hadi dan Yoyok meneruskan pekerjaannya menyapu beberapa ruangan kelas yang belum disapu. Dan aku kini hanya bisa pasrah menunggu nasib.
Aku bergidik membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Dari berbagai macam cerita kejahatan yang aku dengar, aku mengerti mereka pasti akan memperkosaku ramai ramai. Sakit perutku sudah hilang berkat khasiat minyak putih tadi.
Detik demi detik berlalu begitu cepat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jam di ruang UKS sudah menunjukkan pukul 20:00. tibalah saatnya aku dibantai oleh mereka. Hadi masuk, diikuti Yoyok, Girno, dan celakanya ternyata mereka mengajak 2 satpam yang lain, Urip dan Soleh.
“Hai amoy cantik.. sudah nggak sabar menunggu kami ya?”, kata Hadi. Dengan mulut yang tersumpal sementara tangan dan kakiku terikat, aku hanya bisa menggeleng nggelengkan kepala, dengan air mata yang mengalir deras aku memandang mereka memohon belas kasihan, walaupun aku tahu pasti hal ini tak ada gunanya.
Mereka hanya tertawa dan dengan santai melepaskan baju seragam sekolahku, hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam yang warnanya pink. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan mulai menggerayangi tubuhku, tanpa aku bisa melawan sama sekali.
Aku masih sempat memperhatikan, betapa kulit mereka itu hitam legam dan kasar dibandingkan kulitku yang putih mulus, membuatku sedikit banyak merasa jijik juga ketika memikirkan tubuhku dikerubuti mereka, untuk kemudian digangbang tanpa ampun..
Akupun terus meronta, tapi tiba tiba perasaanku tersengat ketika jari-jari Girno menyentuh selangkanganku, menekan nekan klitorisku yang masih terbungkus celana dalam. Tak tau sejak kapan, tapi bra yang aku pakai sudah lenyap entah kemana, dan payudaraku diremas remas dengan brutal oleh Hadi dan Yoyok, membuat tubuhku panas dingin tak karuan.
Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, Urip mendekatiku, melepas sumpalan pada mulutku, dan melumat bibirku habis habisan. Ya ampun.. aku semakin gelagapan, apalagi kemudian Soleh meraba dan membelai kedua pahaku.
Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa oleh 5 orang sekaligus, aku merasakan gejolak luar biasa melanda tubuhku yang tanpa bisa kukendalikan, berkelojotan dan mengejang hebat, berulang kali aku terlonjak lonjak, ada beberapa saat lamanya tubuhku tersentak sentak, kakiku melejang lejang, rasanya seluruh tubuhku bergetar. “oh.. oh… augh.. ngggg.. aaaaaaagh…” aku mengerang dan menjerit keenakan dan keringatku membanjir deras.
Lalu aku merasa kelelahan dan lemas sekali, dan mereka menertawakanku yang sedang dilanda orgasme hebat. “Enak ya non? Hahaha… nanti Non pasti minta tambah”. Aku tak melihat siapa yang bicara, tapi aku tahu itu suara Yoyok, dan aku malas menanggapi ucapan yang amat kurang ajar dan merendahkanku itu.
Kemudian Girno berkata padaku, “Non Eliza, kami akan melepaskan ikatanmu. Jika nona tidak macam macam, kami akan melepaskan nona setelah kami puas. Tapi jika nona macam macam, nona akan kami bawa ke rumah kosong di sebelah mess kami.
Dan nona tahu kan apa akibatnya? Di situ nona tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh penghuni mess kami. Mengerti ya non?”. Mendengar hal itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, dan berharap aku cukup kuat untuk melalui ini semu. “Iya pak. Jangan bawa saya ke sana pak.
Saya akan menuruti kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar. Tolong jangan keluarkan di dalam ya?” pintaku sungguh sungguh, dan merasa ngeri jika aku harus dibawa ke mess mereka.
Aku tahu penghuni mess itu ada sekitar 60 orang, yang merupakan gabungan satpam, tukang sapu dan tukang kebun dari SMA tempat aku sekolah ini, ditambah dari SMP dan SD yang memang masih sekomplek, maklum satu yayasan.
Daripada aku lebih menderita digangbang oleh 60 orang, lebih baik aku menuruti apa mau mereka yang ‘cuma’ berlima ini. Dan aku benar benar berharap agar tak ada yang melukaiku, berharap mereka tidak segila itu untuk menindik tubuhku, trend yang kudengar sering dilakukan oleh pemerkosanya… menindik puting susu korbannya. Aku benar benar takut.
“Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona yang sexy, dan selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini sejak non masih kelas 1 SMA.
Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke 17 dan merayakannya di kelas, bahkan memberi kami makanan, kami sepakat untuk menghadiahi non kenikmatan surga dunia. Tenang saja non. Kami memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai tubuh non yang indah ini.
Dan kalo tentang itu tenang non, kami sudah mempersiapkan semua itu. Seminggu terakhir ini, aqua botol yang non titip ke saya, saya campurin obat anti hamil. Sedangkan yang tadi, saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Non Eliza tadi sakit perut kan? Hahaha…” jelas Girno sambil tertawa, tertawa yang memuakkan.
Jadi ini semua sudah direncanakannya! Kurang ajar betul mereka ini. Aku memberi mereka makanan hanya karena ingin berbagi, tanpa memandang status mereka. Tapi kini balasannya aku harus melayani mereka berlima.
Aku akan digangbang mereka, dan mereka akan mengeluarkan sperma mereka di dalam rahimku sepuasnya tanpa kuatir menghamiliku. Lebih tepatnya, tanpa aku kuatir harus hamil oleh mereka. Membayangkan hal ini, entah kenapa tiba tiba aku terangsang hebat, dan birahiku naik tak terkendali.
Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis mereka sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihat penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku, sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku.
Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yang putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu. “Indah sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali”, puji Girno.
Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Semakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara mereka semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatap sayu pada Girno.
“Pak, pelan pelan pak ya..” aku mencoba mengingatkan Girno, yang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisi siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku.
Aku semakin terangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak akan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.
Kedua payudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh bergantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat aku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejang lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girno yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku.
“Eh.. non Eliza ini.. belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, memek non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya”, ejeknya sambil mulai melesakkan penisnya ke vaginaku.
“Aduh.. sakit pak” erangku, dan Girno berkata “Tenang non, nanti juga enak”. Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dan melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangat melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan penuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitiku.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusukkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambil menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku.
Hadi dan Yoyok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus menerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sakit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek. “Ooooooh… aaaauuuugggh… hngggkk aaaaaaagh… “Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air mataku mengalir, dan kembali kurasakan keringatku mengucur deras.
Ingin rasanya meronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Hanya bisa mengerang kenikmatan dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini. “Aduh.. sakit pak Girno.. ampun”, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas karena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, “terus.. terus..”.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyak bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itu tak semakin terasa sakit.
Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anak kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.
Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Girno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku.
Penis itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai meracau, “Oh sempitnya non. Enaknya.. ah.. “ sambil terus memompa penisnya sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku.
Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat. Mulutku ternganga, kedua tanganku mencengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku terasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan penis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.
Dan setelah diam untuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku mengerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang sedang ternganga ini.
Aku gelagapan, dan Urip berkata “Isep non. Awas, jangan digigit ya!” Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enak ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjang juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno.
Tapi mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa penisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku berusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak.
Selagi aku bejruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kananku, menggengamkan tanganku ke penisnya. “Non, ayo dikocok!”, perintahnya. Penis itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku tak sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tanganku, aku sadar penis itu panjang.
Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba tiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengerubutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam dalam vaginaku.
Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, “Apa apaan ini? Apa yang kalian lakukan pada Eliza?”. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kulumanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak “Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskan saya dari mereka”.
Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, “Kalian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa… hahaha…”.
Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbang ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumanku pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tapi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir.
Setelah sadar bahwa pak Edy juga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan penisnya pada vaginaku, Girno berkata, “Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulu.
Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih”. Pak Edy tertawa. “Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?” katanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.
Tapi aku sudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yang ke tiga kalinya. “aaaaagh.. paaak… sayaaa… keluaaaar….”, erangku yang tanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kiriku yang memang menganggur.
Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhku terlonjak lonjak, entah ada berapa lamanya tersentak sentak, namun kini cairanku tak keluar karena vaginaku yang masih sangat sempit ini seolah dibuntu oleh penis Girno yang berukuran raksasa. Dalam kelelahan ini, aku harus melayani 6 orang sekaligus.
Sodokan sodokan yang dilakukan Girno membuat gairahku cepat naik walaupun aku baru saja orgasme hebat. Tapi aku tak tahu, kapan Girno akan orgasme, ia begitu perkasa. Sudah 15 menit berlalu, dan ia masih memompaku dengan garangnya.
Desahan kami bersahut sahutan memenuhi ruangan yang kecil ini. Kedua tanganku mengocok penis dari Soleh dan pak Edy, wali kelasku yang ternyata bejat, membuatku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya mulai senin besok dan seterusnya saat dia mengajar.
Urip mengingatkanku untuk kembali mengulum penisnya yang kembali disodokkannya ke kerongkonganku, membuat aku tak sempat terlalu lama memikirkan hal itu.. Kini aku sudah mulai terbiasa, bahkan sejujurnya mulai menikmati saat saat tenggorokanku diterjang penis si Urip ini.
Kepasrahanku ini membuat mereka semua semakin bernafsu. Tiba tiba Girno menarikku hingga aku terduduk, lalu dia tiduran di ranjang, hingga sekarang aku berada dalam posisi woman on top, dan penis itu terasa semakin dalam menancap dalam vaginaku.
Aku masih tak tahu apa yang ia inginkan, tiba tiba aku ditariknya lagi hingga rebah dan payudaraku menindih tubuhnya. Urat penisnya terasa mengorek ngorek dinding vaginaku. “Eh, daripada satu lubang rame rame, kan lebih nikmat kalo dua, eh, tiga sekalian, tiga lubang rame rame?” tanya Girno pada yang lain, yang segera menyetujui sambil tertawa.
“Akuuur… “, seru mereka, dan Urip segera ke belakangku, kemudian meludahi anusku. “Oh Tuhan… aku akan disandwich.. bagaimana ini..”, kataku dalam hati. “Jangaaaan…. Jangan di situuu…!!” teriakku ketakutan. Namun seperti yang aku duga, Urip sama sekali tidak perduli. A
ku memejamkan mata ketika Urip menempelkan kepala penisnya ke anusku, dan yang lain bersorak kegirangan, memuji ide Girno. “aaaaaagh…” erangku ketika penis Urip mulai melesak ke liang anusku. Mataku terbeliak, tanganku menggenggam erat sprei kasur tempat aku aku dibantai ramai ramai, tubuhku terutama pahaku bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa.
Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekali. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang. “aaaaaaaaaaaaagh…. sakiiiiiit…. Jangaaaaan…..”, erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku.
Selagi aku mengerang dan mulutku ternganga, Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenamkan penisnya dalam mulutku, hingga eranganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku.
Begitu panjang, walaupun diameternya tidak terlalu besar, tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Rasa sakit yang hampir tak tertahankan melandaku saat Urip mulai memompa anusku.
Setiap ia mendorongkan penisnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, tapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditambah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, hingga rasanya penisnya seperti menggedor rahimku.
Sedikit sakit memang, tapi perlahan rasa sakit pada anusku sudah berkurang banyak, dan ketika rasa sakit itu reda, aku sudah melayang dalam kenikmatan. Hanya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah.
Tubuhku hanya bisa bergetar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanpa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multi orgasme!
Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang ulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintaku yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno.
Tanganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip meremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini.
Aku memang pernah bermasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang terdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek tenggorokanku.
Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, “hegh.. hu… huoooooooh..”, Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang vaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya.
Akhirnya Girno orgasme juga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membuat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran darah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.
“Oh.. enake rek, memek amoy seng sek perawan…” kata Girno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang sudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang masih terasa begitu besar untukku.
Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selama hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis. Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi amat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi.
Apalagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan. Mereka benar benar menepati janji untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukku dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga membuatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya.
Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujur tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa aku rela melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati. “Hah? Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu?” pikirku dalam hati.
Tapi tak bisa kupungkiri, tadi itu benar benar nikmat, belum pernah aku merasakan yang seperti itu ketika aku bermasturbasi. Lagian, apakah ini masih bisa disebut perkosaan? Selain aku pasrah melayani apa mau mereka, aku juga menikmatinya, bahkan sampai orgasme berkali kali.
Lamunanku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku. “Non, kita lanjutin ya”, kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menurut saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung.
Aku memegang dan membimbing penis itu untuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini. “Ooh… aaah….”, erang Soleh ketika penisnya mulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang lebih kecil.
Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan. “Ooh.. aduuuuh… “, erangku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa hangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok.
Mereka memberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali ini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh ini pasti tinggi sekali.
Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali aku disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap. Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkang seperti kodok, dan… perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang amat keras ini, membuat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuatku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.
Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masing memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, memintaku mengoral penisnya.
“Dioral sekalian El, daripada nganggur nih”, katanya dengan senyum yang memuakkan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutku walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku.
Jadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Soleh dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi. “eeeeeemmmmph….”, erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem melek keenakan.
Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutku, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam mulutku, rasanya aneh, asin dan asam. Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh aku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidak ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.
Soleh mengejek pak Edy, “Lho pak, kok sudah keluar? Masa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama memeknya? Seret banget lho pak”, kata Soleh, yang disambung tawa yang lain. Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di sebelah si Girno.
Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringan. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, mengimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anusku.
Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang “oooooooouuuuggghh…. “, seiring berkedutnya penisnya dalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kini aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali.
Aku amat lelah untuk menghitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada penis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi… diameternya itu.. rasanya seimbang dengan punya si Girno. Oh celaka… penis itu akan segera menghajar anusku.
“ooooh… oooooogh… sakiiiit…”, erangku ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata.
Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergantung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.
Dengan pasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku.
Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuanya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Soleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan.
“Oooooooohh… aaaaaaargh”, seolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Soleh di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihkan tuntas seperti punya pak Edy tadi.
Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dan lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya tak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding.
Kini tinggal aku dan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku telentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mungkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak ingin penisnya terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.
Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuh nafsu.
Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun tampaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku.
Girno segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat besar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku.
Girno yang sudah terbakar nafsu ini mulai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakan nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya.
Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelangan tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan dem sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Aku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girno melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku.
Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno menggeram nggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.
Girno melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah melumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali.
Kali ini, ia terlihat lebih gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum senang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampur cairan cintaku.
Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia mulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa mampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku.
Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang belum terpuaskan dalam ‘sesi’ ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yang seolah mengerti, segera mendekatiku.
Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu mulai melesakkan penisnya dalam dalam.
Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pak Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam saja, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.
Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke wc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku.
Sambil keluar Urip berkata, “nanti kasihan non Eliza, kalo memeknya yang bersih jadi kotor kalo kontolku tidak aku cuci”. “iya, juga, kan kasihan, amoy cakep cakep gini harus ngemut ****** yang kotor seperti ini”, sambung Yoyok. Oh.. ternyata mereka begitu pengertian padaku.
Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap tusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam.
Tanpa ampun lagi, tak 5 menit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku.
Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka berdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusan. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.
Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentar pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus. “Sebentar bapak bapak, saya mau minum dulu ya”, kataku. Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapi aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini.
“Pak Girno. Itu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lagi ya pak”, kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku. Tapi Girno berkata, “Gak usah non. Saya belikan saja”.
Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembali dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menunggu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainya.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang segelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus. “Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini lagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?”.
Girno dengan tersenyum menjawab, “nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pingin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non”. Yah.. pokoknya bukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.
Kemudian aku kembali ke ranjang, menuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringat kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi.
Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok memintaku mengoral penisnya.
Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme mereka bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan membuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku.
Sedangkan aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme. Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah semakin basah dan awut awutan.
Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu birahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pada sekujur tubuhku.
Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nafsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.
Akhirnya mereka sudah selesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih. Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan pahaku yang belepotan sperma.
Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memandangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya cengengesan sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oleh celana dalamku yang cukup ketat.
Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikan seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu sekolahku.
Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang asalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin memperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.
“Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu saja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya”, kata Girno. Aku tak terlalu terkejut mendengar hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, “maksud bapak?”.
“Non tentu sudah mengerti, kami masih inginkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelum hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi.
Seperti hari ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non harus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy?” jelas Girno panjang lebar. Pak Edy mengiyakan dan berkata, “benar Eliza.
Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya cari cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kamu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu”.
Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Oh Tuhan.. di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini… Dan aku tak bisa menolak sama sekali.. Setelah semua beres, aku diijinkan pulang.
Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, roti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada yang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.
Sampai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman rumah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Roti ini benar benar mengganggu sejak aku menyetir tadi.
Rasa nikmat terus mendera vaginaku tak henti hentinya, karena setiap kaki kiriku menginjak kopling, roti ini rasanya tertanam makin dalam. Kini hal yang sama juga terjadi setiap aku melangkahkan kakiku agak lebar. Rasanya kamarku begitu jauh, apalagi aku harus naik tangga, kamarku memang ada di lantai 2.
Akhirnya aku sampai ke kamarku. Di sana aku buka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkena campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertinggal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya.
Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajah puas orang orang yang tadi menggangbang aku.
*****
Hari ini, di luar kebiasaanku, aku bangun agak telat, sekitar jam 7:30. Itu pun karena sinar matahari yang terang menerpaku dari kaca jendela, yang gordennya lupa kututup tadi malam. Saat ini rumahku pasti sedang sepi, tinggal Siti dan Sulikah, 2 pembantu wanita di rumahku. Keduanya berumur 20 tahun. Juga Suwito yang berumur 25 tahun, dan Wawan yang berumur 24 tahun, 2 pembantu laki laki di rumahku.
Juga ada pak Arifin yang berumur 45 tahun, sopir yang setia mengantarku sejak aku masih kecil. Kedua ortuku masih ada di luar negeri. Dan aku ingat, kakakku menginap di rumah temannya, mengerjakan tugas kelompok kuliahnya yang harus menggunakan komputer. Juga aku baru ingat, Siti sedang pulang kampung, untuk mengurus KTPnya yang sudah hampir habis masa berlakunya.
Dengan malas aku bangkit menuju kamar mandi, menyalakan shower dan mandi sambil mengingat ingat kegilaanku kemarin, membuatku sedikit tersenyum malu saat aku menyikat gigiku. Setelah selesai aku mengeringkan tubuhku dan mengenakan baju santai.
Karena bangun kesiangan, aku yang biasanya ke g****a jam 8 pagi, terpaksa datang ke sesi 9:30 nanti karena sekarang sudah jam 8 lebih dan masih ada waktu sekitar satu jam buatku sebelum pergi. Setelah itu, jadwal kegiatanku adalah latihan balet di ******* jam 5 nanti, dan aku harus berangkat setengah jam sebelumnya.
Demikian rutinitas kegiatanku tiap minggu. Kadang memang di siang hari setelah pulang g****a, aku jalan jalan ke mall, tapi hari ini rasanya aku amat lelah, membuat aku malas keluar, dan memutuskan untuk istirahat saja sepulang g****a sampai saat ke sekolah balet nanti . Selain itu selangkanganku masih agak ngilu akibat digangbang sekitar dua jam kemarin.
Setelah merapikan penampilanku dengan menyisir rambutku supaya tak awut awutan, aku keluar ke ruang makan. Setelah mengambil nasi dan lauk yang tersedia, aku berniat membuat susu kesukaanku, tapi aku lihat toples gula di meja pinggir sudah kosong, jadi aku ke dapur sebentar untuk mengambil gula.
Di sana aku disuguhi pemandangan yang membuatku terbelalak. Sulikah yang menurutku berwajah cantik ini sedang mencuci peralatan masak, dan disetubuhi dari belakang oleh Wawan yang menurutku tampangnya amburadul dengan ganas.
Pakaiannya sudah tak karuan, tubuhnya yang mungil seukuran denganku terlihat mengejang sexy setiap penis Wawan menyodok vaginanya dalam dalam. Mereka mendesah bersahut sahutan, tanpa menyadari keberadaanku kini yang terpaku melihat adegan itu.
Tepat saat Wawan berorgasme, tiba tiba Suwito masuk dari pintu belakang, gilanya, dengan telanjang bulat, membuatku memekik kaget. Hal ini menyebabkan Sulikah dan Wawan menoleh ke arahku dengan wajah seperti orang yang baru melihat setan, dan mereka segera saling melepaskan diri dari persetubuhan yang amat hot itu.
Mereka terlihat gugup dan bingung, demikian juga Suwito yang kelihatan panik bertanya dengan tergagap gagap, “Lho…. Non Eliza… kok belum… berangkat ke g****a?”. Ditanya demikian aku menjawab, “Iya, saya tadi bangunnya kesiangan. Maaf mengganggu, saya cuma mau ambil gula di dapur”.
Mereka masih diam tertunduk saat aku mengambil gula di rak dapur, dan aku bergegas kembali ke meja makan dengan berusaha tak memikirkan hal yang baru saja terjadi. Waktu jadi terasa berjalan lambat ketika aku sarapan pagi, dan setelah selesai aku berniat kembali ke kamarku.
Aku berdiri dari kursi, tapi baru aku akan melangkah, tiba tiba Sulikah, Wawan dan Suwito muncul dan menghadapku dengan takut takut. “Non Eliza, kami minta maaf. Tolong jangan bilang ke orang tua non atau kakak non ya.. kami tak tahu harus gimana kalau sampai kami dipecat”, kata Wawan mewakili mereka.
Aku terdiam beberapa saat. Melihat mereka semua begitu tegang, aku merasa iba. “Kalian tenang saja. Saya memang gak ada niat sama sekali untuk melaporkan hal tadi. Cuma saya pesan, lain kali kalian hati hati ya, jangan kelihatan kakak saya, apalagi orang tua saya.
Nanti urusannya bisa panjang”, kataku sambil tersenyum. Aku memang tak ada niatan sedikitpun untuk melaporkan hal ini pada siapapun. Mereka terlihat begitu lega dan mengucap terima kasih berulang ulang. Lalu setelah semuanya tenang kutinggalkan mereka kembali ke kamarku.
Sampai di dalam kamar, teringat apa yang mereka perbuat tadi membuat aku kembali membayangkan saat saat aku digangbang kemarin, membuat nafasku sedikit memburu karena tiba tiba saja gairahku naik. Aku mulai melamun tentang keadaanku. Aku masih belum punya pacar.
Memang ada banyak cowok di sekolahku yang mendekatiku, tapi semuanya kutolak dengan halus, karena berulang kali ortuku mewanti wanti aku supaya tidak pacaran waktu masih sekolah. Walau begitu, aku sebenarnya tertarik pada seorang dari mereka yang bernama Andi.
Tapi, kini aku sudah tidak perawan lagi, satu satunya yang sedikit aku sesali setelah acara gangbang itu, membuatku murung membayangkan bagaimana pandangan Andi terhadap diriku kelak kalau dia tahu.
Jam dinding di kamarku berbunyi, menunjukkan pukul 9. Oh, saat aku berangkat nih. Aku segera bangkit dan berganti pakaian, lalu turun menuju garasi. Pak Arifin seperti biasa menawariku “Non mau saya antar ke mana?”.
Ia lupa kalau aku sudah bisa membawa mobil sendiri, tapi kali ini aku pikir ada baiknya juga kalo aku tidak menyetir sendiri. Rasa pegal pegal pada tubuhku masih belum hilang seluruhnya, padahal nanti sore masih ada balet. “Ke g****a ******** pak”, kataku.
Ia membukakan pintu belakang mobil yang biasa dipakainya untuk mengantarku. Sepanjang perjalanan, aku hanya melamun, membayangkan apa yang kira kira terjadi sekarang. Apakah Sulikah kembali bermain sex dengan Wawan dan Suwito? Tak terasa, aku sudah sampai di g****a.
Setelah melakukan kebaktian rutin yang lamanya sekitar satu setengah jam dengan pikiran yang melayang kemana mana, aku segera pulang. Di dalam mobil, aku yang sejak di dalam g****a tadi sudah mulai mengantuk, kini kantukku semakin menjadi, sehingga aku tertidur di kursi belakang mobil.
Entah apa yang terjadi, saat aku bangun aku sudah di ranjang kamar tidurku, membuatku tersentak kaget. Aku memeriksa keadaanku, yah, bajuku masih lengkap, bra dan celana dalamku masih melekat dengan baik. Tapi celana dalamku terlihat amat basah, kelihatannya oleh cairan cintaku. Bajuku juga kusut sekali.
Sialan, siapa ya yang mempermainkan tubuhku selagi aku tidur? Dan ketika aku berdiri, kedua betisku terasa pegal seperti kemarin. Duh, sore ini aku harus latihan balet…
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Berarti aku tidur sekitar 3 jam. Mengingat aku tadi diantar pulang pak Arifin, kecurigaanku mengarah kepadanya. Hmm sialan tuh orang, cari kesempatan dalam kesempitan, pikirku. Dengan sedikit kesal aku turun mencarinya.
Tapi aku berpikir, bagaimana kalo pak Arifin menanyakan apa bukti kalo tadi itu perbuatan dia? Akhirnya aku memutuskan untuk mendiamkan hal ini, dan aku pun ke ruang makan karena merasa lapar. Terlihat sudah ada masakan untukku, pasti Sulikah yang masak.
Masakannya memang selalu lumayan enak sesuai dengan seleraku, membuatku makan sedikit lebih banyak dari biasanya, dan seperti biasa aku selalu minum susu, tapi kali ini tanpa gula. Selagi makan, aku mendapat ide. Nanti aku minta pak Arifin kembali mengantarku, lalu aku pura pura tertidur.
Jadi aku bisa mengetahui, siapa yang tadi berbuat iseng padaku. Aku tersenyum senang karena merasa dengan begitu aku bisa menemukan pelakunya. Selesai makan aku kembali ke kamarku, menyetel musik kesukaanku, dan mandi busa untuk menyegarkan tubuhku.
Selesai aku puas mandi memanjakan tubuhku, jam menunjukkan pukul 4 sore. Wah, setengah jam lagi harus berangkat nih. Aku pun mengeringkan tubuhku dan rambutku. Setelah itu, aku mengenakan kostum baletku setelah memakai bra dan celana dalam ketat yang berwarna putih serta stocking ketat model jaring berwarna hitam, yang aku bisa pastikan aku terlihat amat sexy dan menggairahkan jika memakainya.
Lalu aku mengenakan blus terusan berwarna biru, jadi nanti di sana aku tak perlu ganti lagi di ruang ganti, tinggal melepas blus biru yang cukup ketat ini dan hanya mengganti sepatuku yang kupakai sekarang dengan sepatu balet.
Setelah selesai aku segera menuju garasi, dan seperti yang aku harapkan, pak Arifin seperti biasa menunggu di samping mobil yang tadi itu. Sebelum dia menawari aku sudah berkata “pak, tolong ke sekolah balet *******”. Dan setelah membuka pintu mobil untukku, ia segera melajukan mobil ini ke tempat tujuan.
Aku memperhatikan pandangan matanya, kalau kalau ia mencuri pandang ke arah tubuhku. Namun tak kutemukan tanda tanda itu sampai akhirnya kami sampai ke tujuan. Aku mengangkat bahu, dan kemudian masuk seperti biasa, untuk berlatih tari balet.
Kami akan show di akhir tahun nanti, dan aku adalah penari utamanya, mungkin selain wajahku yang cantik dan tubuhku yang indah, aku juga dinilai oleh guru balet kami sebagai yang paling lentur dan indah gerakannya. Namun hari itu, aku hampir tak bisa menunjukkan performa terbaikku, selain karena pikiranku yang melayang, tubuhku juga tak mau diajak kompromi, terutama selangkanganku yang masih terasa sedikit ngilu dan betisku yang terasa pegal pegal.
Akibatnya hari itu aku lumayan bad mood, dan berlatih ala kadarnya. Untung saja, guru balet kami merasa itu sudah cukup, dan setelah selesai, aku segera pulang. Dan seperti yang sudah kurencanakan tadi, aku di mobil pura pura mengeluh,
“Aduh.. hari ini kenapa ya.. dari tadi ngantuk terus…” seperti mengguman pada diri sendiri, namun aku yakin cukup keras untuk terdengar oleh pak Arifin. Lalu untuk lebih meyakinkan, aku menguap berulang kali seperti tadi siang, dan pura pura bersandar tertidur. Aku benar benar penasaran, apa yang akan terjadi.
Akhirnya kami sampai di rumah. Aku membuka mata sedikit untuk memastikan, kemudian aku kembali memejamkan mata dan berusaha bersikap sewajarnya seperti orang tidur. Setelah mobil ini masuk garasi, pak Arifin memanggil Sulikah, yang segera datang, membantu mengangkatku ke atas, karena kamarku memang di lantai 2.
Sampai di atas, aku mendengar suara Wawan dan Suwito yang bertanya, “Lho pak, ketiduran lagi seperti tadi siang?”. “Iya, rupanya kecapaian nih non Eliza setelah berlatih balet”, kata pak Arifin. Setelah aku rasakan tubuhku terbaring di ranjang, jantungku makin berdebar, menunggu apa yang akan terjadi. Sulikah menyelimutiku, lalu berkata,”Ya sudah, ayo kita turun”.
Dan mereka semua keluar dari kamarku, meninggalkanku yang semakin bingung dan penasaran. Namun naluriku berkata, aku harus tetap pura pura tertidur. Ternyata dugaanku benar, beberapa menit kemudian pintu kamarku kembali terbuka, dengan suara yang sangat pelan.
Namun aku bisa mendengarnya, karena aku memang tidak tidur. Dengan jantung berdebar aku menunggu untuk mengetahui siapa yang akan berbuat iseng ini. Aku sedikit membuka mataku dengan amat hati hati, dan segera memejamkan mataku lagi. Ya ampun, aku melihat Wawan dan Suwito berjalan mengendap endap ke arahku yang tergolek di ranjang.
Ternyata merekalah pelakunya! Kurang ajar betul mereka ini, sudah untung aku tadi pagi cuek dengan kelakuan mereka terhadap Sulikah, tapi kini mereka malah ngelunjak, hendak mengisengi anak majikan mereka. Sementara kudengar di bawah, Sulikah dan pak Arifin sedang bercanda, terdengar dari tawa Sulikah yang renyah, membuatku menduga duga, apakah Sulikah juga ada main dengan pak Arifin…
Tapi, tak ada waktu untuk memikirkan orang lain, karena tubuhku sedang dijahili kedua pembantuku ini. Kurasakan mereka menyingkap selimutku, kemudian mulai meremasi payudaraku, membuatku hampir tak tahan untuk mendesah.
Aku bertahan berpura pura tidur, selain takut mereka akan berbuat yang lebih jauh jika aku `terbangun’, aku hanya berharap mereka akan menghentikan aktivitas mereka setelah membuat cairan cintaku membanjir keluar, seperti tadi siang. Duh, mana aku masih memakai stocking dan celana dalam yang ketat lagi.
Mereka terus meremasi payudaraku dan nafas mereka semakin memburu, tampaknya mereka sudah terbakar nafsu. Sementara aku berusaha keras meredam gairahku yang mulai naik, dengan cara membayangkan wajah orang yang sangat jelek.
Celakanya, mereka melanjutkan remasan di payudaraku dengan rabaan pada perutku, kemudian dengan nakal mereka bergantian menekan nekan vaginaku yang masih tertutup 4 lapis pakaian, celana dalam, stocking, gaun baletku serta blus biru terusan yang sampai ke lutut. Lalu mereka menarik blusku sampai ke pinggangku.
Agak kesulitan juga mereka, karena blusku yang memang agak ketat, juga posisiku yang tiduran. Kemudian gaun baletku juga mereka singkapkan, sehingga pertahanan vaginaku tinggal stocking dan celana dalamku.
Dalam hati aku berkata, awas saja kalau mereka berani menyobek stockingku, gaji mereka akan kupotong! Stockingku ini mahal harganya, dan aku Cuma punya sedikit.
Tiba tiba aku mengejang, menahan geli saat vaginaku kembali ditekan tekan. Kini tekanan itu lebih terasa, karena tinggal stocking dan celana dalam ketat saja yang melindungi vaginaku dari tangan jahil mereka.
Kudengar nafas mereka yang makin memburu, dan Suwito bertanya pada Wawan, “Wan, gimana nih, kali ini ribet nih pakaian si non ini. Apa jangan jangan ia tahu akan dikerjain lagi?”. Wawan tertawa kecil. “Aku rasa tidak mungkin To. Kalo nona kita ini tahu tadi ada yang ngerjain dia, pasti dia marah.
Tenang saja To, gula yang non Eliza ambil tadi itu kan gula buat aku, yang sudah aku campurin obat tidur dosis tinggi. Tahu kan aku susah tidur, dan suka minum yang manis? Tapi nona kita yang ayu ini lagi sial kali. Sesuai kebiasaannya, non Eliza ini kan suka minum susu.
Dan gula tadi itu membuat dia sekarang dia pasti sedang dalam pengaruh obat tidur seperti tadi siang. Dan, sekarang waktunya non Eliza untuk menyusui kita berdua nih” katanya sok yakin sambil meremas payudaraku dengan keras, membuat aku sedikit mengerutkan mukaku menahan sakit.
Hmm, untung aku tadi minum susu tanpa gula sebelum balet. Ternyata kantukku tadi siang yang sudah kuduga tidak sewajarnya ini, gara gara gula yang bercampur obat tidur itu. Sekarang keputusan ada di tanganku. Aku bangun untuk menghentikan kekurang ajaran mereka berdua ini, atau meneruskan aksi pura pura tidurku sampai mereka puas.
Setelah berpikir sambil menahan gairahku yang semakin naik, aku putuskan aku harus bangun, tanpa memberitahukan kalau tadi aku minum susu tanpa gula. Aku pikir jika gairahku sudah tak tertahankan dan aku mulai melenguh, gawat juga.
Maka perlahan aku menggeliat pura pura akan terbangun, berharap mereka terkejut dan kabur. Tapi mereka masih dengan penuh percaya diri menganggap aksi mereka aman aman saja karena aku masih dalam pengaruh obat tidur, meneruskan aktifitas mereka meraba raba dan menekan nekan vaginaku serta meremasi payudaraku.
Kelihatannya tak ada pilihan lain, aku harus bangun dan `memergoki’ mereka menjahiliku. Maka aku pura pura baru tersadar dan merintih pelan, “oh.. siapa kalian… apa yang kalian lakukan di kamarku? Kalian.. emmmph… emmmph…” Wawan yang panic membekap mulutku dengan telapak tangannya yang lebar, sementara Suwito yang juga panik memandangku dan Wawan bergantian. Wawan membentak kecil, “To! Goblok! Bantu aku cepat!!”.
Sama seperti aku, Suwito juga terlihat bingung dan bertanya “Bantu apanya Wan?”. “Cepat ikat non Eliza, dasar goblok! Lu mau kita celaka?” bentak Wawan lagi walaupun suaranya dipelankan, pasti karena takut kedengaran Sulikah dan pak Arifin.
Suwito cepat cepat keluar mengambil tali jemuran, kemudian segera kembali. Aku yang mulai meronta ronta menyadari bahaya ini, ditindih oleh Wawan yang memang badannya besar sekali hingga ku tak berkutik. Bau keringatnya membuatku mual, mengendurkan rontaan kakiku dan memudahkan Suwito merentangkan kakiku lalu mengikat kedua pergelangan kakiku pada ujung ujung ranjangku.
Kemudian tangan kananku ditariknya kuat dan diikat ke ujung ranjang. Aku sudah hampir tak berdaya, tangan kiriku menggapai gapai namun segera ditangkap dan seperti tangan kananku, ditarik dan diikat erat di ujung kepala ranjangku satunya.
Kini keadaanku sudah mirip seperti saat pertama aku ditangkap di UKS kemarin. Bedanya, kini mereka cuma berdua, dan aku masih menebak nebak, ancaman apa yang akan mereka turunkan padaku. Dengan cekatan Wawan melepaskan bekapannya pada mulutku, tapi langsung menyumpal mulutku dengan sapu tangannya.
Aduh, rasanya benar benar tak karuan, membuatku ingin muntah, tapi kutahan sekuatnya. Kini aku hanya bisa menatap Wawan penuh kemarahan namun juga ada rasa takut yang menghinggapiku ketika ia mengancamku. “Non Eliza, jangan memaksa kami untuk melakukan hal yang tidak tidak.
Kalo non Eliza berteriak hingga mengundang Sulikah dan pak Arifin ke sini, kami bisa membuat mereka berdua pingsan, lalu menculik non dan menjadikan non budak seks kami untuk selamanya. Non Eliza mengerti?” bentak Wawan, lagi lagi dengan suara pelan.
Dengan pasrah aku mengangguk. Kemudian Wawan dengan kasar melepaskan sumpalan pada mulutku, membuatku terbatuk batuk, hampir saja bibirku yang bawah terluka karena terhantam gigiku sendiri. “Duh Wan, jangan kasar dong”, aku sedikit membentak karena jengkel sekali.
Belum pernah sebelumnya aku membentak para pembantuku. “Kalian ini kurang ajar betul ya. Aku ini sudah berbaik hati tidak akan memperpanjang kalian berbuat mesum di dalam rumah ini, tapi sekarang kalian malah berbuat mesum terhadapku.
Ya sudah, mulai hari ini kalian bisa menikmati tubuhku kalau di rumah tidak ada papa mama dan kakakku, saat aku tidak sedang mens, dan aku sedang senggang, yaitu waktu aku tak ada PR, tugas, maupun ujian. tapi jangan kasar kasar. Juga jangan sampai kalian melukai aku ya. Awas kalau kalian berani menyakitiku!”, aku mengancam balik.
Mereka saling pandang, kemudian seolah tak percaya dengan pendengaran mereka, mereka bertanya dengan ragu, “mulai hari ini?”. Dengan ketus aku menjawab, “Iya. Mulai hari ini! Kalian ini munafik ya. Aku tahu kalian pasti akan berusaha memperkosaku lagi di lain waktu.
Daripada nanti kalian mengikatku, membekapku dan lain lain, itu tidak perlu. Sekarang lepaskan ikatanku. Sangat tidak nyaman tau!”. Mereka terlihat ragu ragu. Wawan berkata “Wah gimana ya, kalo non kami lepaskan, apa jaminan …”, yang langung kupotong “Aku janji aku akan layani kalian.
Toh aku sudah tidak perawan lagi, jadi buatku tidak ada ruginya. Asal kalian juga berjanji, tak akan main di kompleks pelacuran. Aku takut terkena penyakit kelamin menular. Kalian mengerti? Sekarang lekas, buka ikatan ini. Aku mau mandi dulu!”. Mereka melepaskan ikatanku, dan memandangiku dengan ragu ragu.
Dengan kesal aku membuka semua pakaianku di depan mereka. “Nih. Kalo gak percaya, main aja denganku sekarang!” tantangku. Mereka meneguk ludah melihat tubuh indahku yang terpampang polos di hadapan mereka, kemudian mereka saling mengangguk, dan Wawan berkata, “baik non, kami percaya.
Sekarang bagaimana?”. Aku berkata, “Aku mau mandi dulu, gerah nih abis latihan balet. Kalian juga, mandi semua sana. Baunya gak enak tau! Oh iya, ajak pak Arifin sekalian, biar adil. Terus minta Sulikah supaya berjaga, kalau kalau kakakku pulang”. Aku masuk ke kamar mandi, dan menyemprot tubuhku dengan air hangat, mempersiapkan diriku yang akan segera digangbang lagi hari ini.
Sebenarnya solusi ini menyebalkan juga, tapi aku pikir lebih baik aku mengalah. Seperti yang sudah kukatakan tadi, toh aku sudah tak perawan lagi, dan aku tak ingin tiba tiba disergap, diikat tak karuan, bajuku terobek, disakiti dan merasa diperkosa.
Tiba tiba pintu kamar mandiku terbuka, dan masuk Suwito, Wawan dan pak Arifin yang sudah telanjang bulat. “Non Eliza, kita mandi sama sama saja ya”, kata Wawan. “Aduh, masa sudah segitu tak sabar sih? Ya sudah cepat. Nanti keburu kokoku pulang”, kataku.
Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan memandikanku. Kedua tanganku diangkat oleh Wawan yang memang jauh lebih tinggi dariku. Yang lain menyabuni tubuhku dengan penuh semangat, terutama di bagian payudara dan vaginaku.
Setelah selesai menyabuniku, mereka membilas tubuhku sampai bersih, dan menggiringku ke ranjang. Aku berkata, “Tunggu, aku keringkan badanku dulu. Dan kalian, mandi dulu sana! Supaya tak terlalu bau nanti waktu main!”.
Mereka menuruti permintaanku, mandi sebersih bersihnya dengan sabunku. Untung saja, sebab aku teringat waktu di UKS kemarin sebenarnya aku tak tahan dengan bau mereka berenam, tapi nafsu birahi yang menguasaiku membuatku mampu bertahan.
Dan kini mereka tak lagi berbau tak enak seperti tadi, dan aku yang sudah selesai mencuci mukaku di wastafel kamarku, dan mengeringkan tubuhku, tidur telentang di ranjangku dalam keadaan telanjang bulat, Aku sempat melihat jam, pukul 19:00. Mereka langsung mengeringkan tubuh ala kadarnya, dan menyerbuku yang sudah tersaji polos di atas ranjangku.
Wawan mendapat jatah vaginaku, sementara Suwito dan pak Arifin mendapat jatah kedua payudaraku. Wawan menjilati vaginaku yang katanya wangi, sementara Suwito dan Pak Arifin menyusu pada kedua payudaraku sambil meremas remas cukup keras. Dan aku? Tentu saja birahi yang hebat segera melandaku, aku mengerang, mendesah dan menggeliat keenakan.
Dengan penuh nafsu Wawan terus menjilat bahkan mencucup vaginaku. Perlahan tapi pasti, cairan cinta mulai mengalir membasahi dinding vaginaku, yang segera diseruput oleh Wawan dengan rakusnya. Aku sampai menggelinjang kegelian, tanpa sadar kedua tanganku menggenggam sprei menahan nikmat yang kurasakan sekarang ini.
Desahan nafasku semakin hebat ketika Wawan menusukkan lidahnya ke dalam vaginaku. Sedangkan pak Arifin dan Suwito semakin bernafsu menyusu ke payudaraku, akhirnya setelah 5 menit aku menggeliat dan mengejang, orgasme melandaku.
Cairan cintaku mengalir banyak keluar, sehingga Wawan kelabakan tak mampu membendung Walaupun tak sedahsyat kemarin, tapi sudah cukup untuk membuat nafasku tersengal sengal, seluruh tubuhku berkeringat dan terasa semakin lelah, terutama betisku yang terasa semakin pegal, mungkin karena terlalu sering mengejang dua hari ini, reaksi saat orgasme melandaku. Kini Wawan sudah mengambil posisi di selangkanganku, membuat aku memperhatikan, penis seperti apa yang akan segera memompa vaginaku ini.
Ternyata penis Wawan tak sebesar dugaanku, paling tak sampai 20 cm, mungkin sekitar 18 cm. Dan diameternya pun mungkin hanya sekecil penis pak Edy, wali kelasku yang aku duga hampir impoten itu. Aku jadi sedikit tenang dan tidak kuatir mengalami sakit yang berlebihan seperti ketika aku dipompa Girno kemarin.
Namun aku sedikit bertanya tanya, apa kenikmatan yang aku dapat hari ini akan setara dengan yang aku dapat kemarin? Aku jadi ingin tahu, penis siapa di antara mereka bertiga ini yang paling besar. “He, kalian diam dulu, jangan membuat non Eliza mulet mulet, aku mau memasukkan punyaku dulu”, seru Wawan yang kesulitan menusukkan penisnya karena dari tadi aku menggeliat keenakan saat putingku disedot sedot oleh mereka berdua ini.
Mereka berdua pun diam, ikut memperhatikan proses penetrasi penis Wawan ke anak majikannya ini. Clep, demikian bunyi tusukan yang menenggelamkan kepala penis itu dalam liang vaginaku, membuatku sedikit mengejang saat menerima tusukan itu. Penis ini terasa begitu keras, dan terus menusuk dalam, tapi rasanya tak akan sampai menyentuh dinding rahimku.
Wawan melenguh kencang, “ooouuuugh… heeeeghh…”, sementara aku menggigit bibir merasakan sedikit sakit yang bercampur sedikit nikmat. kemudian Wawan mulai bergerak memompa vaginaku, membuat rasa nikmat menjalari sekujur tubuhku. Aku menggeliat pasrah, sementara kedua rekannya yang ikut terbakar nafsu, meminta pelayanan yang lebih dariku.
Suwito menaiki perutku, dan meletakkan penisnya di tengah payudaraku. Aku dipaksa merapatkan kedua susuku dengan kedua tanganku hingga menjepit penis itu, lalu ia mulai menggesek gesekkan penisnya yang juga tak terlalu panjang, dan tak terlalu lebar juga diameternya, di antara lipatan buah dadaku.
Lalu pak Arifin menyodorkan penisnya ke wajahku, yang membuatku tertegun. Nyaris sebesar punya Girno, hanya yang ini lebih berurat. Dengan ragu aku mengulum penis pak Arifin, yang tentu saja tak muat dalam mulutku yang mungil ini.
Tiba tiba telepon di kamarku berdering, dan pak Arifin melepaskan penisnya dari mulutku, mengambil telepon itu dan mendekatkan padaku. Sementara Wawan dan Suwito dengan cueknya meneruskan aktivitasnya. Wawan terus memompa vaginaku dan Suwito terus menikmati jepitan payudaraku pada penisnya.
Pak Arifin mengangkat telepon itu, dan memegangkan gagang telepon untukku, karena kedua tanganku sibuk menahan payudaraku menjepit penis si Suwito. “Me, ini aku. Aku pulangnya masih ntar malaman lagi, soalnya tugasnya belum selesai nih”, terdengar suara yang ternyata kakakku.
Dalam keadaan sedang disetubuhi, aku harus menjawab dengan nada yang sewajarnya supaya ia tak curiga yang macam macam, “Iya ko… jadi… koko.. pulang jam berapa.. nanti”, tanyaku sedikit terputus putus karena Wawan terus menggenjotku tanpa ampun. “Yaa, bentar lagi sih keliatannya sudah selesai, tapi setelah selesai aku dan yang lain mau pergi dulu, minum es bareng bareng. Yaa, anggap saja merayakan kecil kecilan.
Sulit lho ini tugasnya Kamu mau aku bawakan es juga me? Aku bungkuskan buat kamu ya?” tanya kakakku. “Iya.. boleh ko… Jangan… terlalu malam… ya… hati hati.. ko”, kataku, semakin terputus putus karena si Wawan dengan kurang ajar meningkatkan kecepatannya dalam memompa vaginaku, bahkan saat menancap dalam ia sengaja membiarkan penisnya tertanam sedikit lebih lama, membuat gairah tubuhku semakin bergolak. Celaka, jangan sampai aku orgasme selagi telepon dengan kakakku nih.
“Ya, mungkin aku sampai rumah jam setengah 12 malam. Me, kamu kenapa? Sakit ta? Kok seperti ngos ngosan gitu?” tanya kakakku. “Nggak… ko… Cuma… ingin… ke wc… sudah dulu.. ya ko”, kataku sambil menyuruh pak Arifin meletakkan gagang telepon dengan bahasa isyarat, sementara nafasku makin memburu.
Begitu telepon tertutup, aku segera melepaskan lenguhan yang sejak tadi kutahan tahan, dan aku langsung orgasme, kali ini lebih hebat dari yang pertama tadi. Tubuhku sedikit terlonjak lonjak, kedua kakiku melejang lejang dan cairan cintaku keluar banyak sekali hingga membanjir membasahi penis Wawan. Aku memandangnya dengan jengkel sekaligus penuh gairah, apalagi Wawan terus memompaku dengan kecepatan yang makin tinggi, membuat gairahku langsung bangkit walau baru orgasme hebat.
Pak Arifin bertanya, “non, kakaknya non pulang jam berapa?”. Aku berkata tetap dengan suara yang terputus putus, “Setengah..dua..belas.. pak”. Pak Arifin lalu keluar entah kemana, aku juga sudah tak perduli. Gila, stamina Wawan benar benar luar biasa, aku dibuatnya kewalahan.
Sodokan demi sodokan seolah memompa gairahku meuju orgasme, dan luar biasa, aku sudah orgasme yang ketiga saat ini, dua kali akibat dipompa Wawan dengan ganas, sementara dia tak ada tanda tanda keluar. Jam sudah menunjuk waktu 19:35, sudah setengah jam aku dipompa Wawan, dan ia belum menunjukkan tanda tanda akan orgasme.
Bahkan milik Suwito sudah berkedut, ia buru buru memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang langsung mengulum rapat dan menyedot nyedot penisnya, membuat Suwito mengerang dan melenguh, spermanya menyemprot deras ke dalam kerongkonganku. Rasanya sedikt lebih gurih dari 6 orang kemarin, atau aku yang sudah mulai menikmati minum sperma, aku juga tak tahu pasti. Penis Suwito terus kusedot sampai mengecil dan tak ada sisa sperma yang menempel sedikitpun.
Kini sementara aku tinggal menghadapi Wawan satu lawan satu. Tiba tiba Wawan dengan perkasa menarikku bangun, dan ia turun dari ranjang berdiri, dengan tetap memeluk pinggangku dan penis yang masih terus menancap erat dalam vaginaku, membuat aku takut terjatuh hingga melingkarkan betisku ke pinggangnya dan merangkul lehernya erat.
Wawan menggunakan kesempatan itu untuk melumat bibirku, sementara sodokan penisnya yang begitu kokoh bagaikan sebatang besi, terasa makin dalam menancap di vaginaku, membuatku semakin melayang layang, mengantarku mengalami multi orgasme di pelukan Wawan. “Oooooh…. Waaaaan…. aaaa…duuuuh… e….naaaaak”, erangku, tanpa terkendali aku mengejang ngejang susul menyusul di pelukan Wawan.
Kepalaku menengadah, pantatku terasa kejang tersentak sentak ke depan, cairan cintaku membanjir membasahi lantai kamarku, nafasku seperti orang yang habis lari berkilo kilo. Nikmat yang melandaku ini entahlah, mungkin setara dengan nikmat kemarin saat aku digangbang Girno, Urip dan Soleh. Namun Wawan melakukannya sendirian, membuatku kini memandangnya agak lain.
Wajahnya memang tak karuan, penisnya juga tak terlalu besar dan tak terlalu panjang, tapi, penisnya memang luar biasa keras, dan kalo staminanya seperti ini, aku berpikir bisa bisa kelak aku yang mencarinya untuk memuaskanku. Aku benar benar sudah larut dalam permainan seks ini, rasanya aku sudah berubah dari cewek yang alim dan terpelajar, menjadi cewek bispak!
Lamunanku buyar saat Wawan tiba tiba memelukku makin erat, sodokannya makin bertenaga, sementara tubuhnya terasa bergetar getar. Oh.. apakah akhirnya ia akan orgasme? Ia mulai melenguh, “heeegh.. non… E…..li……zaaaaaaa…..”, sambil menjepit tubuhku dengan pelukan yang menyesakkan dadaku, namun membuatku kembali orgasme kecil, menngiringi semprotan spermanya yang amat banyak di dalam vaginaku. Wawan menaruhku di ranjangku, dan aku agak terbanting, untungnya ranjangku empuk.
Ia terus menanamkan penisnya di dalam liang vaginaku, lalu menindih tubuhku hingga kakiku makin terkangkang lebar. Ia memagut bibirku dengan buas, membuat aku megap megap. Untungnya penisnya semakin mengecil, dan dengan posisi tubuhku yang terlipat iini penisnya dengan cepat terlepas dari vaginaku.
Cairan cintaku menghambur keluar cukup banyak bercampur spermanya dan membasahi kedua pahaku ketika aku ditariknya berdiri. Ia memelukku dengan erat dan kembali memagut bibirku seolah aku ini kekasih yang sudah lama dirindukannya. Saat itu aku melihat jam sudah menunjuk pukul 20:10. Edan.
Ini berarti Wawan menggenjotku selama satu jam. Benar benar lelaki yang perkasa. Tiba tiba entah sejak kapan, aku melihat Sulikah dan pak Arifin sudah ada di kamarku, kelihatannya sejak lama, cukup lama untuk melihat aku menyerah dalam pelukan Wawan.
Pak Arifin mendekat mengambil giliran. Aku masih tersengal sengal, ketika pak Arifin yang biasanya kalem ini dengan buas penisnya yang berukuran raksasa langsung diterjangkan ke vaginaku yang untungnya masih basah kuyup oleh campuran sperma Wawan dan cairan cintaku tadi, sehingga masih sangat licin.
“aaagh…aduh…oooh… heeegh…auuuh…nngggh “, erangku berulang ulang tanpa daya ketika pak Arifin dengan bersemangat sekali memompa vaginaku yang langsung terasa amat sakit seperti saat pertama Girno memompa vaginaku. Urat urat itu terasa begitu menggerinjal mengaduk aduk vaginaku.
Rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini membuatku teringat sisa obat perangsang di tas sekolahku. Aku meminta pak Arifin berhenti sebentar, dan minta tolong pada Sulikah untuk mengambilkan botol aqua yang isinya tinggal separuh itu di dalam tasku, yang langsung kuteguk habis begitu Sulikah memberikan padaku.
Aku sempat melihat sekelilingku, Wawan duduk di sofa kamarku, sementara Suwito tiduran di lantai. Dan Sulikah kembali duduk di kursi meja riasku. Lalu aku mempersilakan pak Arifin untuk mulai memompa vaginaku begitu aku mulai merasa panas yang tak wajar menjalari tubuhku. Ya, obat perangsang itu mulai bekerja.
Tanpa mampu mengendalikan diri, aku melayani pak Arifin dengan penuh nafsu, sakit yang tadinya melanda vaginaku sudah lenyap sama sekali berganti kenikmatan yang luar biasa dahsyat. Lenguhan, desahan dan erangan kami berdua memenuhi kamarku,membuat siapa saja yang mendengarpasti bangkit gairahnya, termasuk Wawan dan Sulikah, yang aku lihat sudah saling memagut bibir denganserunya, membuatku tak mau kalah dan menarik leher pak Arifin untukkemudian kupagut bibirnya dengan ganas.
Sudah 15 menit pak Arifin memompaku, entah aku sudah berapa kali melayang dalamorgasme,akhirnya pak Arifin melenguh panjang, menyemprotkan spermanya dalamliang vaginaku. Semprotan itu terasa begitu banyak dan kencang,rasanya mengenai bagian terdalam di liang vaginaku,mungkin menembusrahimku. Aku tergolek lemas dalam keadaan penuh nafsu, memandangSuwito yangharusnya sudah pulih karena ia yang pertama keluar tadi.
Suwito langsung tanggap dan mendekatiku. Iasegera menusukkan penisnyake dalam vaginaku, danmulai memompa vagina yang sudah kehausan penislelaki. Obat perangsang itu benar benar dahsyat, akumencumbu Suwitodengan buas, membuat Wawan yang sudah bergairah tak tahan lagi danmendekatiku.Suwito mengerti dan mendekapku erat lalu berbaring telentang hingga aku kini menindihnya.
Dan Wawan menjilati anusku,mendatangkan sensasi aneh dan luar biasa bagiku. Lidahnya terusmengorek ngorekanusku yang semakin lebar, kemudian ia menyuruhkumeludahi penisnya yang disodorkan ke wajahku.Dalam kepasrahankuturuti kemauannya, aku tahu ia akan segera membobol anusku.
Tapi akuyangsudah terangsang hebat ini tak perduli. Dengan beberapa kalidorongan, akhirnya penis Wawan yangsudah amat licin itu menembusanusku, membuatku melolong panjang karena kesakitan. Bagaimanapun,akubelum terbiasa anusku dibobol.
Kini dalam keadaan disandwich, akudisodok sodok bergantian dariatas dan bawah, hingga akhirnya taksampai 10 menit kemudian aku sudah orgasme, bersamaan denganmenyemprotnya sperma Suwito dalam liang vaginaku. Dalam keadaan anuskumasih tertancap penisWawan, pak Arifin menggantikan posisi Suwito.Penisnya yang raksasa itu sudah menegang tegak, siapuntuk kembalimenyodok vaginaku dengan buas.
Suwito menyodorkan penisnya ke wajahkudan aku takperlu disuruh, segera kubersihkan sperma yang tertinggaldi penis itu dengan mengulum ngulum danmenyedot nyedot penis ituhingga bersih, sementara pemiliknya melenguh lenguh keenakan, laluroboh didepanku.
Birahiku yang semakin tinggi membuatku antara sadar dan tidak, denganpenuh nafsu melayani sodokandua penis sekaligus di selangkanganku.Kugerakkan tubuhku mengikuti irama sodokan itu, berulang ulang aku mencapai klimaks, sampai akhirnya pak Arifin orgasme duluan. Kinitinggal Wawan yang menyodomiaku dengan gencar, memang Wawan luar biasa.
Pak Arifin menyodorkanpenisnya untuk kubersihkan, dan aku dengan semangatmulai mengulum danmenyedot nyedot penis itu sampai mengecil, sementara Suwito sudah berada dibawahku, namun bukan untuk menikmati vaginaku, melainkan menyedot susuku yang tergantung karenakini aku dalam keadaan doggiestyle. Pak Arifin duduk dan melumat bibirku dengan bernafsu. Sulikahkulihat mulai bermasturbasi dengan mengaduk vaginanya dengan jarinyasendiri.
Ia pasti terangsanghebat melihatku begitu pasrah dikeroyokoleh 2 orang rekannya ditambah sopirku. Setengah jam kemudian Suwito sudahpulih,dan menusukkan penisnya ke vaginaku, membuat selangkanganku kembaliterasa sesak membangkitkan gairahku, dan tak lama kemudian akulangsung orgasme hebat.
Seolah bekerja samadengan Wawan, merekamenusukkan senjatanya dalam dalam bersamaan dan berlama lama menahanpenis mereka di sana, membuat aku melenguh lenguh tak kuasa menahannikmat. Aku sudah setengahsadar saat jam menunjuk pukul 22:15.
Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus mili liter cairan cinta yangsudah diproduksi tubuhku selama 3 jam ini. Mereka bertiga bergantian memuaskanku, sampai akhirnya ambruk satu per satu di sekelilingku. Kondisiku sendiri tak lebih baik, tenagaku terasa terkurashabis.Untungnya aku besok masih sekolah siang. Ya, semester depan aku akansekolah pagi. Yang jelasbesok aku masih ada kesempatan bangun agak siang.
Deru nafas yang memburu bersahut sahutan di kamarku. Aku mulai sadardari pengaruh obat perangsangtadi, dan bangkit menuju kamar mandikudengan sempoyongan. Kukeluarkan sperma yang bisa aku keluarkan darivaginaku dengan bantuan tangan dan siraman air shower. Aku mandikeramas menghapussisa keringatku dan keringat mereka yang menempel disekujur tubuhku, lalu mengeringkan tubuhkuserta rambutku.
Kemudian, masih telanjang bulat, aku kembali ke ranjangku yang masih awut awutan akibat `perang’ yang baru terjadi. Wawan masih tergeletak diranjangku, aku memintanya turun, karenaaku harus mengganti sprei ranjangku. Aku tak mau tidur dengan bau keringat, sperma dan cairancinta disekitarku.
Dibantu Sulikah aku memasang sprei yang baru, sementara sprei tadi dibawanya turun ketempat cucian setelah ia pamitpadaku untuk tidur. Sementara 3 begundal ini, aku masih ada urusanyangharus kubicarakan dengan mereka semua. “Pak Arifin, Wawan danSuwito.
Sekali lagi, aku ingatkan, halbarusan ini hanya bisa terjadijika kedua ortuku dan kakakku tidak ada di rumah, juga jika aku tidakadaPR atau tugas ataupun ujian, juga pada saat aku mens. Di luar itu,jangan coba coba memaksaku. Kaloketahuan, selain kalian dipecat, akusendiri juga bakal susah.
Daripada hal yang sama sama merugikankitasemua terjadi, tolong kalian tidak berlaku ngawur. Kalian juga bisamenikmatiku, tapi kalian harusjanji tak akan jajan di luar. Saya takingin kena penyakit kelamin yang menular. Apa kalian mengerti?”tanyakupanjang lebar, yang dijawab mereka semua, “akuuuur…”.
Lalu dengan langkah gontai karena sama sama kehabisan tenaga, merekabertiga keluar dari kamarkumenuju ke kamar masing masing. Tinggal akusendiri yang menunggu kakakku pulang sambil merenung.Masih ada sejamlagi sebelum kakakku pulang, aku berpikir aku lebih baik tidur saja,toh kakakku bawa kunci pintu depan.
Aku mengenakan baju tidur satinyang nyaman seperti kemarin, lalu mengistirahatkantubuhku yang sudahamat kepayahan ini di atas ranjangku yang empuk. Aku membayangkan,Jumatdepan aku harus melayani 6 begundal kemarin.
Apa lokasinya tetapdi ruang UKS itu? Apa yang haruskulakukan? Bagaimana jika merekagelap mata menyeretku ke mess yang dihuni sekitar 60 orang itu?Akubisa apa? Apa mereka tetap mau melepaskan diriku seperti kemarin?Lalu, sampai kapan aku akanjadi budak seks kedua pembantu dan sopirkuini? Pertanyaan demi pertanyaan menghiasi pikiranku,mengantarku tiduryang kali ini tak begitu nyenyak.
Beberapa jam sekali aku mengalamimimpi buruk,dimana aku berada di tengah kerumunan 60 orang yang mengepung diriku hingga aku panik danterbangun. Oh.. apakah ini tandabahwa nanti aku benar benar harus melayani penghuni mess dimanaGirnodan yang lain tinggal itu?
*****
Tidurku yang tak nyaman karena dilanda mimpi buruk, terasa makin tak nyaman karena nafasku tiba tiba terasa sesak, dan tubuhku seperti terhimpit sesuatu. Rasanya aku tidak mengidap penyakit asma. Namun selangkanganku terasa enak dan nikmat, seperti ada penis yang mengaduk vaginaku.
Belum lagi rasanya payudaraku diremas lembut, membuatku perlahan tersadar dari tidurku, untuk kemudian mendapati ternyata Wawan yang membuatku terbangun dengan menyetubuhiku. Aku yang masih belum sadar betul, terkejut melihatnya ada di kamarku, apalagi sedang menyetubuhiku, membuatku menjerit ketakutan dan mendorongnya, namun ia terlalu berat buat cewek mungil sepertiku.
“Lho Non Eliza, katanya mulai kemarin saya boleh menikmati Non?” tanya Wawan memprotesku. Aku langsung sadar, teringat kemarin memang aku menjanjikan hal ini. “Tapi bukan gini caranya Wan! Masa aku lagi tidur kamu ajak beginian.
Nggak sopan tahu! Lagian aku tadi masih belum sadar benar, bangun bangun ada orang lain di kamarku, kukira aku sedang diperkosa rampok tau!”, kataku ketus. Sedikit jual mahal boleh dong? Mendengar omelanku, Wawan terdiam. Tapi penisnya yang menancap di vaginaku tidak mengendur sedikitpun.
Aku menghela nafas panjang, lalu berkata “Ya sudah, cepat lanjutkan. Mana kamu ini lama lagi kalau main. Oh tunggu!!”, tiba tiba aku teringat dan menurunkan volume suaraku, “Gila kamu ya Wan, kakakku mana??”. Wawan cengengesan dan berkata, “tenang Non, liat ini jam berapa? Kakak non sudah pergi setengah jam yang lalu kok.
Dan saya sudah tidak tahan untuk bermain lagi dengan non nih”. Oh.. aku sedikit lega, dan melihat jam, yang ternyata sudah jam 08:15 pagi. “Lalu, sejak jam berapa kamu nggghh… ” belum selesai aku bertanya, Wawan sudah mulai menggenjotku dengan tak sabar, hingga aku melenguh, keenakan.
“Oh..Wan… kamu…”, desahku nikmat. Wawan tersenyum penuh kemenangan, membuatku sedikit jengkel juga, tapi hanya sebentar, karena rasa nikmat langsung melandaku ketika Wawan mengulangi gayanya kemarin, ia memeluk pinggangku, dan menarikku berdiri. Penis yang amat kokoh itu langsung terbenam begitu dalam, membuatku melenguh lenguh. Bukan hanya karena takut, tapi juga tak ingin penis itu lepas dari vaginaku, membuatku tanpa sadar kembali melingkarkan kakiku ke pinggangnya.
Rasanya tusukan penis itu semakin dalam, dan aku yang sudah melingkarkan tanganku ke lehernya supaya tubuhku tidak terjatuh ke belakang, memagut bibirnya penuh nafsu tak perduli dengan wajahnya yang amburadul. Terakhir aku minum obat anti hamil adalah ketika aku digangbang di ruang UKS 2 hari yang lalu, tapi aku tak kuatir hamil, sebab kini aku sedang bukan dalam masa subur.
Aku sudah tak lagi punya niat untuk jual mahal, karena rasa nikmat yang sudah menjalar ke seluruh tubuhku benar benar menghancurkan akal sehatku. Wawan terus memompa vaginaku sambil berjalan, rasanya nikmat sekali. Aku heran dan menduga duga ke mana ia mau membawaku, sambil mulai memperhatikan keadaanku. Bajuku masih melekat, walaupun tanpa bra. Aku memang tak pernah tidur dengan memakai bra.
Tapi celana panjangku dan celana dalamku tidak ada, dan sempat aku melihat dari pintu kamarku ketika Wawan membawa tubuhku keluar, kutemukan kedua benda itu tergeletak di lantai kamarku. Kini Wawan menuruni tangga, rupanya hendak mengajak rekannya kemarin untuk bersama sama menikmati tubuhku.
Gawat juga nih. Kalau tiap pagi sarapan sex seperti ini, bagaimana aku konsentrasi di sekolah? Tapi aku tak kuasa menolak kenikmatan ini, dan pasrah saja mengikuti kemauan Wawan. Setiap langkahnya di tangga membuat penisnya memompa vaginaku, dan aku orgasme ringan hingga cairan cintaku mengalir semakin banyak, seharusnya membasahi paha Wawan, yang terlihat senang senang saja. Akhirnya ia membawaku ke kamar tidur pembantu laki laki di rumahku, dimana pak Arifin dan Suwito sudah menunggu.
Dengan nafas tersengal sengal karena sodokan Wawan yang semakin gencar, aku yang menyadari akan segera digangbang lagi, mencoba mengingatkan mereka dengan terputus putus bercampur desahan dan lenguhan, “kalian… harus inghh… ingat… yaaah…. ngggh…. aku nantiiii…. harus… sekolah….”.
Mereka tertawa, dan Suwito berkata, “Tenang non Eliza, cuma satu ronde kok. Kami kan juga harus kerja membersihkan bagian luar rumah Non…”. Suwito membelai pantatku dan melanjutkan “aduh non, kalau begini non cantik banget lho non, mana ada bintang film porno yang secantik nona kita ini ya?”.
Pak Arifin menyibakkan rambutku yang terurai ke belakang telingaku dan menimpali, “Kita ini benar benar beruntung bisa kerja di sini. Di mana lagi kita dapat menikmati nona amoy secantik non Eliza ini.. seterusnya lagi. Non Eliza sendiri kan yang minta? Kalau begini mah, bayaran gak naik juga kita betah lho Non kerja sampai tua di sini”.
Mereka tertawa senang sementara aku yang antara malu bercampur terangsang, tak bisa menanggapi gurauan mereka, karena Wawan sudah melanjutkan pompaan penisnya yang sekeras batangan besi itu, membuatku menggeliat dan melenguh dalam pelukannya.
“Nggggh.. Waaan….aduuuh….emmpph”, Wawan memagutku dengan buas, hingga aku tak bisa lagi bebas melenguh. Yang lain sabar menanti gilirannya dengan caranya masing masing, Suwito membelai dan meremas pantat dan payudaraku, sementara pak Arifin membelai belai rambutku yang panjang sampai sepunggung ini, sambil menghirup bau harum rambutku.
Dengan tubuh yang dirangsang 3 orang sekaligus seperti ini, membuat orgasme demi orgasme meluluh lantakkan tubuhku, sampai akhirnya datanglah saat saat yang paling nikmat itu, aku kembali mendapatkan multi orgasme.
“Mmmmmph… hnngggh.. oooohhhh… aaa….duuuuuh….” erangku saat tubuhku terlonjak lonjak tak karuan, cairan cintaku membanjir dan membanjir. Betisku melejang lejang, pinggangku tertekuk ke belakang ketika aku menikmati orgasmeku dengan total.
Tubuhku pasti sudah jatuh kalau tak ditahan Suwito dan pak Arifin, yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusu pada payudaraku sambil meremas remas dengan gemas, membuat orgasmeku yang susul menyusul ini makin terasa nikmat. Dentang grandfather clock dari dalam ruang tamu di rumahku menunjukkan sekarang ini adalah jam 09:00!
Oh… entahlah, mungkin sudah sejam kali aku digenjot Wawan, kalau ditambah dengan waktu aku masih tertidur. Ia memang perkasa untuk urusan sex, membuatku semakin kagum padanya. Beberapa menit setelah aku orgasme, Wawan tak tahan lagi. “Oooh… memeknya non Eliza ini…. rasanya kontolku kayak diurut urut… sudah 3 menit… aaah… “, erangnya sambil menembakkan spermanya di dalam liang vaginaku.
Aku memejamkan mata ingin menikmati sepuas puasnya rasa hangat yang memenuhi relung relung vaginaku. Kurasakan tubuhku dibaringkan di salah satu ranjang mereka, dan penis Wawan sudah terlepas dari vaginaku. Aku membuka mataku, untuk melihat giliran siapa berikutnya.
Sedikit beda dari kemarin, sekarang gilirannya Suwito, yang sudah mengambil posisi di selangkanganku, dan segera membenamkan penisnya ke dalam vaginaku yang masih sangat basah oleh cairan cintaku dan sperma Wawan.Aku hanya bisa menggeliat pasrah dibawah tindihan Suwito, yang dengan penuh semangat menggenjotku sepuas puasnya. Pak Arifin masih memainkan rambutku, yang menurutnya sangat indah.
Tiba tiba aku teringat penis Wawan yang pasti masih belepotan sperma yang bercampur cairan cintaku. Entah apa yang mendorongku, tapi aku hampir tak bisa mempercayai bahwa itu adalah suaraku sendiri ketika aku memanggil Wawan, “Wan, sini aku oralin bentar”.
Wawan yang sedang duduk di lantai beristirahat, tentu saja tak perlu kuminta dua kali, ia segera bangkit mendekatiku dan menyodorkan penisnya untuk kuoral, dan tanpa malu malu aku memegang penis yang sudah mengendur itu, kukulum kulum dan kuseruput hingga pipiku terlihat kempot, sampai tak ada sperma yang tersisa, sementara Wawan melenguh lenguh keenakan. Benar benar edan! Bagaimana mungkin aku bisa seliar ini? Bahkan aku merasa sperma itu begitu enak dan gurih, apakah ini karena aku mulai ketagihan minum sperma?
Mungkin saja, karena kini aku sudah tak sabar lagi menunggu Suwito orgasme, karena aku ingin segera menjilati dan menyedot sperma lagi. Maka setelah penis Wawan selesai kuoral sampai bersih, aku segera menggerakkan pinggulku menyambut tusukan demi tusukan Suwito, dan benar saja, tak sampai 10 menit Suwito sudah menggeram.
Ingin aku memintanya keluar di mulutku, namun aku takut dianggap tidak adil karena tadi Wawan sudah keluar di dalam. Maka aku diam saja, membiarkan Suwito memuaskan hasratnya untuk menyemprotkan spermanya dalam liang vaginaku.
Setelah kurasakan tak ada semprotan lagi, aku segera mendorong tubuhnya sampai penisnya terlepas dari jepitan liang vaginaku, dan buru buru aku berkata, ”To, cepat sini…”. Suwito pun segera menghampiriku, membenamkan penisnya ke mulutku, dan aku segera menyedot nyedot dengan memejamkan mataku, merasakan tetes demi tetes sperma yang teroleskan di lidahku. Rasanya nikmat sekali, asin dan begitu gurih.
Pak Arifin yang sempat tak kulihat batang hidungnya, kulihat kembali, sambil membawa sebuah sendok teh dan piring kecil. Aku tak terlalu memperdulikan hal itu, dan terus mengulum penis Suwito. Tiba tiba, aku melepaskan kulumanku, sambil melenguh pelan karena merasakan nikmat pada selangkanganku. Tak apa apa, toh penis Suwito sudah bersih. Tapi bukan itu yang harus kupikirkan, maka aku melihat ada apa dengan selangkanganku.
Ternyata pak Arifin sedang menyendoki lelehan sperma yang bercampur cairan cinta yang mengalir keluar dari vaginaku, dan ditadahi dengan piring kecil tadi. Aku hanya diam menahan nikmat, ketika sendok kecil itu mengorek ngorek vaginaku dengan lembut, seolah menyendoki cairan cintaku dan sperma sperma dari Wawan dan Suwito.
Setelah cukup lama, mungkin setelah vaginaku sudah tak terlalu becek lagi, pak Arifin berkata, “Non Eliza, non suka peju ya? Saya suapin peju mau ya?”. Aku dengan sedikit malu, mengangguk pelan, dan pak Arifin mulai menyuapiku dengan lembut seperti menyuapi anaknya yang sedang sakit.
Kembali aku merasakan sperma yang bercampur cairan cinta. Suapan demi suapan cairan yang gurih dan nikmat ini membuat aku tak begitu lapar lagi meskipun aku ingat aku belum makan pagi. Setelah jatahku habis, pak Arifin mulai bersiap menggenjotku, sambil bertanya, “Non Eliza, non mau nggak kalau nanti saya mengeluarkan peju dalam mulut non?”.
Aku mengangguk senang, kemudian melebarkan selangkanganku selebar lebarnya, karena aku ingat penis pak Arifin ini berukuran raksasa. Kurasakan penis itu sudah mulai melesak sedikit, dan gairahku langsung naik cepat. Apalagi Wawan dan Suwito ikut menyusu pada payudaraku dengan remasan remasan kecil.
“Aduh… oooh…”, erangku antara sakit dan nikmat. Tetap saja ada rasa sakit yang melanda vaginaku, karena ukuran penis pak Arifin sangat besar. Tapi kini aku bisa lebih cepat beradaptasi, dan mulai mengimbangi genjotan sopirku ini. setelah rasa sakit itu lenyap, aku mulai mendesah dan melenguh keenakan.
Penis itu seolah menancap begitu erat, sehingga ketika pak Arifin menarik penisnya, seolah vaginaku yang menjepit penisnya ikut tertarik, dan tubuhku terangkat sedikit. Namun ketika penis itu menghunjam, rasanya vaginaku serasa sedang dimasuki daging keras yang besar hingga sesak sekali. Tak sekeras punya Wawan memang, tapi masih keras untuk ukuran orang seumur pak Arifin.
Dan cukup keras untuk membuat aku serasa melayang ke awang awing. Rasa nikmat ini akhirnya membuat aku orgasme, kembali kakiku melejang lejang membuat jepitan vaginaku pada penis pak Arifin makin erat, dan ini membuat pak Arifin kelabakan, penisnya berkedut kedut. Ia segera menarik penisnya lepas dari vaginaku dengan tergesa gesa, dan segera membenamkan penisnya dalam mulutku.
Segera semprotan spermanya yang juga terasa asin dan gurih, membasahi kerongkonganku. Aku terus melahap sperma itu, menjilati dan mengulum penis itu hingga bersih. Aku sudah tak merasa lapar lagi setelah sarapan sperma dan cairan cintaku sendiri.
Mereka bertiga akhirnya duduk mengatur nafas mereka yang masih memburu. Wawan yang paling duluan pulih, namun sesuai janji mereka, ini hanya satu ronde. Tiba tiba Sulikah datang terburu buru sambil membawa celana dalam dan celana panjang satin pasangan baju tidurku. “Non, kakaknya non sudah pulang.
Cepetan non, pakai ini dan kembali ke kamar non”, seru Sulikah agak panik. Aku juga ikut panik, segera memakai celana dalam dan celana panjang ini, kemudian berlari kembali ke kamarku. Yang lain juga segera memakai bajunya masing masing, kemudian segera keluar dari kamar tempat kami pesta sex barusan, seolah olah sedang bekerja seperti biasa.
Untung Sulikah memberitahu tepat pada waktunya, aku sudah di dalam ruang makan ketika kudengar deru mesin mobil kokokku di garasi. Rupanya dosen yang mengajar mata kuliahnya pagi ini tidak datang. Aku naik tangga dengan jantung berdegup kencang, akhirnya sampai juga aku ke dalam kamarku yang kulihat sudah rapi, pasti Sulikah yang merapikan.
Sempat kulihat jam, ternyata sudah jam 09:30. Dan aku segera masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhku dari keringatku dan keringat 3 orang tadi, juga vaginaku kucuci bersih, hingga terasa kesat. Mungkin karena cuma 1 ronde, tubuhku tak terlalu lelah.
Selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku sambil memastikan tak ada tanda tanda aku baru saja bermain sex dengan mereka. Lalu aku memakai baju santai, dan turun ke ruang makan. Di sana sudah menunggu kokoku, yang membawakan aku nasi campur di dekat sekolahnya, kesukaanku. Yah, kebetulan deh. Aku kan belum makan pagi, cuma sarapan sperma dari mereka bertiga tadi.
Aku memeluk kokoku senang, dan berkata, “thank you ya kokoku yang baik”. Kokoku tertawa dan menggodaku, “Iya me. Tapi baik kalau bawain makanan aja ya? Kalau nggak jadi nggak baik?”. Aku memukul lengannya manja, lalu kami makan bersama. Kami ngobrol kesana kemari, dan tak terasa akhirnya selesai juga kami makan.
Kokoku kembali ke kamarnya, mungkin main komputer. Aku juga kembali ke kamarku, mempersiapkan diri ke sekolah. Sekarang sudah jam 10, aku biasanya berangkat jam 11:30. masih ada satu setengah jam lagi, aku menyiapkan seragamku, putih abu abu.
Juga tas sekolahku, yang membuatku teringat tentang obat perangsang itu. Lalu aku menyisir rambutku rapi, dan duduk manis di ranjangku. Sambil menunggu, aku menelepon temanku, dan kami ngobrol sampai tak terasa sudah waktunya aku harus berangkat. Setelah berpamitan, aku mengenakan seragam sekolahku, lalu berpamitan pada kokoku, dan turun ke garasi.
Seperti biasanya, pak Arifin menawarkan diri untuk mengantarku, tapi kutolak halus karena aku ingin menyetir mobil sendiri. Dalam perjalanan, aku mengingat ingat kejadian pagi ini, dan membayangkan besok aku harus melayani mereka bertiga lagi karena kokoku kuliah pagi sampai siang.
Hmm, sarapan sex tiap pagi sebelum ke sekolah? aku menggelengkan kepala tak habis pikir, bisa bisanya ada pembantu plus sopir yang memakai tubuh anak majikannya. Entahlah, yang lebih gila lagi, anak majikannya ini tak merasa keberatan alias bispak gitu loh…
*****
Sambil menunggu bel masuk sekolah siang, aku bercanda dengan Jenny, teman yang duduk sebangku denganku. Kami tertawa riang, menggosip dan kadang saling menggoda. Aku kenal dengan cewek cantik ini sejak awal masuk SMA, dan kami dengan cepat menjadi teman baik dan duduk sebangku.
Sifatnya yang periang membuat aku yang awalnya agak pendiam, cocok sekali dengannya. Hari itu ia menggosip tentang adanya informasi, kami akan pulang cepat. “EL, kamu tahu nggak, nanti kita bakal pulang cepat nih!”, katanya dengan senyum bahagia.
“Memangnya ada apa Jen”, tanyaku penasaran. Info yang dia dapat biasanya akurat nih, maka aku jadi senang. “Katanya guru guru akan rapat, jadi kita akan pulang pada jam istirahat pertama”, jawabnya dengan senyum yang lucu, membuatku tertawa. Cerita dewasa ini di upload oleh situs
Jenny, anaknya cantik, tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku, yaitu 155 cm, terlihat sangat ideal dengan berat badannya yang cuma 41 kg. Sama seperti aku, ia chinese, berambut lurus, hitam dan panjang sampai ke punggung. Kulitnya putih sekali, sedikit lebih putih dariku. Kami berdua suka saling memuji kecantikan masing masing.
Kalau menurutku, ia memang cantik sekali, bahkan kokoku yang pernah melihatnya main ke rumahku juga mengatakan ia cantik, padahal kokoku termasuk cerewet untuk ukuran cewek. Kembali ke topik, aku kini menunggu dengan penasaran, apakah memang kita kita bakalan pulang pagian. Aku sudah membayangkan, akan pergi ke Tunjungan Plaza, jalan jalan atau mencoba makanan baru di sana.
Benar saja, pada waktu bel berbunyi, seperti biasa kami berdoa dipimpin oleh salah satu guru, yang waktu selesai doa, mengumumkan kalo hari ini pelajaran berlangsung 30 menit per jam pelajaran, dan kami akan pulang pada jam istirahat pertama karena guru guru akan rapat. Artinya, 1 jam lagi dari sekarang, yaitu jam 14:00, kami bebas dari aktivitas sekolah. Jenny kuajak pergi ke Tunjungan Plaza, yang langsung saja diiyakan olehnya.
Kami melewati 2 jam pelajaran ini dengan hati senang sehingga tak terasa sudah waktunya kami bersenang senang. Sempat terbersit di pikiranku, untung deh. Jam terakhir nanti, geografi. Guru yang mengajar adalah pak Edy, yang kemarin Sabtu dengan tak tahu malunya ikut andil waktu aku digangbang di UKS itu. Jadi teringat, dia cepat keluar, dan penisnya lembek.
Mungkin dia akan segera impoten kali? “Hei El, siang siang ngelamun, awas kesambet lho!” seru Jenny sambil menepuk bahuku, membuat aku amat kaget dan dengan pura pura marah aku mengejar Jenny yang kabur menghindari cubitanku. Kami akhirnya masuk ke mobilku setelah Jenny menemui sopirnya dan menyuruh bapak itu langsung pulang. Dan kami segera berangkat menuju Tunjungan Plaza.
Bersambung…
Di hari Jumat ini, ketika sudah waktunya pulang sekolah, aku sudah akan berdiri dari kursi ketika Jenny memintaku menunggu sebentar. “El, jangan pulang dulu dong, bentar bentar! Kamu lagi mikirin apa sih El? Gini aku jelaskan lagi ya, besok Senin, Selasa dan Rabu kita kan libur.. yaaa aku tahu memang ada bazar, tapi kita bisa berlibur dulu kan, jadi baru datang hari Selasa dan Rabunya gitu”, Jenny berkata panjang lebar. Aku terbawa oleh sikapnya yang selalu riang itu, dan mendengarkannya sambil tersenyum.
“Gini nih Eliza, aku pinginnya, kita berlibur ke Tretes, tiga hari dua malam saja. Jadi besok sore kita berangkat, terus senin sore baru balik lagi ke Surabaya. Gimana El?”, tanya Jenny. “Memangnya kita mau pergi sendiri berdua Jen?”, aku bertanya heran. “Ya nggak lah El, kamu sih dari tadi nggak dengerin kita ngomong, ngelamun aja.. Lha ini Siany, Bella dan Rini ngumpul sama kita di sini buat apa?”, gerutu Jenny, dan ketiga temanku yang lain itu memandangku dengan cemberut.
Aku baru sadar kalau ada mereka bertiga ini yang sejak tadi ngobrol dengan kami berdua. “Aduh.. sori ya.. jadi, kita berlima ya Jen?”, tanyaku lagi. Jenny mencubit kedua pipiku dengan gemas, “Nih anak memang minta dijitaaak… Sherly juga ikut Eeel!”. Aku mengeluh manja, “Aduh Jen.. iya ampun…”. Kami semua tertawa dalam suasana yang riang. “Hei.. sori telat nih, aku tadi ada perlu bentar di kelas”, Sherly mendadak muncul mendekati kami yang masih duduk duduk di dalam kelas dan menyapa kami semua.
“Sudah lengkap ya semua… Jadi gimana nih? Kita tidur di mana nanti di Tretes? Sudah ada yang membooking vila? Atau kita tidur di hotel Surya?”, tanya Sherly setelah duduk bersama kami. Rini yang pada kelas 1 SMA sekelas denganku, langsung bertanya padaku, “El, langsung aja nggak pakai basa basi, kalau vila kamu dipakai nggak? Kalau nggak dipakai, bisa nggak kita menginap di vilamu?”. Aku agak terkejut mendengar kata kata Rini. “Vilaku…?”, aku mengguman dengan ragu.
“Iya El, kalau di vilamu gimana? Selain Rini, nggak ada yang pernah ke sana lho.. please yaa?”, Sherly menambahkan. “Iya nih El.. itu ide yang bagus kan. Kalau di vila Sherly, kayaknya bakal gak cukup..”, seru Jenny dengan bersemangat, tapi terhenti karena diam diam di bawah meja aku menendang kakinya. Jenny rupanya sadar juga, mengapa aku menendang kakinya. Jenny pasti baru ingat, aku pernah menceritakan padanya kalau aku pernah dikerjain oleh penjaga vilaku, pak Basyir itu.
Rini yang jelas tak tahu apa apa, menceritakan kalau pada perpisahan kelas 1 SMA dulu, semua siswi di kelasku menginap di vilaku, sedangkan yang siswa menginap di vila Andi. Oh.. teringat kepada Andi, aku jadi merenung. Orang yang telah menjatuhkan hatiku sejak di kelas 1 dulu, tapi kini aku berlumuran dosa. Aku tahu, Andi sendiri sebenarnya menaruh hati padaku. Sekarang kami sudah nggak sekelas, tapi Andi sering mencariku, dengan alasan untuk pinjam buku catatanku.
Aku yakin itu cuma alasan, karena aku tahu Andi sendiri adalah anak yang rajin, tak mungkin dia perlu pinjam buku catatanku. Hal ini memang yang membuat aku tadi melamunkan Andi, yang baru saja meminjam buku catatan pelajaran Fisika dariku. Selain itu, Andi sering salah tingkah kalau ada di dekatku, ia tak pernah mampu menatapku lama lama. Oh seandainya saja Andi tau, aku juga suka padanya… tapi kini, aku sudah berlumuran dosa.
“Gimana El?”, pertanyaan Sherly membuyarkan lamunanku. “Oh… itu ya”, aku tergagap, dan memandang sekelilingku. Selain Jenny, mereka semua terlihat berharap untuk menginap di vilaku, dan ini membuatku tak enak untuk menolak. “Ya sudah, aku telepon penjaga vilaku dulu yah, aku suruh siapkan dua kamar untuk kita. Kita tidurnya bertiga bertiga ya?”, kataku sambil mengambil handphoneku dari dalam tas sekolahku, walaupun sebenarnya perasaanku tak karuan. Ini kan sama saja seperti aku menyerahkan diriku kepada pak Basyir?
“Asyiik..”, seru ketiga temanku, sedangkan Jenny tersenyum ragu, sementara Sherly duduk di kursi sebelahku, ia memelukku dan berkata, “Thanks ya Eliza”. Aku agak tersengat, karena aku merasakan payudara Sherly menekan payudaraku, membuat mukaku rasanya panas. “Mmm…”, aku memejamkan mataku, tapi aku langsung sadar aku tak boleh larut oleh perbuatan Sherly ini. “Iya nggak apa apa kok Sher, bentar aku telepon dulu nih”, kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Sherly dengan agak panik, masa Sherly memelukku dengan semesra ini di depan teman teman?
Sherly melepaskanku, mungkin sungkan juga karena di sini ada teman teman kami yang lain. Kemudian aku segera menelepon penjaga vilaku, pak Basyir. “Halo, pak Baysir ya… Pak, ini Eliza, besok aku dan teman temanku mau menginap di vila, tolong siapkan kamarku dan kamar di seberangnya ya, yang lain nggak usah.”. Pak Basyir menjawab, “Beres non Liza, aduh, senangnya bapak bisa lihat non Liza lagi…”. Aku segera memotong kata kata pak Baysir yang mulai melantur ini, “Ya sudah, terima kasih pak”.
Aku cepat cepat memutus pembicaraan ini dengan gelisah, membayangkan besok saat aku menginap di vila keluargaku, berarti aku mau tak mau pasti bertemu dengan pak Basyir. Jujur saja aku bahkan masih merasa panas dingin kalau teringat aku dipermainkan oleh pak Basyir sampai aku tak kuat dan memohon mohon untuk diantar menuju orgasme, dan aku masih teringat jelas, di hari terakhir sebelum pulang aku malah membuang harga diriku dan menyerahkan tubuhku pada penjaga vilaku yang sudah tua itu.
Tapi aku tak mau memperlihatkan kegelisahanku kepada mereka. Aku berusaha tersenyum pada mereka. “Ya udah, besok kita berangkat. Tapi mobilku kan nggak cukup kalau diisi kita semua, bagaimana ini?”, tanyaku pada mereka. “Tenang aja, Eliza. Aku bisa bawa mobilku, jadi kita bawa dua mobil ke sana. Rumah Rini kan dekat Jenny, jadi kamu jemputin Jenny dan Rini aja El. Nanti aku jemput Siany dan Bella, terus kita ketemuan di hotel Surya dulu ya, vilamu kan dekat sana El”, kata Sherly panjang lebar.
“Iya boleh”, aku mengangguk setuju. Rini bertanya, “Besok kan kita pulang lebih awal, jadinya kita berangkat jam berapa?”. Siany langsung menyambung, “Sebaiknya nanti malam kita sudah bersiap siap, besok jam satu siang kita langsung berangkat, jadi kita nggak kemalaman waktu sampai di vila nanti”. Bella yang kutu buku itu bertanya juga, “Kita nggak perlu bawa bantal guling tambahan?”. Aku langsung melarangnya, “Nggak usah Bel, di sana ada cukup bantal guling juga selimut buat kita semua”.
Maka semua sudah diputuskan, besok kami akan berangkat setelah makan siang. Rini, Siany dan Bella berpamitan pulang duluan pada kami. Jenny sendiri sudah menelepon sopirnya, “Pak Hari, aku nggak usah ditunggu, aku nanti pulang sekolah ikut temanku saja, soalnya ada perlu nih… … ya sudah, makasih pak”. Lalu dengan riang Jenny berkata padaku, “El, abis ini temani aku beli camilan buat besok ya”. Aku sudah kembali terbawa oleh sikap Jenny yang riang ini, dan aku mengangguk senang.
Ketika aku berdiri, Sherly juga berdiri dan menggandeng tangan kananku, sedangkan Jenny juga sudah menggandeng tangan kiriku, dan kami semua berjalan keluar dari kelas ini. Selain Jenny, kini Sherly juga sudah menjadi teman akrabku sejak tiga minggu yang lalu ketika aku mengantarkan buku titipan Jenny, dimana Sherly waktu itu bahkan sudah akan menelanjangiku. Hal ini sempat membuatku teringat akan perkosaan yang brutal terhadap diriku setelahnya di hari itu juga, oleh 9 anak SMP dan 3 anak STM itu.
Tapi kedua temanku ini tentu tak pernah mengetahui kalau aku sejak tadi selain gelisah membayangkan nasibku besok malam di vila, aku juga gelisah melihat Girno, satpam sekolah kami yang mondar mandir di lorong depan kelasku ini, dan sesekali ia menatapku dari sana. Maka ketika kami berpapasan dengan Girno yang menatapku dengan pandangan lapar, aku hanya menundukan kepalaku dengan tegang mengikuti gandengan Jenny dan Sherly, aku sungguh takut Girno akan berbuat macam macam.
Untung saja tak terjadi apa apa sampai kami semua tiba di luar sekolah. Aku akhirnya sudah tiba di depan mobilku. “Ya sudah El, aku pulang dulu ya”, kata Sherly sambil mencium pipiku. “Iya Sher, see you”, jawabku dengan muka yang terasa panas. Apalagi ketika di dalam mobil, Jenny menggodaku, “Cieee.. mesra amat Sherly dengan kamu, El?”. Aku menunduk malu, dan menjawab, “Mana aku tahu Jen?”. Jenny tertawa sambil menggodaku, “Sherly jatuh cinta sama kamu kali, El”.
Aku segera mengalihkan topik yang gawat ini, “Ah kamu ada ada aja Jen. Udah ah, kita kemana nih?”. “Kita ke Bonnet aja Jen, beli camilan yang banyaaak sekali, jadi kita nggak bakal mati kelaparan di vila besok”, kata Jenny dengan lucu, membuatku tertawa geli. “Ya nggak sampai mati kelaparan lah Jen, paling juga kita cuma mati kebosanan”, godaku. Jenny tertawa dan menyambung, “Tapi kan jadinya nanti kita tetap mati di vila? Nggak deh. Ya udah ayo kita berangkat El”.
Aku segera menjalankan mobilku ke Bonnet, menemani Jenny memborong banyak sekali makanan dan minuman ringan, dan setelah kami membayar semua belanjaan yang sampai harus dibungkus dalam 4 plastik besar ini, aku mengantar Jenny pulang ke rumahnya. “Ya udah, see you Eliza”, pamit Jenny padaku. “See you Jenny”, aku juga pamit padanya dan menjalankan mobilku ke rumah. Aku harus segera menyiapkan perlengkapan untuk berlibur ke vila besok.
Sampai di rumah, semua belanjaan itu tidak kuturunkan, karena toh besok harus kubawa juga. Aku turun dari mobil, dan aku menggeleng gelengkan kepalaku saat melihat Wawan dan Suwito yang sudah mendekatiku dan menyergapku di garasi ini. Perbuatan mereka menunjukkan kalau tak ada siapa siapa di rumah, dan aku hanya pasrah mengikuti kemaua mereka saat aku digiring ke kamar mereka berdua. “Kalian ini, nggak bisa kali ya melihat aku menganggur?”, aku mengomel pada kedua pembantuku ini.
“Habis, siapa suruh nona kok cantik begini”, Wawan menggombal. “Kurang ajar!, Terus memangnya kalau aku cantik itu berarti salahku? Dan kalian jadi boleh berbuat begini padaku mmpph…”, omelanku yang kulontarkan dengan pura pura ini terputus ketika Suwito sudah melumat bibirku dengan gemas. Tak lama kemudian baju dan rok seragam sekolahku, berikut bra dan celana dalamku sudah berserakan di lantai, dan Dan begitu aku terbaring di kasur, Wawan dengan tak sabar sudah berada dalam posisi siap tempur.
Kedua pahaku diangkat ke atas dan dipeluk oleh Wawan, lalu dengan cepat ia membenamkan penisnya dalam liang vaginaku, membuatku melenguh pelan menahan rasa nikmat ini. “Non Eliza sendiri… yang membuat kami tambah bernafsu gini… pakai pura pura ngomel segala… nih…”, kata Wawan di antara dengusannya, ia menatapku dengan gemas penuh nafsu saat menghunjamkan batang penisnya kuat kuat.
“Annnnghhhh…”, aku mengerang keenakan dengan manja, sedikit rasa sakit yang yang bercampur dengan kenikmatan yang melanda selangkanganku ini memaksa tubuhku menggeliat. Suwito memanfaatkan terbukanya mulutku saat aku mengerang tadi, ia langsung menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Dengan erangan dan lenguhan tertahan, aku kembali harus menjadi budak seks mereka berdua, hal yang sudah biasa terjadi kalau aku pulang saat tak ada papa, mama ataupun kokoku di rumah.
“Mmmppphh…”, aku merintih keenakan saat Wawan makin kencang memompa liang vaginaku. Tubuhku mulai bergetar, sementara Suwito sendiri sudah melenguh lenguh, “Onnnggghhhh.. non Elizaaa….”, penisnya berkedut dan menyemburkan spermanya dalam mulutku. Aku menelan semuanya, menjilati dan menyedot penis itu sampai Suwito mengejang ngejang dan melolong lolong minta ampun, dan begitu aku menghentikan seruputanku pada penis itu, Suwito ambruk lemas ke lantai.
Dan kini Wawan menggenjotku dengan bebas, membuatku terus dihajar badai kenikmatan, dan ketika akhirnya Wawan menyemprotkan spermanya dalam liang vaginaku, aku sudah dibuatnya orgasme sampai dua kali. Dengan lemas, aku membuka mulutku dan mengulum penis Wawan. Setelah kubersihkan penisnya pembantuku yang keranjingan ini, aku berdiri meskipun betisku rasanya pegal, lalu kupungut baju seragamku dan kukenakan di depan mereka. Aku mengancingkan bajuku dengan gerakan perlahan.
Sesekali aku melihat mereka berdua, dan aku tahu mereka meskipun masih lemas karena baru ejakulasi, nafsu mereka sudah kembali menggelora melihat amoy cantik yang telanjang di depan mereka sedang mulai berpakaian. Setelah semua kancing bajuku terpasang, aku mengenakan rok seragamku, sengaja aku berlama lama saat menarik rok itu ke atas pinggang, membiarkan mereka melotot melihat paha mulusku yang perlahan tertutup oleh rok abu abu ini.
“Sudah, aku naik dulu.. dasar kalian ini..”, aku menggerutu dengan suara manja, dan aku sengaja menatap mereka berdua dengan pandangan menggoda, hingga mereka berdua melihatku dengan makin bernafsu. Sengaja aku tak mengenakan bra dan celana dalamku, yang kini baru kupungut dari lantai, lalu aku sengaja memutar tubuhku ke arah luar kamar hingga rambutku berkibar mengikuti gerakan kepalaku, yang aku tahu hal ini merupakan pemandangan yang terlalu indah dan sexy buat mereka berdua.
“Wan.. nona kita itu kok bisa cantik kayak gitu ya?”, kudengar suara Suwito, lalu kudengar Wawan menambahkan, “Sudah cantik, sexy, wangi lagi… memeknya itu lho, ngangenin…”. Lalu kudengar Suwito berkata lagi, “Non Eliza itu badannya kecil, tapi kuat sekali ya, bisa tahan kita ajak main berlama lama”. Duh, memang kalo orang dapat pujian, harusnya bangga. Tapi kalau pujian yang macam begini ini, kalau sampai terdengar ke telinga orang luar, mau ditaruh di mana mukaku ini?
Aku mempercepat langkahku, mukaku rasanya panas, dan aku menggigit bibir sambil tersenyum malu mendengar percakapan mereka. Sampai di kamar mandi, aku keramas dan membersihkan seluruh tubuhku, dan yang pasti juga liang vaginaku. Setelah mengeringkan rambutku dan juga tubuhku, aku memakai baju santai dan menyalakan AC kamarku karena rasanya panas. Lalu aku mengepak bajuku secukupnya dan keperluanku ke dalam tas, dan tas ini kusembunyikan di dalam lemariku.
Hal itu kulakukan karena aku takut kalau sampai kedua pembantuku yang keranjingan ini tahu aku akan pergi menginap selama 3 hari 2 malam di tretes, aku bisa diperkosa mereka sampai pagi. Aku lalu berbaring di ranjangku, rasanya malas untuk turun makan siang. Dan mungkin karena aku baru saja disuapi sperma Suwito yang berejakulasi di dalam mulutku saat kuoral tadi, juga tambahan sedikit sisa sperma di penis Wawan yang berejakulasi dalam liang vaginaku, jadi aku tak merasa begitu lapar.
Maka aku memilih tidur siang, mengistirahatkan tubuhku yang baru dipakai oleh kedua pembantuku untuk memuaskan hasrat mereka. Mungkin salahku juga tadi telah menggoda mereka dengan keterlaluan, dan aku harus membayar perbuatanku tadi karena aku lupa mengunci pintu kamarku. Rasa nikmat pada selangkanganku perlahan menyadarkanku dari tidur. Kurasakan liang vaginaku terbelah oleh sebatang penis yang amat keras, dan penis itu terus melesak masuk, membuatku menggeliat perlahan.
“Ngghh.. Wan… kamu itu memang kurang ajar kok… oooh…”, aku mulai mengomel di antara lenguhan dan desahanku, ketika aku sudah benar benar terbangun dan melihat Wawan yang sedang asyik memompa liang vaginaku. Kulihat jam di kamarku, sekarang sudah setengah lima sore. Oh.. lama juga tadi tidur siangku. “Habis enak sih non Eliza”, jawab Wawan dengan penuh nafsu. Suwito yang baru datang, seperti biasa mendekatiku dan meminta servis oralku. Aku hanya bisa pasrah melayani mereka berdua yang baru berhenti menggumuliku ketika mendengar deru mesin mobil orang tuaku di garasi.
Keduanya meninggalkanku yang masih tergolek lemas di atas ranjangku. Dengan malas aku bangkit dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi keramas, juga membersihkan liang vaginaku. Setelah aku mengeringkan rambutku dan tubuhku, aku memakai baju tidur dan turun untuk menyapa papa mama dan kokoku, sekaligus makan bersama. Di sela sela saat makan, aku menyampaikan maksudku untuk berlibur bersama teman temanku ke vila besok selama tiga hari. Papaku menanda-tangani surat permohonan yang aku buat untuk meminta ijin tidak masuk pada hari Senin besok ini.
Setelah selesai makan, mamaku memanggilku sebentar. “Iya ma?”, aku bertanya ketika aku sudah berada di depan mamaku. “Eliza, ini buat kamu liburan besok”, kata mamaku sambil memberikan sejumlah uang padaku. “Duh, terima kasih maa… Eliza tidur dulu ya ma”, aku memeluk mamaku yang tersenyum melihatku begitu senang, dan aku mencium kedua pipinya dengan rasa terima kasih. Lalu aku kembali ke kamarku. Aku belum begitu capai ataupun mengantuk, tapi aku tahu aku harus menyimpan tenaga, karena besok aku pasti akan jatuh ke dalam cengkeraman penjaga vilaku itu.
*****
Aku sedang saling mengganggu dengan Jenny di kantin sekolah ketika bel tanda berakhirnya jam istirahat yang kedua ini berbunyi. Kami masuk ke dalam kelas dengan riang, karena hari ini sekolahku memberlakukan jam pendek, 30 menit saja untuk setiap jam pelajaran. Setelah jam istirahat yang ke dua ini, tinggal dua jam pelajaran saja, yang artinya kami akan pulang satu jam lagi. Dan kelas kami makin kacau ketika guru yang mengajar kimia menyuruh kami belajar sendiri.
Aku, Jenny, Rini, Siany dan Bella mengobrol tentang rencana kami nanti sore. Selagi kami mengobrol, tiba tiba pak Edy, wali kelas kami yang sekaligus guru geografi itu masuk ke dalam kelas. Kami semua langsung diam, karena wali kelas kami ini termasuk galak. “Anak anak, jangan terlalu ribut, nanti kalian mengganggu kelas lain! Jam pelajaran saya yang berikut ini, kalian belajar sendiri”. Maka kembali semua teman temanku bersorak senang, hanya aku yang bersikap cuek, aku memang muak pada wali kelasku ini.
“Eliza, saya minta kamu segera menuju ke ruangan saya. Ada beberapa hal tentang bazar yang diadakan mulai besok Senin ini, yang bapak ingin bahas dengan kamu selaku bendahara kelas!”, kata pak Edy kepadaku. Jantungku berdegup kencang, dan aku menjawab, “Iya pak”. Aku berdiri mengikuti Pak Edy, entah kenapa aku punya firasat buruk. Sampai di ruangan pak Edy mempersilakanku untuk duduk. Aku menurut saja walaupun jantungku terus berdegup kencang.
“Pak, apa apaan ini?”, tanyaku panik ketika pak Edy mengunci pintu ruangannya, lalu duduk di kursinya. Ia menatapku dan bertanya, “Eliza! Kamu tahu salahmu?”. Aku menggeleng perlahan. “Tidak tahu pak… Apa saya pak? Saya sungguh tidak mengerti”, jawabku dengan bingung. Pak Edy berkata, “Saya tahu dari temanmu Siska yang juga wakil bendahara di kelas, bahwa kamu besok Senin hendak membolos”.
Aku amat terkejut, “Lho pak, Senin besok itu kan cuma bazar, dan bazar itu tiga hari lamanya. Harusnya tidak apa apa kan pak, jika saya tidak datang sehari saja?”. Tapi pak Edy terus menekanku, “Tidak apa apa Eliza, kalau kamu bukan staff kelas. Kamu ini ketua bendahara kelas! Kalau hari itu kelas membutuhkan dana untuk keperluan bazar, siapa yang bertanggung jawab?”.
Aku merasa alasan itu terlalu dibuat buat oleh wali kelasku ini. “Pak, justru itu kan saya sudah menitipkan buku dan kas kelas pada Siska selaku wakil bendahara. Lagipula, Selasa saya kan sudah masuk”, aku coba menjelaskan. “Tidak sesederhana itu Eliza. Kalau saya memberikan ijin, nanti itu akan jadi perseden buruk buat yang lain. Bisa saja nanti ketua koordinator yang mengatur stan kelas kita seenaknya minta ijin seperti kamu, dan menyerahkan pada wakilnya! Mau jadi apa stan kita di acara bazar nanti?”.
“Pak, itu kan lain. Keberadaan ketua koordinator itu memang penting, karena dia yang mengerti apa saja kebutuhan untuk mengatur keberadaan stan. Kalau saya kan cuma bendahara, yang jelas sekali tak ada kaitannya dengan bazar besok. Kalaupun memang ada dana yang diperlukan, saya kira juga tidak segawat itu kalau saya tidak ada. Lalu perlu apa ada wakil bendahara kalau saya harus selalu ada? Lagipula pak, saya keberatan jika bapak bilang saya membolos, itu kan surat permohonan saya yang sudah ditanda tangani orang tua saya?”, aku mulai terbawa emosi dan berkata dengan nada keras.
“Tidak bisa! Saya sudah memutuskan, kalau kamu harus hadir besok Senin. Saya punya hak untuk menolak surat permohonan kamu, dan orang tuamu akan saya telepon sekarang juga, supaya mereka bisa membantu saya memastikan kamu datang besok Senin!”, kata pak Edy, dan ia sudah mengangkat telepon di mejanya. Aku mulai panik, terbayang acara liburan yang berantakan gara gara wali kelas sialan ini. “Pak Edy, saya mohon, biarkan saya minta ijin untuk satu kali ini saja pak”, kataku dengan memelas.
Pak Edy meletakkan gagang telepon, lalu menatapku dalam dalam. “Kenapa saya harus menuruti keinginan kamu Eliza? Apa untungnya buat saya”, tanya pak Edy. Pertanyaan ini membuatku tersudut. “Apa yang bapak inginkan?”, tanyaku dengan suara pelan, aku sudah bisa menebak apa yang diinginkan wali kelasku yang bejat ini. “Eliza, saya cuma memberikan kamu satu kesempatan untuk memberikan tawaran yang sekiranya bisa menyenangkan saya..”, tanya pak Edy sambil menyeringai mesum.
Jantungku berdegup kencang, aku tahu aku harus memberikan penawaran terbaikku. “Baiklah pak…”, aku memejamkan mata sesaat untuk menguatkan hatiku, lalu aku berdiri, dan mulai melepas kancing baju seragamku satu per satu. Kulepaskan baju seragamku dan juga bra yang membungkus payudaraku. Lalu saat aku melanjutkan melepas rok seragamku, pak Edy berdiri, rupanya ia sudah tak sabar lagi dan mendekatiku. Kedua payudaraku yang sudah tak terlindung bra ini diremas dengan kasar oleh pak Edy.
Aku menggigit bibir dan memejamkan mata menahan sakit, sambil terus melepas rok seragamku. Ketika aku sudah membungkuk untuk melorotkan celana dalamku, keadaan menjadi lebih buruk. Tiba tiba aku melihat sebatang penis sudah mengacung tegak ke arah mulutku, dan aku tahu siapa pemilik penis berukuran raksasa itu, Girno, satpam sekolahku yang akhir tahun lalu merenggut keperawananku di UKS. Dengan marah aku menoleh ke pak Edy yang masih asyik meremasi kedua payudaraku dari belakang.
“Apa apaan ini pak Edy? Aah… Mmpphh…”. Kata kataku tersumbat ketika Girno sudah menolehkan kepalaku menghadap selangkangannya, lalu menahan kepalaku dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Aku hanya bisa mengerang tak jelas ketika penis raksasa itu mulai menyodok sampai ke tenggorokanku. Girno mengerang keenakan, sedangkan aku amat menderita. Dalam hati aku mengutuk pak Edy, dasar guru biadab, masa sampai hati menjebakku dan memperkosaku bersama satpam sekolah?
Pak Edy menghentikan remasannya pada kedua payudaraku, aku tahu ia pasti sedang melepas celananya, untuk memamerkan keimpotenannya itu. Aku yang sekarang dalam keadaan menungging, tak perduli ketika merasakan penis pak Edy yang tentu saja masih tetap kecil dan agak lembek itu kesulitan untuk menembus liang vaginaku. Mungkin karena tak cukup keras, jadi pak Edy kesulitan menerjangkan penisnya, tapi ia terus berusaha sambil mengeluh, “Kok nggak bisa masuk ya?”.
Mungkin jika aku tidak sedang sangat kesal oleh kebiadaban pak Edy, dan juga menderita oleh sodokan penis Girno yang memompa tenggorokanku, aku bisa tertawa geli karena ulah pak Edy yang konyol ini. Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya penisnya yang sedikit lebih tegang daripada waktu pertama berusaha tadi berhasil membuka bibir vaginaku. Perlahan penis yang pendek itu masuk membelah liang vaginaku, dan pak Edy mengerang keenakan.
Mungkin karena pendek, kecil dan sedikit empuk, genjotan yang dilakukan pak Edy ini tak begitu mempengaruhiku. Dan untung saja, pak Edy masih tetap pak Edy, tak sampai tiga menit, ia sudah mengerang panjang, “Oooohh…”. Penisnya yang baru berkedut itu langsung menyemburkan sperma membasahi liang vaginaku. Lalu wali kelasku yang tak bermoral ini menarik lepas penisnya.
Aku tak tahu apa yang dia lakukan, karena mataku sudah mulai berkunang kunang, sulit sekali bernafas dalam keadaan tenggorokanku dipenuhi penis raksasa ini. Untungnya, melihat vaginaku sudah menganggur, Girno menarik penisnya dari mulutku. Aku jatuh berlutut dan terbatuk batuk sambil memegangi leherku, sakit sekali rasanya tenggorokanku. Tapi aku tak bisa beristirahat, Girno segera membalikkan tubuhku hingga aku terbaring telentang, dan ia berkata, “Giliranku, non Eliza!”.
Lalu dengan tanpa belas kasihan sama sekali, penis berukuran raksasa itu diterjangkan Girno ke dalam liang vaginaku. Aku mengerang panjang kesakitan. Meskipun sudah ada cairan sperma pak Edy yang seharusnya sudah cukup membantu melumasi liang vaginaku, tapi tetap saja penis sebesar milik Girno ini amat menyiksaku, rasanya tubuhku seperti dirobek jadi dua bagian, kepalaku seperti mau pecah saja.
“Paaak… tolong pelan pelan pak…”, keluhku, dan Girno melambatkan irama sodokannya, hingga aku perlahan mulai bisa beradaptasi. Setelah rasa sakit di liang vaginaku mulai berkurang dan mulai timbul rasa nikmat, tanpa sadar aku mulai melenguh. “Ngggh.. aduuh…”, aku melenguh ketika merasakan berulang kali dinding rahimku terkena ujung penis Girno yang mentok sampai ke dalam. Aku mulai menggeliat keenakan, walaupun aku mulai ngeri melihat Girno menatapku dengan amat bernafsu.
“Dari kemarin…”, kata Girno sambil menghunjamkan penisnya dengan gemas. “Ngghh…”, aku melenguh. “Melihat kamu… di kelas…”, sambung Girno sambil menarik penisnya sampai tinggal kepala penisnya yang terjepit liang vaginaku hingga aku menggeliat. “Menunggu kamu sampai lama…”, kata Girno dengan gemas dan penisnya kembali menghunjam dalam dalam. “Aduuuuh…”, aku merintih antara keenakan dan kesakitan, dan aku teringat kalau kemarin memang Girno sempat memandangiku dari luar kelas.
“Kamu tahu kan…”, Girno terus menyiksa diriku, ia menarik penisnya sampai sebatas kepala penisnya. Dan tanpa memperdulikan aku yang hanya bisa merintih, lagi lagi penis itu menghunjam begitu dalam saat Girno berkata, “Kalau aku sudah sangat kepingin memek kamu?”. Aku menggeliat hebat dan melenguh, “Ngghh… ampun paak…”. Aku mulai kehilangan kesadaran dan sudah tak bisa mendengar dengan jelas lagi, aku hanya bisa melenguh saat Girno entah meracau tentang apa sambil terus membuat tubuhku tersentak sentak mengikuti irama hunjaman demi hunjaman penisnya ke dalam liang vaginaku
Entah berapa lama Girno menyiksaku seperti ini, sampai aku merasakan otot vaginaku mengejang dengan hebat, dan tanpa ampun lagi akhirnya aku berkelojotan, kedua betisku melejang lejang. “Ngggghhh… nggghhhh…”, lenguhanku entah mungkin bisa terdengar sampai ke luar ruangan ini, tapi aku sudah tak mampu menahan kenikmatan yang melanda vaginaku, rasanya cairan cintaku di dalam sana membanjir tak karuan mengiringi orgasme ini. Nafasku hampir putus rasanya, dan aku merasa amat lelah.
Orgasme yang baru saja melandaku ini membuatku lemas, dan untungnya Girno langsung orgasme beberapa detik kemudian. Penisnya berkedut keras, dan siraman spermanya dalam rahimku seperti meringankan rasa pedih yang sempat melanda vaginaku ini. “Oooh.. enaknya… kesampaian juga akhirnya sejak kemarin kepingin menikmati memek kamu, Eliza..”, kata Girno dengan nafas tersengal sengal. Aku tak menanggapinya, dan mengumpulkan segenap kekuatanku lalu berdiri.
“Pak Edy, sekarang tolong jangan persulit saya pak. Bapak tadi sudah berjanji”, kataku dengan memohon. Dengan senyum yang menjijikkan, pak Edy berkata, “Cium bapak dulu Eliza, dan kamu boleh pergi”. Aku yang sudah kepalang tanggung, menuruti permintaan guru bejat ini, kucium bibirnya dan bau mulutnya yang tak enak segera menyerangku, juga payudaraku diremasnya dengan kuat. Tapi aku bertahan sekuat tenaga supaya tidak muntah. Dan setelah dia puas, selesailah penderitaanku di ruang kerja pak Edy ini.
Aku mengambil tissue, dan melap cairan sperma yang belepotan di selangkanganku. Sebenarnya ingin kulemparkan tissue yang baru kupakai itu ke muka pak Edy, tapi aku tak ingin mendatangkan masalah. Dengan sebal kubuang tissue itu ke tong sampah, lalu aku mengenakan bra dan celana dalamku, juga baju dan rok seragamku. “Terima kasih pak, saya keluar dulu”, aku berpamitan, terpaksa sopan. “Terima kasih kembali Eliza, terutama buat servisnya”, kata pak Edy dengan gaya mesumnya, diiringi tawa Girno.
Aku melangkah keluar dari ruangan wali kelasku, dengan langkah yang kuusahakan sewajar mungkin. Rasa sakit pada selangkanganku belum terlalu reda, dan masih cukup mengganggu saat aku harus melangkahkan kedua kakiku ini. Aku tahu penampilanku pasti berantakan setelah perkosaan tadi, dan aku tak boleh membiarkan hal ini memancing pertanyaan dari teman temanku. Untung saja semua orang masih ada di dalam kelas, jadi aku bisa segera ke toilet tanpa ada yang melihat keadaanku.
Aku merapikan diriku sebentar lalu melihat jam tanganku. Tinggal sepuluh menit lagi, bel pulang sekolah akan berbunyi. Berarti aku tadi diperkosa lebih dari setengah jam. Entah apa dosaku harus menerima semua ini. Hampir saja aku menangis, tapi aku cepat cepat menenangkan diri, lalu kembali ke kelasku. Aku melihat Jenny dan yang lain masih asyik ngobrol dengan seru, tapi kini aku tak begitu tertarik untuk ikut mengobrol lagi.
“Hai.. lama amat kamu El?”, tanya Rini ketika melihatku berjalan ke arah mereka. Dengan senyum yang kupaksakan, aku cepat mencari alasan, “Iya tuh, tadi sekalian membahas tentang perlu tidaknya menarik kas lebih dari kita kita, buat jaga jaga seandainya ada dana yang diperlukan stan kelas kita saat bazar nanti”. “Dasar mata duitan. Iuran bulanan untuk kas kelas kita itu sudah yang paling besar di antara semua kelas. Bukannya dana di sana pasti sudah banyak?”, omel Siany.
Rini dan Bella hanya geleng geleng kepala, sedangkan Jenny diam diam menggenggam tanganku di bawah meja, dan ia memandangku iba. Aku teringat kalau aku pernah menceritakan perkosaan yang menimpaku di UKS dulu pada Jenny, jadi mungkin Jenny tahu apa kira kira yang baru saja terjadi padaku. Lalu ia berusaha mengalihkan pembicaraan, “Sudalah, ngapain juga kita bicarain hal ini.. Oh iya, kalian nggak ada yang lupa bawa pakaian renang kan?”.
Rini menjerit kecil, “Aduh iya Jen. Duh, untung kamu bilang”. Baru saja kami sudah terlibat obrolan seru, yang mana membantuku melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpaku, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah pembacaan doa dari interkom selesai, kami segera meninggalkan kelas. Bahkan saat ini pun, rasa sakit masih mendera selangkanganku saat aku berjalan. Maka aku berjalan agak pelan, dan Jenny yang menemaniku tiba tiba menggandeng tangan kiriku, seakan ingin menguatkan diriku.
Aku tersenyum penuh terima kasih pada Jenny, dan kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Kebetulan tadi sopirnya Jenny memarkirkan mobilnya Jenny di sebelah mobilku. Saat akan melepaskan gandengan tangannya, Jenny berbisik lembut padaku, “Eliza, nanti di vila kamu jangan jauh jauh dari aku ya.. aku akan jagain kamu dari penjaga vilamu”. Aku memeluk Jenny, “Thanks ya Jen.. kamu baik sekali”. Setelah itu kami saling berpamitan, dan masuk ke mobil masing masing.
Ketika mobil Jenny sudah jauh dari sini, aku masih diam, memikirkan apa aku sebaiknya langsung pergi saja daripada pulang ke rumah, toh tasku sudah ada di belakang sini, jadi aku sudah bisa berangkat sekarang kalau mau. Hampir bisa dipastikan, aku akan seperti menyerahkan diriku untuk digangbang di rumah oleh kedua pembantuku jika aku pulang sekarang, dan aku sedang sangat tidak mood setelah tadi terpaksa memilih diperkosa oleh wali kelasku.
Sedangkan pergi ke rumah Jenny juga bukan pilihan yang bagus, bisa saja nanti buruh buruh di rumah Jenny beraksi, dan aku akhirnya memutuskan untuk jalan jalan ke Tunjungan Plaza, sekalian makan siang di sana. Di sana aku hanya berjalan tak tentu arah sampai akhirnya aku makan siang, baru aku pergi menuju ke rumah Jenny. Sampai di sana, aku melihat jam, sudah jam satu kurang sedikit, dan aku belum melihat tanda tanda Jenny. Maka aku turun, hendak memencet bel pintu rumah Jenny.
Tiba tiba kudengar klakson mobil, yang ternyata mobil papa mamanya Jenny. Maka aku tak jadi memencet bel pintu, dan menyapa kedua orang tua Jenny. “Suk, Ai..”, aku menyapa sambil mengangguk sopan, dan mereka juga menyapaku dengan ramah, “Halo Eliza…”. Aku melanjutkan berbasa basi sebentar, “Eliza mau ajakin Jenny pergi, apa Jenny udah bilang sama Suk Suk atau Ai?”.
Mamanya Jenny menjawab, “Oh sudah kok, Eliza. Kalau sama kamu, Ai sih pasti boleh, tapi nanti kalian di sana jangan tidur terlalu malam ya, jaga kesehatan, nanti pulang pulang malah sakit”. “Iya Ai, makasih ya Ai”, kataku sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian Jenny keluar membawa tasnya, dan menyapa papa mamanya sekalian pamitan, “Pa.. Ma.. pergi dulu ya..”. Aku juga sekalian pamitan pada mereka berdua. “Hati hati ya kalian. Jenny, kamu jangan gangguin Eliza kalo sedang nyetir!”, kata papanya Jenny.
Jenny terus masuk ke mobilku sambil menjawab, “Iyaaa beres paaaa…”. Aku tersenyum geli dan setelah melambaikan tangan pada kedua orang tua Jenny, aku masuk ke dalam mobil. “Yuk berangkat”, kata Jenny. Aku segera menjalankan mobilku ke rumah Rini, yang kira kira sekitar tiga kilometer dari sini. Jenny tiba tiba mengeluh dan memegangi payudaranya yang sebelah kanan, “Aduh El.. sakit nih…”. Ia memandangku dengan memelas.
Aku sempat bingung, tapi aku segera bisa mengira apa yang baru saja terjadi pada temanku ini. “Mereka lagi ya Jen?”, tanyaku dengan iba. Aku tahu buruh buruh Jenny itu “Iya lah El.. siapa lagi.. liat nih..”, gerutu Jenny sambil membuka dua kancing bajunya, lalu menyingkap bajunya di bagian payudaranya yang kanan. Aku melihat memang banyak merah merah bekas cupangan di sana sini, dan aku menggigit bibir membayangkan tadi itu sakitnya seperti apa.
“Untung tadi kedengaran klakson mobil papaku, jadi mereka berhenti sebelum makin menyakitiku. Lihat nih El.. puting susuku digigiti mereka.. sakit nih…”, kata Jenny dengan manja, ia kini menyingkapkan branya dan memperlihatkan semua payudaranya kanannya. Aku melihat payudara Jenny yang sebelah kanan ini, dan sempat memperhatikan bentuk puting payudara yang mungil dan lucu itu.. tapi…
“Ya ampun Jen?? Kok kamu buka di sini sih??”, aku baru sadar apa yang sedang dilakukan Jenny, dan aku cepat cepat melihat ke depan. Untung saja tak ada siapa siapa, karena kami memang sudah memasuki kompleks perumahan dimana Rini tinggal. “Iya nih, aku lupa El, abisnya aku cuma mau nunjukin ke kamu aja, nanti kalo ada Rini kan nggak enak..”, kata Jenny dengan manja sambil menutupkan bra dan bajunya kembali. Entah kenapa, jantungku berdegup kencang dan mukaku terasa panas.
Aku tak yakin, hal ini apa karena aku baru saja melihat payudara Jenny, atau karena kata kata Jenny yang manja tadi itu. Tapi aku berusaha tak memikirkannya lagi, apalagi kami sudah sampai di rumahnya Rini yang sudah menunggu dengan sebuah tas besar di depan pintu. Setelah ia masuk ke dalam mobil dan saling menyapa dengan aku dan Jenny, aku segera melajukan mobilku, menuju ke hotel Surya di Tretes.
*****
Perjalanan ke Tretes yang hampir dua jam ini sama sekali tak terasa, karena dengan ikutnya Jenny yang memang selalu pandai membawa keceriaan ini di mobilku, kami bertiga selalu terlibat obrolan lucu maupun gossip. Akhirnya kami sampai di hotel Surya, dan ketika kami berputar putar di parkiran, Sherly yang sudah menunggu kami segera membunyikan klakson mobilnya, dan turun dari mobilnya. Aku mendekatkan mobilku ke sana, lalu kami semua turun dari mobil.
“Gimana, kalian mau langsung ke vila, atau mau bersenang senang di sini dulu?”, aku bertanya pada teman temanku. “Kita langsung ke vilamu saja El. Nanti kalau mau ke sini agak sorean juga bisa”, kata Sherly. “Ya udah, kalo gitu ikutin aku ya Sher, kita ke arah Tretes Raya, dan terus ke bawah dikit, vilaku di sebelah kanan jalan”, kataku. “Sip deh bos”, Sherly mengedipkan matanya padaku sambil tersenyum, dan diam diam aku mengakui Sherly ini cantik sekali, dan aku balas tersenyum padanya.
Kami semua masuk ke dalam mobil, dan Sherly mengikutiku dari belakang ketika aku menjalankan mobilku ke arah vilaku. Ketika sampai, aku tak perlu menekan klakson, karena penjaga vilaku sudah menanti di pintu gerbang yang dia buka lebar lebar. Aku terus melaju memarkirkan mobilku di tempat yang biasa, dan Sherly juga memarkirkan mobilnya di sebelah mobilku. Begitu kami semua turun dari mobil, celoteh riang yang amat ribut dari mereka semua segera terdengar.
Aku tersenyum geli, membayangkan kalau sampai kami berenam sekelas, entah bakal ribut seperti apa kelas kami saat jam kosong. Aku segera membuka pintu utama, dan mereka semua masuk sambil membawa barang barang mereka. “Gimana nih, yang semobil tetap sekamar, atau diseling biar nggak bosan? Atau… kita undi saja!”, usul Jenny. Ada ada saja ini anak, tapi ide Jenny memang selalu menarik, dan semua setuju untuk mengundi di kamar mana mereka nanti akan tidur.
Jenny mengambil pensil dan kertas dari tasnya, dan kertas itu dibaginya menjadi enam potongan kecil, dan tiga potong di antaranya ditulisi huruf A dan tiga potong sisanya ditulisi huruf B. Lalu semua potongan kertas itu digulung oleh Jenny, dan dimasukkan ke dalam kantung baju seragamku. Aku jadi teringat, aku memang masih pakai baju seragam sekolah, karena tadi aku tidak pulang dulu.
“Nah, sekarang semua ambil sepotong, kalau dapat A, tidur di kamar yang di sebelah kiri”, kata Jenny sambil menunjuk kamar yang biasa kupakai. “Dan yang dapat B tidur di teras, hahahaha..”, celetuk Sherly dan kami semua tertawa. “Aku duluan ya”, kata Jenny. Ia memasukkan tangannya, mengaduk aduk gulungan kertas pada bajuku. Tentu saja tangannya berkali kali menyenggol payudaraku yang kiri ini, hingga aku menggigit bibir menahan diri supaya tidak mendesah, nafasku menjadi lebih berat.
“Aku dapat B nih”, kata Jenny saat membuka gulungan kertas yang dia ambil dari kantung bajuku. Berikutnya Siany dan Bella yang merogoh kantung bajuku, mereka tidak sampai mengaduk aduk gulungan kertas ini seperti Jenny, namun tetap saja aku merasa gesekan tangan mereka pada payudaraku yang kiri ini, dan ini membuat jantungku makin berdegup kencang. Aku menahan tangan Sherly dan mencoba melepaskan remasannya dari payudaraku, tapi aku tak mampu, rasanya lemas sekali.
Dan keadaanku jadi makin kacau ketika Sherly yang merogoh kantung bajuku. Dengan nakal Sherly meremas payudaraku. “Auwww.. Sheer…?”, aku mengeluh malu sekaligus terangsang, entah sudah merah seperti apa mukaku yang rasanya panas ini. Teman temanku tertawa geli, entah apa yang mereka tertawakan, perbuatan Sherly, atau aku yang dibuat tak berdaya oleh Sherly ini. “Udah dong Sheer…”, aku memohon pada Sherly untuk menghentikan perbuatannya, karena makin lama aku makin terangsang.
Entah setelah beberapa kali aku memohon, baru Sherly akhirnya menghentikan remasannya pada payudaraku, lalu ia mengambil satu dari dua gulungan yang masih tersisa di kantung bajuku. Aku terduduk lemas di lantai, dan Jenny ikut duduk di sebelahku lalu ia merangkulku. “Sher, kamu jahat ah. Masa Eliza mau kamu perkosa?”, Jenny menggerutu pada Sherly dengan nada bercanda, dan mereka semua tertawa, kecuali aku yang semakin malu.
“Jen… kamu ini..”, aku mulai mengomel, tapi aku terdiam saat Jenny malah membelai dan menggeraikan rambutku ke belakang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak kananku. “Tapi bukan salah Sherly sepenuhnya… salah kamu juga sih El, kok kamu bisa secantik ini… sudah cantik… kalem… baik… mm.. rambut ini halus dan wangi..”, Jenny mengguman sambil menghirup rambutku, lalu ia menatapku dengan pandangan mata yang sayu, sementara aku hanya bisa diam tertunduk malu dipuji Jenny seperti ini.
“Lho Jen, kok jadi kamu yang lesbi sama Eliza sih? Hayo.. iri ya sama Sherly?”, goda Rini. Lagi lagi semuanya tertawa sementara aku hanya bisa tersenyum malu. Kemudian Jenny berdiri dan bertanya, “Jadi gimana, siapa yang hari ini tidur sekamar denganku?”. Maka kami semua membuka gulungan kertas milik kami, dan hasilnya hari ini Jenny sekamar dengan Siany dan Rini, sedangkan aku sekamar dengan Bella dan Sherly! Oh, aku kuatir, jangan jangan nanti Sherly lupa diri dan menggumuliku di depan Bella.
Tapi… yah bagaimana nanti saja lah, selagi mereka semua masuk ke kamar yang sudah ditentukan sekaligus menaruh tas mereka, aku teringat tasku masih ada di mobil, dan aku keluar menuju mobiku yang bagasinya masih terbuka. Ketika aku mengambil tasku, kurasakan pantatku diremas oleh seseorang. Gaya meremas yang kurang ajar seperti ini, aku sudah tahu siapa pemiliknya..
“Pak Basyir…”, kataku dengan suara pelan sambil menoleh ke arahnya. “Tolong jangan menyusahkan Liza, ini kan ada teman teman, kalau kelihatan mereka gimana? Nggak lucu kan?”, sambungku dengan ketus walaupun masih dengan suara yang pelan. “Tapi non, bapak sudah kangen memeknya non.. sudah lama nih”, pak Basyir masih terus asyik meremas pantatku. “Elizaa…”, aku mendengar Jenny berseru dari dalam vila. “Iya Jeen?”, aku langsung menjawab sambil mencoba menepis tangan pak Basyir.
“Kamu di manaa?”, Jenny berseru lagi. “Aku di taman Jen, di bagasi mobil”, lagi lagi aku berseru menjawab sambil menepis tangan pak Basyir yang masih saja menggerayangi pantatku. “Kamu lagi ngapain El? Toiletnya di mana sih, temani aku dong, antarkan ke sana sebentar…”, seru Jenny yang dari suaranya aku tahu kini ia sudah ada di teras. Tentu saja hal ini menyelamatkanku walaupun untuk sementara, dan pak Basyir segera melepaskan remasan tangannya dari pantatku.
“Pak, tolong bantuin aku nih”, kataku sekalian menggunakan kesempatan ini untuk meminta bantuan pak Basyir. “Tolong bawakan tasku dan empat tas plastik ini ke kamarku ya pak, aku antar Jenny ke kamar mandi dulu”, kataku sambil meninggalkan pak Basyir, yang mau tak mau harus menuruti permintaanku. “Iya, ayo aku antar Jen”, kataku sambil berjalan mendekati Jenny. Aku tersenyum lega dan menggandeng tangan teman terbaikku ini, menunjukkan toilet utama di vilaku.
“Kamu nggak diapa apain kan sama penjaga vilamu itu El?”, bisik Jenny padaku. Aku menggeleng, “Nggak Jen, tapi nggak tahu lagi kalau kamu nggak manggil aku tadi, mungkin lama lama dia bisa ngisengin aku”. Jenny tersenyum lega, dan aku berkata dalam hati, kalau nggak terlalu parah, mungkin lebih baik aku sembunyikan dari Jenny saja. Setelah menunjukkan toilet utama pada Jenny dan Jenny melihat lihat dalamnya, kami langsung kembali ke ruang tengah, memang Jenny cuma pura pura saja mau ke toilet.
Dan saat kami sudah ada di ruang tengah, kebetulan pak Basyir baru saja menaruh plastik yang berisi makanan kecil yang kemarin dibeli oleh Jenny. “Pak, sekalian tolong tutupkan bagasi mobilku ya, terima kasih”, aku sekalian minta tolong pak Basyir supaya menutupkan bagasi mobilku, jadi aku nggak perlu keluar lagi untuk melakukan hal itu, yang mana mungkin beresiko aku akan mengalami pelecehan oleh pak Basyir seperti tadi.
Lalu tanpa memperdulikan penjaga vilaku yang sudah keluar melakukan permintaanku,, aku memasukkan tasku ke dalam kamar, aku mulai bersenang senang dengan teman temanku setelah kami mengatur semua yang diperlukan, seperti memasukkan bahan untuk memasak ke dalam kulkas dan menaruh makan ringan di meja. Aku menyempatkan diri berganti baju santai, rasanya risih juga menjadi satu satunya yang memakai baju seragam sekolah di antara kami semua.
Kami semua berkumpul di ruang tengah ini, membicarakan rencana kegiatan kami hari ini. Dan sore ini kami berjalan jalan ke atas, menikmati beberapa makanan kecil di sekitar hotel Surya dan sekitarnya. Setelah matahari benar benar tenggelam, kami membeli sate dan bakso agak banyak untuk dibawa pulang ke vila. Sampai di vila, teman temanku segera berkumpul di meja makan, sedangkan aku ke belakang sebentar untuk mengambil piring dan sendok garpu yang diperlukan.
Saat aku menumpuk piring ke enam, pak Basyir sudah ada di sebelahku. “Non Liza, jangan lupa ya non, nanti malam temani bapak”, kata penjaga vilaku ini, dan lagi lagi ia meremasi pantatku. “Apa apaan sih pak? Kenapa aku harus menemani bapak?”, aku bertanya dengan ketus. “Daripada bapak yang menemani non Liza nanti malam, kan nggak enak sama teman teman non yang lain?”, kata pak Basyir dengan nada yang penuh kemenangan.
Aku tahu memang aku tak akan bisa lolos, tapi aku tak pernah menduga pak Basyir akan mengancamku seperti ini. Aku hanya bisa menahan kesal ketika ia menyambung, “Bapak tunggu non Liza sampai jam dua malam, kalau non Liza nggak datang untuk menemani saya, terpaksa saya yang akan menemani non ke kamar”. Lalu pak Basyir meninggalkanku, ia bahkan tak membantuku mengangkat piring piring dan sendok garpu ini ke dalam.
Aku sedikit menggigil, nanti malam harus menyerahkan diriku pada pak Basyir. Kutenangkan diri sebentar, lalu masuk membawa semua yang sudah kusiapkan ini. Tak perlu membawa gelas karena semua gelas disimpan di lemari yang ada di sebelah kulkas.
Setelah semuanya siap, kami semua segera makan malam, dan celoteh riang dari teman temanku membuatku ikut larut dalam suasana ceria ini. Lalu makan dan membawa semua piring kotor ke belakang, kami bergantian mandi membersihkan diri.
Kemudian kami semua selesai mandi dan berganti baju tidur, kami beristirahat di ruang tengah dan menonton DVD yang dibawa oleh Sherly. Kini sudah jam delapan malam, berarti enam jam lagi sebelum aku harus melayani bandot tua di belakang itu. Sedangkan aku sendiri sudah mengantuk, mungkin aku kecapaian setelah diperkosa oleh wali kelasku dan satpam sekolahku tadi siang, hingga tanpa sadar aku tertidur ketika teman temanku sedang asyik nonton DVD.
*****
“Eliza… bangun El”, sayup sayup aku mendengar suara Sherly. Kurasakan rambutku dibelai lembut oleh Sherly, hingga aku makin malas bangun, malah menyandarkan kepalaku di pundak Sherly. “El, pindah kamar yuk, masa kamu tidur di sini?”, Sherly mencoba membangunkanku. “Mmm…”, aku masih belum bangun benar dan menjawab sekenanya. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba kurasakan tangan Sherly merayapi tubuhku, dan kemudian tangan itu sudah meremasi payudaraku dengan lembut.
“Oh.. Sheer..”, keluhku dengan suara pelan. Perlahan aku membuka mataku, dan begitu aku mengangkat kepalaku, Sherly segera memagut bibirku. Aku hanya pasrah saja mengikuti kemauan Sherly, tapi itu karena aku belum sadar benar dari tidurku. Begitu aku mulai sadar, aku terkejut dan mencoba melepaskan pagutan bibir Sherly dengan panik. Sherly yang mungkin terkejut dengan perubahan reaksiku yang tiba tiba ini, melepaskan pagutannya dan memandangku dengan penuh pertanyaan.
“Kenapa El?”, tanya Sherly. “Nanti ketahuan teman teman Sher”, jawabku pelan, walaupun nafasku mulai memburu. “Sher, nanti di kamar kan ada Bella, tolong kamu jangan begini ya Sher. Nanti kalau dia sampai tahu kita seperti ini, kan nggak enak, juga nanti kan bisa bisa dia cerita sama teman sekelasku yang lain”, aku mencoba memberikan pengertian pada Sherly. Untungnya Sherly mengangguk sambil tersenyum, dan berkata, “Iya nona cantik, tapi sekarang aku cium kamu satu kali dulu yah”.
Dan Sherly mencium bibirku dengan mesra sekali, membuatku lemas dan hanyut dalam ciumannya. Tak hanya mencium bibirku, Sherly kembali meremas kedua payudaraku, dan aku hanya bisa pasrah, tak ada lagi perlawanan dariku karena aku sudah amat terangsang. Perlahan aku mulai membalas ciuman Sherly, dan aku juga meremas payudaranya, ini adalah pertama kalinya aku meremas payudara seorang wanita. Sherly menatapku sayu, kelihatan sekali ia juga terangsang, pasrah saja ketika aku terus meremasi payudaranya yang rasanya begitu empuk tapi kenyal ini.
Yang terjadi kemudian, kami malah bergumul, saling memeluk dengan erat, dan yang pasti ciuman kami makin memanas. Tapi aku cepat menghentikan Sherly yang sudah menyusupkan tangannya di balik celana dalamku. “Sher.. jangan, nanti kita bisa ketahuan teman teman”, aku mencoba membujuk Sherly. Aku tahu aku pasti tak tahan untuk tidak melenguh jika Sherly mengaduk aduk liang vaginaku. Dan untungnya Sherly bisa mengerti, ia menarik keluar tangannya dari balik celana dalamku. “El.. tapi kapan kapan, aku boleh ya”, kata Sherly yang terus memandangku dengan sayu, hingga aku merasa jengah.
Aku mengangguk dengan tak yakin. Sherly kembali menciumi wajahku, bahkan berlanjut ke leherku. Aku harus menahan sekuat tenaga untuk tidak merintih. Entah berapa lama kami berdua larut dalam kemesraan yang seharusnya tak boleh terjadi ini. Kami terus saling memeluk, diam diam aku melihat jam dinding. kini sudah jam satu pagi, satu jam lagi sebelum aku harus ke tempat pak Basyir. Maka aku tahu aku harus segera mengajak Sherly untuk tidur sekarang juga, jadi nanti aku bisa mengendap keluar tanpa ketahuan olehnya saat aku harus ke kamar penjaga vilaku di luar sana.
“Sher, udahan yuk, kita tidur sekarang ya”, kataku pada Sherly, yang mengangguk sambil tersenyum, dan kami berdua segera melepaskan pelukan kami, lalu masuk ke dalam kamar. Bella sudah tertidur pulas di ranjangku, dan karena memang di tiap kamar ranjangnya cuma ada satu, maka kami berdua naik ke ranjang ini dengan pelan, karena tak enak kalau sampai membangunkan Bella. Bella sendiri tidur di pinggir. Sherly membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, dan aku berbaring di sebelahnya.
Melihat Bella sudah tidur, Sherly memelukku, meremasi payudaraku dan menciumi rambutku. Aku hanya pasrah dan menggigit bibir menahan nikmat, tapi untungnya tak lama kemudian Sherly sudah tertidur. Lalu melihat jam, setengah jam lagi paling lambat, aku sudah harus ada di kamar pak Basyir, maka kuputuskan untuk ke sana sekarang saja. Kupindahkan tangan Sherly yang menindih payudaraku, dan pelan pelan aku akhirnya bisa melepaskan diriku dari pelukan Sherly.
Perlahan saya turun dari ranjang, dan dengan langkah yang kuatur perlahan sekali, aku membuka pintu kamarku dan setelah aku keluar kamar, kututup kembali pintu kamarku, dan semua itu kulakukan nyaris tanpa suara. Lalu keluar dari bangunan utama vilaku ini, menuju kamar penjaga vilaku yang mesum itu. Tanpa mengetuk pintu, saya langsung masuk ke dalam kamar pak Basyir. Buat apa juga bersopan sopan pada orang yang tak tahu diri seperti dia ini?
“Wah akhirnya non Liza datang juga, bapak sudah nggak sabar nih”, seru pak Basyir girang. Aku hanya diam, malas menanggapinya. Karena aku ingin semua ini cepat selesai, aku segera melepaskan semua pakaianku hingga aku telanjang bulat. Pak Basyir juga melakukan hal yang sama, dan sesaat kemudian aku sudah berbaring di tempat tidur pak Basyir, yang segera ikut naik dan menindih tubuhku. Ia menyibakkan rambutku sambil berkata, “Non Liza.. non cantik sekali”. Aku hanya diam saja tak perduli.
Lalu pak Basyir mulai mengecup bibirku, lalu berlanjut ke leherku dan kedua puting payudaraku. Aku tetap diam saja, menekan semua perasaanku supaya aku bisa menerima cumbuan dari orang yang umurnya sangat tua dibandingkan diriku ini. Dengan demikian aku sama sekali tak merasa terpaksa atau sedang diperkosa, bahkan perlahan aku bisa menikmati semua cumbuan ini. Setelah puas mencumbuiku, pak Basyir mempersiapkan diri untuk menyetubuhiku, kepala penisnya sudah menempel di bibir vaginaku. Perlahan, liang vaginaku terbelah oleh penis pak Basyir yang terus membenamkan penisnya dalam dalam.
“Ngghh..”, aku melenguh pelan, dan tubuhku sedikit menggeliat saat liang vaginaku menerima tusukan penis pak Basyir. Bandot tua ini terus memompa liang vaginaku dengan senyum kemenangan, sedangkan aku hanya bisa membuang muka, malu rasanya melihat penjaga vilaku sedang melecehkanku seperti sekarang ini. Tapi aku tak ada keinginan untuk melawan ataupun berontak, karena kini otot liang vaginaku mulai mengejang setelah diaduk aduk oleh penis pak Basyir, rasanya nikmat sekali.
“Oh… non Liza… memekmu memang enaak..”, erang pak Basyir yang makin cepat menggenjotku. Aku heran melihatnya seperti akan segera orgasme, tapi ini kesempatan buatku. Dari hanya pasrah, aku mulai menggerakkan pinggulku, menyambut tiap hunjaman penis pak Basyir pada liang vaginaku. “Nnggghh…”, aku melenguh keenakan, karena kurasakan liang vaginaku tertusuk sangat dalam oleh penis pak Basyir, sedangkan pak Basyir sendiri tak kuat lagi, tubuhnya mulai berkelojotan.
“Ohh… non Lizaaa…”, erang pak Basyir panjang, dan penisnya yang berkedut keras menyemprotkan cairan spermanya membasahi liang vaginaku, dan ia langsung ambruk menindihku. Aku belum orgasme, tapi aku memang sedang tak ingin. Kudorong tubuh pak Basyir yang masih menindihku hingga penisnya yang sudah loyo itu terlepas dari jepitan liang vaginaku. Ia terguling di sampingku, nafasnya tersengal sengal dan senyuman penuh kepuasan terukir di wajahnya yang sudah mulai penuh dengan keriput itu.
Aku beranjak duduk, sambil mengatur nafasku yang memburu. “Udah puas kan pak.. Liza kembali dulu”, kataku pada pak Basyir. “Non, masa cuma satu ronde? Bapak kan kangen sama memek non..”, protes pak Basyir, hingga aku yang sudah turun dari ranjang untuk memakai baju, terpaksa kembali duduk di ranjang. “Pak, jangan lama lama, satu ronde lagi saja ya.. Liza juga mau tidur”, aku mengingatkan pak Basyir agar jangan keterusan memperkosaku sampai pagi. “Iya non”, kata pak Basyir sambil mendekapku.
Aku membaringkan tubuhku di sebelah pak Basyir, dan membiarkan pak Basyir menyusu sepuasnya pada kedua payudaraku dengan bergantian. Aku memejamkan mataku, entah kenapa aku sudah mengantuk, padahal tadi aku sempat tertidur agak lama waktu bersama teman temanku menonton DVD di ruang tengah. Pak Basyir menindihku, menciumi wajahku, mataku, pipiku, dan melumat bibirku dengan begitu bernafsu. Aku agak heran, orang setua pak Basyir ini bagaimana masih memiliki gairah setinggi ini…
Kurasakan perlahan penis pak Basyir yang menempel di bawah perutku perlahan mulai membesar, kelihatannya pak Basyir sebentar lagi akan memulai ronde ke dua. Aku menggeliat sebentar supaya lebih nyaman sebelum tubuhku harus tersentak sentak lagi oleh tusukan penis pak Basyir pada liang vaginaku sebentar lagi. “Non Liza… memeknya non Liza bapak masukin lagi ya”, kata pak Basyir. Dengan ketus aku menjawab, “Biar Liza jawab jangan juga, tetep bapak masukin kan? Buat apa sih pak Basyir pakai nanya? Cepat masukin sana!”. Jengkel juga aku melihat penjaga vilaku yang pura pura lugu itu.
“Jangan marah non Liza, bapak kan permisi dulu supaya non Liza nggak kaget”, kata pak Basyir dengan cengengesan. Aku membuang mukaku mengarahkan pandanganku ke jendela, dan sesaat aku sempat agak panik ketika aku melihat bayangan berkelebat, dan aku tak bisa yakin apakah tadi itu bayangan seseorang yang berkelebat, atau hanya karena ada daun jatuh yang menutupi sinar lampu di halaman yang mengarah ke kamar ini. Tapi aku tak bisa berlama lama memikirkan hal itu, karena sesaat kemudian kurasakan liang vaginaku kembali terbelah oleh penis penjaga vilaku ini.
“Anngghh..”, aku melenguh pelan menahan nikmat, sekali ini pak Basyir dengan tepat mengaduk liang vaginaku di satu titik yang memberiku perasaan nikmat yang luar biasa. “Oooh..”, aku merintih keenakan, dan pak Basyir makin bersemangat memompa liang vaginaku. “Heghh.. Non Liza… enak yaa?”, lagi lagi pak Basyir melecehkanku saat aku menggeliat hebat, dan aku hanya bisa melenguh dan merintih, “Ngghhh… mmhhh.. iyah paak…”. Tubuhku terus tersentak sentak mengikuti irama genjotan pak Basyir, sampai akhirnya aku merasa selangkanganku seakan hendak meledak.
“Aaaaahhh… paaak… akuu… ouughh.. ngggghhhh…”, aku melenguh lenguh keenakan tak kuasa menahan terjangan badai orgasme yang melandaku, tubuhku menggeliat hebat, kedua betisku melejang lejang sementara kedua tanganku meremas sprei dengan kuat, yang merupakan ekspresiku untuk menahan nikmat, dan celakanya genjotan pak Basyir sama sekali tidak mereda. “Aaduuh paaak.. ampuuun…”, aku mengerang tak kuat menahan nikmat ini, tubuhku mengejang hebat sebelum perlahan aku mulai melemas tak berdaya di bawah keperkasaan penjaga vilaku ini setelah cairan cintaku membanjir.
“Non Liza.. enak ya?”, ledek pak Basyir. Aku sudah tak mampu menjawab, hanya mengangguk lemah. Tulangku rasanya copot semua, dan aku hanya bisa pasrah ketika pak Basyir terus melecehkanku. Betisku dijilatinya hingga aku kegelian, sementara penisnya yang masih keras itu tetap bersarang di dalam liang vaginaku dengan gerakan memompa yang perlahan. Entah mengapa di ronde ke dua ini pak Basyir malah makin perkasa, padahal di ronde pertama tadi ia sudah ejakulasi tanpa sempat membuat aku orgasme.
Aku merasa seolah olah sebuah batangan kayu atau besi sedang keluar masuk di liang vaginaku, yang membuatku tak bisa bergerak bebas. “Pak.. kok masih.. belum keluar sih? Liza capek nih..”, keluhku. “Bentar lagi non.. sabar ya…”, kata pak Basyir. Aku diam saja, dan pak Basyir terus melanjutkan memompa liang vaginaku. Ia terus memandangi wajahku, hingga aku menjadi jengah dan membuang muka, walaupun aku tak bisa kemana mana karena tubuhku masih berada di bawah tindihan pak Basyir.
Tak lama kemudian, kurasakan penis pak Basyir mulai berkedut di dalam sana, dan ia mengerang panjang menyebut namaku, “Non Lizaaaa… oooooh”. Semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi rahimku. Aku menggeliat menahan nikmat, dan kemudian terkulai seiring ambruknya pak Basyir menindih tubuhku. Masih belum puas, pak Basyir melumat bibirku dan melesakkan lidahnya ke dalam mulutku, membuat aku kembali harus menelan air ludah pemerkosaku.
Setelah pak Basyir melepaskanku karena kehabisan nafas, ia ambruk terguling di sebelah kananku. Aku menarik lepas tanganku yang tertindih badannya yang penuh keringat. “Non Liza.. teman teman non Liza itu mau nggak main sama bapak?”, tanya pak Basyir. Aku langsung meradang dan membentak penjaga vilaku ini, “Pak, jangan macam macam ya! Belum cukup apa bapak memperkosa Liza seorang saja?”.
“Sabar non Liza, bapak kan cuma berandai andai. Misalnya, teman non Liza yang tadi siang ngeremasin susunya non”, kata pak Basyir sambil meremas payudaraku. Aku terkejut, ternyata tadi pak Basyir sempat mengintip kami, dan aku tahu yang ia bicarakan adalah Sherly. “Anaknya cakep, rambutnya indah, badannya seksi, bapak jadi pingin tahu apa dia juga sehebat non Liza kalau main sama bapak”, sambung pak Basyir.
Dadaku rasanya sesak, ingin rasanya aku menampar pak Basyir karena kata katanya yang amat merendahkanku itu. Tapi belum lagi aku berbuat apapun, pak Basyir sudah melanjutkan, “Yang tadi manggil manggil non di teras itu juga cakep, rambutnya panjang seperti punya non Liza, badannya juga kecil seperti non Liza. Mungkin memeknya juga enak seperti non Liza”, kata pak Basyir sambil menerawang, tapi tangannya tak berhenti meremasi payudaraku.
Yang barusan ia impikan adalah Jenny, dan aku semakin jengkel. “Pak Basyir, sebaiknya bapak bisa menjaga kelakuan bapak. Kalau sampai bapak berulah dan teman teman Liza tahu tentang hal ini, berarti nggak ada gunanya rahasia ini Liza jaga, toh Liza nanti akhirnya malu juga karena rahasia ini pasti tersebar ke mana mana. Dan karena sudah nggak ada bedanya lagi, saya pasti akan meminta papa untuk memecat bapak!”, aku mengancam dengan keras.
Mendengar ancamanku, pak Basyir keder juga, dan berkata, “Iya non Liza, bapak janji nggak akan mendekati kedua teman non Liza itu. Kalau yang tiga itu sih.. bapak nggak berminat, mereka kurang menarik buat bapak . Tapi kalau kedua teman non Liza sendiri yang mendekati bapak, non Liza jangan menyalahkan bapak lho..”. Mendengar kata kata pak Basyir, aku sedikit lega, walaupun agak muak juga.
“Pokoknya bapak jangan berani berani mendekati kedua teman Liza itu! Besok Liza mungkin agak terlambat datang ke sini!”. Aku lalu menepis tangan pak Basyir yang masih meremasi payudaraku, dan aku berdiri lalu mengenakan bra dan celana dalamku juga baju tidurku, dan aku keluar dari kamar tidur penjaga vilaku itu menuju kamarku sendiri. Aku tak langsung tidur, tapi aku mengambil baju tidur, bra dan celana dalamku yang baru, dan juga handuk kecilku, kemudian aku menuju ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, aku kembali menelanjangi diriku, dan aku membersihkan liang vaginaku dari sperma penjaga vilaku itu. Sambil kusemprot dengan air shower, liang vaginaku kukorek sebisanya sambil menggigit bibir menahan nikmat, lalu kuberi cairan pembersih vagina hingga vaginaku terasa nyaman dan pasti berbau wangi ^^
Lalu tubuhku kuseka dengan handuk kecilku yang sudah kubasahi dengan air dan sedikit sabun. Aku membersihkan seluruh tubuhku dari keringat hasil persetubuhanku dengan pak Basyir tadi, dan tubuhku mulai terasa nyaman. Setelah aku mengeringkan tubuhku dan memakai bra, celana dalam dan baju tidurku yang baru, aku menyimpan semua pakaian kotorku dalam kantung plastik. Lalu aku segera masuk ke dalam kamar, dan aku berhasil membuka dan menutup pintu kamarku dengan nyaris tanpa suara.
Aku melihat Bella dan Sherly sudah tertidur lelap, dan dengan hati hati aku naik ke ranjang dan membaringkan diri di sebelah Sherly. Aku masuk ke dalam selimut untuk menghangatkan diri. Tiba tiba, seperti tadi, Sherly memelukku, erat sekali, hingga nafasku rasanya sesak. Dan herannya, nafas Sherly terasa berat, seperti orang yang sedang terangsang. Tapi aku tak berani banyak bergerak, dan akhirnya aku tertidur dengan nyaman dalam pelukan Sherly yang mungkin sedang bermimpi sesuatu ini…
*****
Aku masih amat mengantuk ketika tiba tiba aku mulai merasakan remasan lembut pada payudaraku yang kiri. “Eliza…”, aku mendengar bisikan Sherly. “Mmm…”, aku menjawab dengan mata terpejam dan masih ingin menikmati tidurku. “Kamu cantik…”, bisik Sherly mesra, kurasakan hembusan nafasnya yang hangat menerpa pipiku. Walaupun aku masih memejamkan mata, aku tersenyum malu. “Mmm… Thanks Sher..”, jawabku manja dan membenamkan mukaku di dada Sherly hingga menempel di tengah payudaranya.
“Bella sedang ke toilet kok El.. kamu tenang aja, Bella itu kalau ke toilet, lama..”, bisik Sherly sambil terus membelai rambutku. Aku sempat agak terkejut saat teringat di sini ada Bella. Tapi mendengar kata kata Sherly, aku terus memejamkan mata dan menggerak gerakkan kepalaku menikmati empuknya payudara Sherly. Ia tak mengenakan bra hingga aku bisa merasakan tonjolan puting payudaranya.
“Eliza.. kamu nakal.. auuw..”, keluh Sherly dengan manja ketika aku sengaja mencium tonjolan itu yang ada di balik baju tidur ini. “Biarin..”, jawabku dengan masih terkantuk kantuk. Ini memang sekalian untuk membalas perbuatan Sherly kemarin padaku. Aku kembali membenamkan mukaku di tengah payudara Sherly, rasanya begitu nyaman. Sherly mendekapku, dan kudengar detak jantungnya kencang sekali.
Tapi ketika kudengar suara pintu kamar mandi di belakang terbuka, aku tahu kalau aku dan Sherly harus segera menghentikan semua ini. “Sher.. Bella..”, kataku, yang langsung dijawab Sherly, “Iya, kita udahan dulu deh”. Sherly melepaskan pelukannya padaku, dan aku segera menaruh kepalaku di atas bantal. Aku membuka mata dan melihat jam, ternyata sudah jam setengah enam pagi. Masih sempat kudengar bisikan Sherly sebelum Bella masuk, “Nanti kita lanjutin ya Elizaku”. Aku tersenyum geli mendengarnya.
Pintu kamarku terbuka, dan Bella yang sudah memakai baju trainingnya, masuk sambil menyapa kami berdua, “Hai.. kalian udah bangun ya? Met pagi”. Kami berdua membalas sapaan Bella, dan beberapa menit kemudian aku membuka selimutku dan duduk sebentar sementara Sherly masih tiduran di dalam selimut. “Oh iya, yang di kamar sebelah udah pada bangun semua nggak ya? Kalau pagi pagi gini kita jalan jalan di luar, udaranya segar lho”, kataku.
Baru saja aku berkata begitu, pintu kamarku sudah terbuka dan Jenny, Rini dan Siany masuk bergabung bersama kami. Jenny langsung memegang tanganku dan menarikku berdiri, “Ayo El, katanya kemarin mau jalan jalan pagi ini?”. Aku tersenyum dan menjawab, “Baru saja aku mau ngecek kamu udah bangun belum Jen”. Jenny mencibir, “Yang baru bangun siapa coba? Aku Rini dan Siany sudah pakai baju training, Bella juga.. kamu dan Sherly ini aja yang.. hayooo… jangan jangan kalian…”.
Aku mencubit lengan Jenny, “Jangan jangan apa Jen?”. Jenny mengaduh dan minta ampun, “Ampun El.. nggak.. nggak kok”. Kami semua tertawa kecuali Jenny yang mengeluh manja, “El.. sakit nih.. kamu jahat”. Jenny mengusap usap lengannya yang tadi aku cubit, dan aku hanya mencibir, “Biarin”. Lalu aku segera ngambil pakaian olah ragaku dan aku sudah hendak pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian ketika Sherly berkata, “Mau ke mana El? Kalau ganti baju, di sini aja, kita kan sama sama cewek?”
Aku agak ragu, dan selagi aku tak tahu harus bagaimana, aku yang sudah hampir keluar pintu ini ditarik oleh Rini kembali ke tengah. “Iya El, ganti di sini juga kenapa?”, tanya Rini. Dengan ragu aku melepas baju tidurku, dan untungnya semuanya termasuk Sherly dan Jenny bersikap wajar saja sampai aku selesai memakai baju trainingku, bahkan Sherly juga langsung berganti pakaian. Dan akhirnya kami semua sudah siap, lalu keluar bersama sama, berjalan jalan di pagi hari menikmati udara segar di Tretes.
*****
Kami sudah berjalan jalan lebih dari setengah jam ketika aku melihat ada seorang wanita yang sedang berjongkok dan memijit mijit pergelangan kakinya. Kebetulan kami berjalan mendekati wanita itu, dan aku bermaksud menanyakan keadaannya. “Emm.. Eh? Cie.. “, aku menyapanya dengan ragu ragu, aku yakin pernah melihat wanita ini. “Hai.. Eliza kan? Lupa yaa.. aku Liana, pegawai di kantor pak Alan”, sapa wanita yang ternyata Cie Liana, pegawai papiku ini.
“Oowh iyaa.. hai Cie Liana… oh ya, kenapa kaki Cie Liana?”, aku bertanya pada Cie Liana. “Ooh nggak apa apa kok Eliza, cuma capai aja kok, thanks ya”, kata Cie Liana. “Oooh iya Cie, kenalkan ini teman temanku”, aku memperkenalkan semua temanku satu per satu. “Wah senang ya bisa kompak gini, iri deh Cie Cie sama kalian”, kata Cie Liana setelah selesai berkenalan dengan semua teman temanku.
Sherly memandang Cie Liana dengan kagum. Cie Liana, seorang wanita yang kira kira sudah berumur 26 tahun, wajahnya manis dan terutama matanya indah, pasti membuat pria tak akan bosan memandangi Cie Liana yang mengenakan baju training yang lumayan ketat hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang panjang sampai ke siku tangannya itu diikat dengan model ekor kuda, membuat Cie Liana tampak semakin manis.
“Memangnya Cie Cie sendirian aja ke sini?”, tanya Sherly. “Iya nih, akhir minggu, refreshing dua hari satu malam, jadi Cie Cie nggak kepikiran untuk bawa teman”, kata Cie Liana.Kami sempat mengobrol sebentar, dan kemudian kami bersama Cie Liana melanjutkan jalan jalan pagi ini. Cie Liana cepat sekali akrab dengan kami semua, dan pada saat pulang, kami melewati vila yang ternyata tempat Cie Liana menginap, yang mana kebetulan ada di dekat vilaku.
“Ini vila tempat Cie Cie menginap, kalau kalian nggak buru buru, mampir sebentar ya?”, kata Cie Liana. “Nanti siang aja Cie, sekalian kami mau buat pudding siang nanti. Cie Cie mau kan?”, tanya Sherly. “Aduh makasih lho. Kalian menginap di mana?”, tanya Cie Liana. “Itu cie, dari sini kelihatan yang pintunya putih”, kataku sambil menunjuk ke pintu vilaku yang kelihatan dari sini. “Oh dekat ya.. ya udah deh, Cie Cie tunggu ya puddingnya”, kata Cie Liana sambil tersenyum manis sekali dan melambaikan tangannya.
Kami membalas lambaian tangannya dan kami segera kembali ke vila. kini matahari masih belum menyengat, dan terbayang betapa senangnya jika kami menceburkan diri ke kolam renang di vilaku. Begitu sampai, aku segera mengambil beras secukupnya dan melakukan semua yang diperlukan untuk memasak nasi pada rice cooker. Setelah semua beres, aku mengetuk pintu kamar, “Haloo, aku mau masuk”. Dan terdengar jawaban dari dalam, “Masuk aja El, nggak dikunci kok”.
Dan ketika aku masuk ke dalam kamar, aku terpukau melihat Sherly yang memakai pakaian renang minim, yang hanya menutup payudara dan selangkangannya saja. Kulihat tubuhnya yang putih mulus, begitu indah dan menggairahkan, perutnya yang begitu rata dan pinggangnya yang ramping, benar benar sempurna. Aku dikejutkan oleh Bella yang menggodaku, “El, kamu kok ngeliatin Sherly kayak gitu sih? Hayo naksir ya?”. Aku gelagapan dan mencoba membantah, “Nggak, aku.. aku..”.
Bella tertawa dan makin menggodaku, “Ya udah, aku keluar dulu deh El, jadi kamu bisa bermesraan sebentar dengan Sherly”. Ya ampun, aku tak tahu harus menjawab apa. Dan setelah Bella keluar dari kamar, aku langsung berganti pakaian renang. Begitu aku selesai memakai pakaian renangku, Sherly mendekatiku, lalu memelukku dengan erotis, dan ia berbisik mesra padaku, “Eliza.. hari ini kamu harus ma jadi milikku.. aku pasti dapatin kamu…”.
Aku tak bisa bereaksi apapun, dan aku makin lemas ketika Sherly memagut bibirku sambil mempererat pelukannya, dan kurasakan payudara itu menekan payudaraku dengan tepat, hingga aku merasa tersengat, aku hanya bisa pasrah dalam pelukan Sherly. Cumbuan bertubi tubi dari Sherly membuatku hampir tak bisa berpikir jernih, tapi aku sadar kalau ini terus berlanjut, kami bisa ketahuan oleh yang lain. Aku nggak tahu dengan Sherly, tapi aku tak bisa membiarkan teman temanku mengetahui kemesraan kami berdua yang tidak wajar ini.
“Sher… jangan sekarang Sher…”, aku mulai meronta perlahan dari dekapan Sherly. “Nanti ketahuan yang lain…”, keluhku tanpa daya ketika Sherly meremas kedua payudaraku begitu aku lepas dari dekapannya. Tepat ketika Sherly melepaskan remasannya pada payudaraku, pintu kamarku terbuka dan Jenny masuk dan memanggil kami berdua, “Ayo dong, kalian jangan pacaran melulu dong, nanti aja pacarannya kalo udah selesai renang”.
“Kamu ini Jen, awas ya kalau ketangkap”, aku langsung pura pura marah dan mengejar Jenny yang lari keluar sambil tertawa, dan aku terus mengejarnya sampai kami berdua mencebur ke kolam renang. Aku sudah tak berminat mengejar Jenny, air yang dingin ini sungguh menyegarkan dan aku berenang sepuasnya. Mereka berenang santai sambil terus berceloteh, hanya aku sendiri yang sibuk menyelam dan berenang sampai aku agak lelah.
“Eh bentar nih, aku mau minum dulu.. haus juga nih. Kalian juga mau kan? Aku bawain lima Aqua botol buat kalian ya”, kataku ketika aku merasa agak haus. “Iyaa. Thanks ya El”, kata mereka hampir berbarengan. Aku tersenyum, lalu naik dan masuk ke dalam ruang tengah untuk mengambil minuman, dan aku minum sampai hausku terpuaskan, aku langsung menghabiskan setengah botol air minum.
Aku mengambil lima botol air minum Aqua dari kulkas dan kutaruh di meja sebentar. Tepat ketika aku menutup pintu kulkas, tiba tiba sebuah tangan menerobos dari belakang melewati celah pahaku, kemudian dengan cepat tangan itu sudah mencengkeram selangkanganku. Aku baru akan bereaksi ketika mulutku sudah dibekap oleh tangan yang satunya lagi. Saya tahu ini pasti ulah pak Basyir, yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Tak berani banyak bergerak dengan lima botol Aqua yang kudekap dengan kedua tanganku, dan pak Basyir dengan leluasa meremasi daerah selangkanganku, dan menggunakan jarinya mencari cari dan menekan bibir vaginaku, sementara kurasakan hembusan nafas pak Basyir yang hangat menerpa leherku ketika ia sedang menciumi rambutku yang basah ini.
“Emmphh…”, aku menggeleng gelengkan kepalaku menahan nikmat yang melanda selangakanganku ketika jari tangan pak Basyir dengan tepat menusuk sebagian liang vaginaku. Tubuhku mengejang kaku, merespon tusukan tusukan kecil yang dilakukan pak Basyir. “Empph.. ahhh.. pak.. jangan sekarang…”, aku merintih dan memohon pak Basyir untuk menghentikan semua ini. “Non Liza…”, desah pak Basyir dengan nafas memburu dari belakangku. “Bapak kangen..”, sambung penjaga vilaku ini.
“Jangan gila pak, apa apaan sih, udah lepaskan Liza!”, bentakku pelan. Aku makin panik karena pak Basyir tak juga melepaskanku, ia malah membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, lalu tiba tiba ia berjongkok dan menjilati vaginaku yang tertutup oleh baju renangku ini. “Ohhh.. pak… jangan…”, keluhku tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa apa karena aku harus mendekap botol botol Aqua ini, daripada nanti terjatuh dan mengundang perhatian yang lain.
“Oooohh…”, aku mendesah menahan nikmat ketika pak Basyir di bawah sana dengan rakus melumat vaginaku, untungnya baju renangku memang basah, jadi tak akan mencolok kalau bagian yang itu basah oleh ludah penjaga vilaku. Sesekali tubuhku tersentak, aku tak bisa berjalan mundur karena kedua pahaku dipeluk oleh pak Basyir. Aku benar benar tak berdaya dan sudah dalam kekuasaan penjaga vilaku ini, ketika tiba tiba kudengar Jenny memanggil manggilku.
“Elizaaa… kamu kok lama kenapaa? Aku bantuin deh ambil botolnya”, kata Jenny dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai ke dalam sini. Seperti tersadar dan seolah mendapat kekuatan untuk melepaskan diri dari pak Basyir. Akupun meronta sekuatnya, dan dekapan pak Basyir pada kedua pahaku terlepas, demikian juga dengan lumatan pak Basyir pada vaginaku. Tubuhku masih bergetar menahan nikmat, sementara pak Basyir tak menunjukkan tanda tanda akan berhenti.
Dalam keadaan tersengal sengal, dengan kesal aku berkata pada pak Basyir dengan penuh ancaman, “Bapak jangan nggak tau aturan ya! Bisa nggak nunggu sampai nanti malam? Tolong pak Basyir jaga kelakuan bapak, jangan lupa diri pak, Liza ini masih anak majikan bapak! Kalau bapak sampai tega mempermalukan Liza di depan teman teman Liza, maka bagi Liza nggak ada yang perlu Liza pertimbangkan lagi dan jangan salahkan Liza kalo Liza minta papa untuk memecat pak Basyir!”
Pak Basyir keder juga, “Iya non.. saya ke belakang dulu.. maaf non, abis non ngangenin sih”. Wajahku panas mendengar kata kata pak Basyir. Untung ia sudah keluar ketika Jenny sampai ke dalam ruangan ini dan aku sendiri sudah berhasil mengatur nafasku dan bersikap sewajarnya. “El.. kamu digangguin bapak itu lagi?”, tanya Jenny dengan berbisik bisik. Aku mengangguk dan berkata, “Iya Jen, untung kamu tadi panggil panggil.. thanks ya Jen”.
Jenny memelukku dan berkata, “Tenang El, aku pasti jagain kamu”. Aku merasa nyaman dipeluk seperti ini, dan ketika Jenny melepaskan pelukannya aku memandangnya dengan penuh rasa terima kasih. Kami berbagi lima botol Aqua ini dan bersama sama membawa semuanya ke tempat kolam renang. Dan sebelum sinar matahari mulai menyengat, kami semua sudah puas berenang, dan kami bergantian mandi pagi sebelum melanjutkan acara kami hari ini.
Tentu saja kami makan pagi dulu, dan kali ini aku mengajak Jenny membantuku di dapur menghangatkan makanan kaleng yang kami bawa kemarin. Sebenarnya untuk menghangatkan makanan kaleng itu tak begitu repotnya, tapi aku meminta Jenny menemaniku daripada aku nanti harus pasrah dilecehkan pak Basyir. Sementara itu teman temanku yang lain menyiapkan piring dan sendok garpu di meja makan, dan kami makan pagi dalam suasana yang santai.
Setelah makan pagi selesai dan piring piring kotor sudah kami letakkan di belakang, kami melewatkan pagi ini dengan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti main kartu, tebak tebakan, menyanyi bersama dan yang paling seru, menggosip ^^ dan tak terasa sekarang ini sudah jam dua belas siang. “Gimana, jadi bikin pudding?”, aku bertanya pada teman temanku. “Jadi dong!”, seru Jenny, dan Sherly langsung beranjak dari duduknya sambil berkata, “Jangan lupa, kita buat agak banyak, kan udah janji dengan Cie Liana tadi”.
“Iya, aku ingat kok Sher”, kataku padanya, dan kami semua segera sibuk. Selagi mereka mempersiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, aku ditemani Jenny menyiapkan nasi dan makan siang kami. Setelah rice cooker menyala, aku dan Jenny bergabung membantu menyiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, dan setelah semuanya siap, kami semua makan siang dulu, baru kemudian kegiatan pembuatan pudding itu kami lanjutkan.
Kami membuat banyak sekali, selain untuk diberikan pada Cie Liana, juga untuk kami makan malam nanti. Kami pasti begadang di malam terakhir liburan di vilaku, yang juga malam terakhir bagi pak Basyir untuk menikmati tubuhku dalam acara liburan ini. Aku mencoba tak mengingat ngingat keadaanku yang nanti harus melayani pak Basyir, kini aku hanya ingin bersenang senang dengan teman temanku.
Akhirnya beberapa cetakan pudding selesai, dan sambil menunggu pudding pudding itu mengeras, kami semua beristirahat sambil menonton DVD. Entah film drama apa yang ditonton mereka, aku tak berkonsentrasi dan lebih banyak melamun. Aku merenungi keadaan diriku. Terbersit perasaan sedih, mengapa aku bisa tertimpa berbagai perkosaan yang tak habis habisnya. Dan yang paling membuatku merasa kotor dan terhina, adalah gangbang sekaligus bukake yang menimpaku tiga minggu yang lalu.
Masih teringat jelas olehku, betapa sakitnya liang vaginaku, betapa lemasnya kedua kakiku hingga aku bahkan sempat tak punya tenaga hanya untuk berdiri saja. Bagaimanapun aku masih bersyukur, mereka tak menyekapku untuk dijadikan budak seks mereka. Kembali terngiang di telingaku suara suara melecehkan dari anak anak SMP dan STM yang menggagahiku waktu itu. Tak terasa air mataku menitik, sakit sekali hatiku rasanya jika teringat itu semua.
Aku terkejut sendiri, dan cepat cepat kuhapus air mataku yang sudah mengalir di pipi ini. Tapi lagi lagi aku terkejut, teman temanku semua juga sedang menangis. Ternyata film dari DVD yang sedang ditonton mereka ini adalah jenis cerita sedih, dan ini benar benar menyelamatkanku. Apa jadinya jika sekarang ini mereka sedang menonton film komedi dan aku malah menangis seperti ini?
Aku hanya mengarahkan pandanganku ke TV, tapi pikiranku terus melayang layang. Aku teringat saat terenggutnya keperawananku di ruang UKS, perkosaan yang akhirnya membuatku larut dan menyerahkan diri. Demikian juga halnya di rumah, berawal dari perkosaan, akhirnya aku memilih memberikan para pembantu dan sopirku kesempatan untuk menikmati tubuhku selagi situasi memungkinkan, dan yang terjadi akhir akhir ini aku malah amat menikmati persetubuhan dengan mereka bertiga.
Lalu buruh buruh Jenny yang juga pernah mendapat kesempatan untuk menikmati tubuhku, lalu penjaga vilaku ini yang berhasil membuatku memohon mohon untuk diantar menuju orgasme. Di sekolah baletku, aku harus memuaskan seorang tukang sapu, lalu aku merasakan berciuman dengan sesama wanita bersama Cie Elvira dan Sherly, lalu anak anak SMP dan STM yang membuatku menderita sengsara itu, dan kini aku kembali jatuh ke tangan pak Basyir. Lamunanku terhenti ketika Sherly mematikan DVD, dan aku tak perlu terlalu berusaha untuk tidak terlihat terkejut, karena semuanya masih sibuk menangis sedih.
“Sedih ya film ini…”, komentar Rini sambil menghapus air matanya. “Eh udah dong, masa kalian mau nangis terus? Gimana, ayo kita lihat pudingnya”, aku mencoba mencairkan suasana. “Iya nih”, kata Sherly sambil tersenyum, dan kami semua ke meja untuk melihat pudding kami. Ternyata sudah siap untuk dimakan walaupun agak hangat. “Ayo, aku temani kamu antar pudding itu El”, kata Sherly. “Iya boleh. Tapi kita cicipin dulu nih, ntar kuatirnya rasanya nggak enak”, kataku pada mereka.
“Waah.. enaknyaa”, kata Jenny, dan ia menyambung lagi, “Udah kasih aja, pasti Cie Cie itu senang. Aku tambahin dulu es buahnya ya”. Jenny menambahkan es buah dari kaleng yang sudah dingin sekali karena dimasukkan ke dalam kulkas sejak kemarin, dan setelah pudding buah ini siap, aku dan Sherly pergi ke vila tempat Cie Liana menginap tadi, meninggalkan Jenny dan yang lain yang memamerkan saat saat mereka menikmati es pudding itu. Entah apa yang mereka lakukan setelah ini sambil menunggu kami kembali, mungkin beristirahat, mungkin tidur siang atau sekedar tidur tiduran sambil mengobrol.
“El, Cie Liana itu cakep abis ya”, kata Sherly. “Iya Sher..”, aku menjawab sambil tersenyum. “Tapi kamu masih lebih cakep kok El”, goda Sherly sambil tersenyum nakal. “Ih.. apaan sih Sher.. udah ah, ini kita udah sampai”, kataku agak malu. Kami mencari cari bel, tapi tak menemukan. Dan ketika aku akan mengetuk, Sherly mendorong pintu vila ini dan ternyata terbuka, tak dikunci. “Gimana ini Sher?”, tanyaku pada Sherly, yang menjawab, “Ya kita masuk aja, toh maksud kita kan baik, mau ngasih pudding ini”.
Aku berpikir, benar juga kata Sherly. Maka aku dan Sherly masuk sekalian melihat lihat. Sempat aku memperhatikan jam tanganku, sudah jam tiga sore. Tiba tiba, aku menangkap suara desahan dan rintihan wanita, juga geraman dari pria, yang mungkin lebih dari satu. Aku tercekat, tanpa sadar aku hanya ikut ketika Sherly sudah menarik tanganku dan ia berhenti di pojok tembok. Sherly mulai mengintip halaman belakang vila ini. Aku mau tak mau mendengar suara desahan wanita yang makin jelas itu, dan aku berbisik, “Siapa Sher?”. Sherly menjawab dengan nada suara yang tak percaya, “Cie Liana.. El..!?”.
Jawaban Sherly itu amat mengejutkanku, dan aku memaksa diri untuk ikut mengintip. Aku tercekat ketika melihat Cie Liana sedang tiduran di kursi panjang, tubuhnya telanjang bulat dengan pakaian yang berserakan di teras belakang ini dengan vagina yang tertancap penis seorang laki laki yang penampilannya terlihat seperti penjaga vila di sini, sementara satu tangan Cie Liana sedang sibuk mengocok penis seorang laki laki yang aku rasa pernah melihatnya. Ya, laki laki itu adalah sopir Cie Liana.
Aku tertegun melihat pemandangan yang harusnya tak asing buatku, karena keadaanku memang tak berbeda dengan Cie Liana, menjadi pemuas nafsu seks penjaga vila, sopir, malah aku masih harus rela menjadi pemuas nafsu dari beberapa orang yang tidak sedikit jumlahnya. Cie Liana kelihatan seperti menderita ketika penis itu melesak dalam dalam pada liang vaginanya, tapi ketika penis itu ditarik sampai hampir keluar, aku merasa sepertinya kedua kaki Cie Liana menjepit pinggang laki laki itu seolah Cie Liana tak rela penis itu sampai keluar dari liang vaginanya.
“Ngghhh.. Aaaduuuh…”, kudengar lenguhan dan erangan Cie Liana ketika liang vaginanya diaduk aduk sampai pinggang Cie Liana terangkat angkat, dan aku bisa membayangkan bagaimana rasanya, karena aku sendiri sudah pernah mengalami yang seperti itu. Wajah Cie Liana yang mengekspresikan kesakitan saat liang vaginanya disodok dalam dalam membuatku kuatir. “Sher.. menurutmu, apa Cie Liana.. diperkosa?”, tanyaku dengan tak yakin.
“Ya nggak lah El, mana ada orang diperkosa tapi kakinya malah disilangkan melingkari pinggang pemerkosanya? Itu sih persetubuhan namanya”, jawab Sherly sambil terus melihat ke arah Cie Liana yang sedang tersentak sentak digenjot oleh laki laki itu. Mukaku rasanya panas, teringat aku sendiri sudah beberapa kali terlibat persetubuhan, yang pada awalnya selalu dimulai dari perkosaan, dan akhirnya aku harus larut dalam kenikmatan, malah kadang aku sampai mencari kenikmatanku sendiri.
Aku melihat Cie Liana yang sedang digenjot habis habisan tiba tiba menarik penis dari sopirnya yang sedang dikocok oleh tangan Cie Liana, kemudian Cie Liana melahap penis itu dan mengoralnya. Kini aku jadi yakin, kalaupun tadinya awalnya Cie Liana memang diperkosa, sejak Sherly dan aku melihat kejadian ini, keadaan Cie Liana pasti sudah mulai menikmati adukan pada liang vaginanya. Wajah Cie Liana yang mengekspresikan penderitaan itu besar kemungkinan karena penis dari laki laki yang mengaduk liang vagina Cie Liana itu begitu besar dan panjang.
“Ooooh… Bu Lianaaaa…”, erang sopirnya Liana itu, dan Cie Liana melepaskan kulumannya pada penis sopirnya yang langsung mengocok penisnya sendiri dan sesaat kemudian, spermanya berhamburan menyemprot wajah Cie Liana, sebagian semprotan itu mengenai rambutnya juga. Dan kini ganti Cie Liana yang melenguh lenguh, “Nggghh… ngghhh… aduuhhh…”. Tubuh Cie Liana berkelojotan, untung sopirnya menahan dan menjaga gerakan tubuh Cie Liana yang mungkin sekali sedang mengalami orgasmenya itu, hingga tak sampai terjatuh dari kursi yang menopang tubuh Cie Liana itu.
Tak lama kemudian Cie Liana melemas bersamaan dengan suara geraman dari laki laki yang beruntung menikmati liang vagina dari Cie Liana itu. Laki laki itu lalu mencabut penisnya, lalu ia cepat cepat beranjak dan mengarahkan penisnya ke payudara Cie Liana sambil terus mengocok penisnya sendiri. “Aaah…”, erang laki laki itu saat spermanya tersemprotkan keluar membasahi kedua payudara Cie Liana.
Kini kedua pejantan yang menggagahi Cie Liana sudah terpuaskan, dan Cie Liana sendiri kelihatan lemas, wajah dan payudaranya belepotan sperma dan nafasnya tersengal sengal. Nampak laki laki yang baru menyetubuhi Cie Liana itu mengelus-elus kedua payudara Cie Liana sehingga cipratan spermanya merata. Sesaat kemudian bibir Cie Liana dipagut dengan buas oleh sopirnya. “Mmmphhh… mmmm…”, Cie Liana membalas pagutan itu dan melingkarkan kedua tangannya di leher sopirnya, mesra sekali kelihatannya.
Sungguh pemandangan yang indah dan sexy, juga kontras sekali. Cie Liana yang begitu cantik dan berkulit putih mulus bak pualam, saling berpagut begitu ganas dengan sopirnya yang berwajah amburadul dengan kulitnya yang hitam tak terawat, dan kulit dari kedua insan yang berasal dari strata sosial yang amat berbeda itu, bergesekan dan menyatu dengan indahnya. Pemandangan ini membuatku jantungku berdegup kencang dan aku mati matian berusaha menekan gairahku yang meninggi ini.
Tanpa kusadari tiba tiba Sherly sudah mendekapku dari belakang dan menarikku ke arah tembok. Sherly dengan kejam merangsangku habis habisan di saat aku sendiri sudah terangsang melihat live show persetubuhan tadi. Aku tak berani bersuara, hanya bisa diam tak tahu harus berbuat apa selain mati matian menahan diriku untuk tidak mendesah. Aku menggigit bibir dan menggeliat menahan nikmat ketika tangan Sherly yang kiri sudah menyusup pada bagian depan celana dalamku, dan jari tangannya dengan cepat menemukan liang vaginaku, lalu menusuk dan mengaduk aduk liang vaginaku.
Tangan kanan Sherly sendiri bergantian meremasi kedua payudaraku, dan aku mulai mengejang akibat terangsang begitu hebat. “Nggh.. Sheer..”, aku melenguh perlahan dan mencoba melepaskan diriku dari dekapan Sherly. Setelah berhasil, dengan nafas yang memburu aku cepat ke arah pintu masuk vila ini, dan Sherly mengikutiku ke sana. “Kenapa El?”, tanya Sherly dengan senyum menggoda. Aku tersenyum malu tak kuat membalas tatapan Sherly yang sayu dan penuh hasrat padaku.
“Sher… kita jangan begini di sini, nanti kalau ketahuan Cie Liana kan nggak enak”, aku berbisik lembut, mencoba memberi pengertian pada Sherly. “Ya udah, kamu sendiri yang bilang kita jangan begini di sini, artinya nanti ditempat lain yang memungkinkan, kamu harus mau. Pokoknya hari ini kamu harus jadi milikku, Eliza”, jawab Sherly dengan mesra. Aku tak tahu harus menjawab apa, malu sekali rasanya, dan aku hanya bisa menunduk malu seperti ada seseorang yang mengajakku untuk menikah saja.
“Gimana ini El, masa kita mau menunggu Cie Liana dan mereka itu bermain satu ronde lagi?”, tanya Sherly. Aku sendiri juga bingung, dan tiba tiba Sherly sudah berseru dengan suara keras, “Permisii.. Cie Liana, aku Sherly yang tadi Cie, lagi sama Eliza nih..”. Dan terdengan suara Cie Liana dari halaman belakang tadi, “Iyaaa.. tunggu bentar di sana ya, Cie Cie bentar lagi keluar”. Aku dan Sherly saling berpandangan, seolah bersepakat untuk pura pura tak terjadi apa apa.
Tak lama kemudian Cie Liana menemui kami, dengan pakaian yang terpasang lengkap dan cukup rapi, hanya saja agak kusut di sana sini. Wajah Cie Liana merah sekali dan tubuhnya berkeringat cukup banyak seperti orang yang baru berolahraga cukup berat. Rambutnya yang tadi diikat itu kini dibiarkan bebas tergerai, indah sekali rambut Cie Liana itu dengan highlight di beberapa bagian, hingga Cie Liana terlihat semakin cantik, dan aku terus memandangi Cie Liana dengan terpukau.
Tapi aku agak terkejut ketika aku melihat sedikit bekas sperma pada bagian atas rambut Cie Liana, yang tadi disemprotkan oleh sopirnya itu. Dan sekilas aku juga bisa melihat beberapa warna merah bekas cupangan di bagian leher Cie Liana dari sela sela rambutnya, membuatku menahan nafas dan berusaha seolah olah aku tak melihat apapun. Aku juga berharap Sherly tak membahas apa yang kami lihat tadi saat kami sempat mengintip tadi, dan tampaknya Sherly memang belum cukup gila untuk melakukan itu.
“Hai.. kalian…?”, tanya Cie Liana dengan ragu. “Ya Cie Liana, lupa ya? Tadi kami kan janji mau bawain Cie Liana pudding?”, goda Sherly. “Oh iya yaa.. ayo masuk”, kata Cie Liana mengajak kami mampir sebentar. “Aduh, sorry ya Cie, aku dan Eliza udah ditungguin yang lain, kami lagi akan mengadakan game nih.. Cie Cie mau ikut?”, kata Sherly.
“Oh, jangan deh Sherly, nanti Cie Cie malah menggangu saja. Lagipula Cie Cie mau istirahat nih”, tolak Cie Liana dengan halus. Aku agak heran tentang game yang Sherly maksud, tapi aku tahu aku tak boleh membuat suasana menjadi canggung, maka aku mengikuti kemauan Sherly dan tersenyum pada Cie Liana.
“Ini Cie, puddingnya”, aku memberikan pudding buatan kami ini. “Ya udah kalo gitu, thanks ya puddingnya. Mmm, Eliza, tempatnya pudding ini, Cie Cie pindah sekarang, atau besok Cie Cie titipkan ke pak Alan?”, tanya Cie Liana. “Oh nggak usah repot repot Cie, besok aja titipkan papiku”, jawabku. Cie Liana mengangguk dan berkata, “Thanks ya pudingnya.. aduh ngerepotin deh… dan aduh.. kelihatannya enak nih, kalian buat sendiri ya? Wah kapan kapan Cie Cie mesti belajar sama kalian nih!”.
Aku dan Sherly tersenyum mendengar pujian Cie Liana. “Ya Cie Liana, belum dicoba kok udah bilang keliatannya enak… ntar nyesel lho udah berharap harap, nggak tahunya puddingnya kurang enak”, kata Sherly dan Cie Liana tertawa, sungguh cantik sekali Cie Liana waktu tertawa seperti ini. “Ah kamu itu ada ada aja, Cie Cie ini udah senang sekali dikasih pudding gini”, kata Cie Liana. Kami semua tersenyum, dan Sherly berpamitan pada Cie Liana, “Ya udah, kami pamit dulu Cie, sampai ketemu lagi ya”. Setelah aku juga berpamitan, kami segera keluar dari vila tempat Cie Liana ini dan kembali ke vilaku.
Di tengah perjalanan, aku merasa seperti disambar petir ketika aku mendengar bisikan Sherly, “El, kamu kok sampai seperti orang bingung gitu sih waktu tadi lihat Cie Liana digituin sama penjaga vilanya? Bukannya, tadi malam kamu sendiri juga bersenang senang dengan penjaga vilamu? Dan dari percakapan kalian, aku yakin sekali kalau tadi malam itu bukan pertama kalinya kamu menyerahkan dirimu kepada penjaga vilamu, El”.
“Hah? Kamu ngomong apa sih Sher?”, aku tergagap dan mencoba mengelak. “El, aku tahu kok, penjaga vilamu itu nyebutin aku waktu dia berkata, seperti teman non Liza yang tadi siang ngeremasin susunya non”, kata Sherly dengan senyuman yang bukan merupakan senyuman kemenangan, sinis ataupun dingin, tapi senyuman itu begitu penuh hasrat. Dan aku langsung lemas, tak tahu apa yang harus kulakukan. Rahasia ini sudah terbongkar, bukan karena kesalahan pak Basyir, melainkan karena Sherly sendiri yang tahu. Rupanya bayangan yang kemarin kulihat sekelebat itu memang bayangan orang, yaitu Sherly.
“Sher.. siapa lagi yang tahu tentang ini?”, aku bertanya dengan panik. “Jangan kuatir nona cantik, aku nggak ngasih tahu siapa siapa kok, dan waktu itu yang mengintip cuma aku sendiri. Yah sebenarnya kemarin, aku ingin dapatin kamu El. Waktu kamu keluar dari kamar, aku kira kamu ke toilet, dan aku kira aku bisa dapatin kamu di sana. Tapi tak tahunya, kamu bukannya ke toilet, malah ke kamar penjaga vilamu. Ya aku jadi ingin tahu, apa yang kamu lakukan di dalam sana”, kata Sherly panjang lebar.
Aku makin terpojok. Masih untung, setidaknya cuma Sherly sendiri yang tahu sekarang ini. “Sher.. jangan bilang yang lain ya, please..”, aku memohon pada Sherly. Dengan tersenyum geli, Sherly berkata, “Aduh Eliza.. ngapain juga aku ngomongin ke yang lain.. kita ini sama sama udah nggak suci, buat apa aku harus merusak nama baikmu… kalau kamu mau pun, kamu harusnya juga udah cerita cerita tentang keadaan kosku yang rusak, yang kamu pasti bisa menduga duga dari kunjunganmu yang terakhir itu. Nah, meskipun sama sama nggak suci, tapi aku yakin kita sama sama nggak ember, jadi kamu tenang aja ya”.
Aku sedikit lega. Sherly kemudian mendekat dan berbisik di telingaku dengan mesra, “Tapi nanti, kamu mandi sama aku ya El.. aku ingin kamu…”. Aku mengangguk lemah dan menggigit bibir dengan senyum menahan malu. Sesampai di vila, aku masuk ke dalam kamar diikuti Sherly, dan aku tak menemukan Bella. Tapi aku mendengar suara ribut yang amat riang dari kamar seberang, dan ketika aku melihat toilet, ternyata kosong. Dan terdengar tawa dari Bella dari kamar seberang, menandakan ia sedang ada di dalam sana.
“El, kalo gitu, kita mandi sekarang aja..”, kata Sherly senang. Dengan perasaan tak karuan, aku mengambil baju ganti dan handuk, dan Sherly juga melakukan yang sama. Lalu kami berdua masuk bersama ke dalam kamar mandi, dan setelah pintu tertutup dan terkunci rapat, juga baju ganti dah handuk kami tergantung di tembok, dengan sangat bernafsu Sherly menyergapku, dan mencumbuiku. Aku memejamkan mata berusaha membiasakan diri, karena aku tahu pasti, ini bukan untuk yang terakhir kalinya aku harus bercumbu dengan Sherly.
Perlahan aku membalas cumbuan Sherly, yang makin membakar nafsu temanku ini. Tak lama kemudian Sherly sudah melucuti bajuku, dan aku sendiri mencoba melakukan yang sama walaupun agak canggung. Setelah kami berdua telanjang bulat, kami kembali berpelukan dan saling memagut bibir dengan ganas. Aku sendiri sudah mulai dalam keadaan terbakar nafsu, lidahku kulesakkan ke dalam mulut Sherly dan saling bertaut dengan lidahnya di dalam sana sampai kami saling melepaskan diri karena kehabisan nafas.
“El, aku tahu kok, penjaga vilamu itu bilang kalau aku dan Jenny yang mau sama dia, kamu nggak boleh menyalahkan dia”, kata Sherly. Aku teringat betul, pak Basyir memang sempat berkata seperti itu. “Dan penjaga vilamu itu benar El, kamu nggak boleh nyalahin dia, kalau aku yang deketin dia”, kata Sherly, membuatku tak percaya dengan pendengaranku sendiri. “Hah? Kamu gila ya Sher? Kamu…?”, aku memandangi Sherly mencoba memastikan temanku ini sedang bercanda atau tidak.
“Abisnya, waktu itu aku lihat walaupun penjaga vilamu itu sudah tua, tapi kemarin dia begitu perkasa dan bisa membuat kamu orgasme sampai kamu kelihatan nggak kuat nggak kuat gitu El. Aku jadi kepingin ngerasain kenikmatan yang sampai seperti itu”, kata Sherly, membuatku ternganga. “Tenang aja Sher, kita udah sama sama nggak virgin kok”, bisik Sherly sambil menusukkan satu jarinya pada liang vaginaku dan menggerak gerakkan jari itu dengan lembut, namun seperti mengorek seluruh dinding vaginaku.
“Nggghhh..”, aku melenguh dan menggeliat, perasaanku sangat tersengat, baik oleh rangsangan fisik yang baru saja dilakukan Sherly dengan menusuk liang vaginaku menggunakan jarinya, juga oleh perkataan Sherly tadi tentang keadaanku kemarin ketika aku tak berdaya di bawah keperkasaan pak Basyir, juga masalah kami berdua sudah sama sama sudah nggak virgin. Dan aku jadi membayangkan bagaimana beruntungnya pak Basyir yang akan mendapatkan Sherly dan aku di malam nanti, yang entah kenapa membuatku makin bergairah.
Aku balas menusuk liang vagina Sherly dengan jariku, dan sesaat berikutnya bibir kami kembali saling berpagut. Puting payudara kami saling menempel, dan perlahan kami menurunkan badan dan tiduran di lantai kamar mandi sambil terus bergumul. Aku membiarkan Sherly berbuat sesuka hatinya padaku. Pagutan bibir kami terlepas, dan aku hanya bisa menggigit bibir dan menggeliat pelan menahan nikmat ketika Sherly mulai mencucup puting payudaraku.
Rambutku basah oleh air yang membasahi lantai kamar mandi ini. Sherly memandangku dengan penuh nafsu sambil berbisik, “Kamu sexy abis El kalau rambutmu basah gini”. Lalu dengan sangat bernafsu Sherly menciumi seluruh wajahku sementara kedua pergelangan tanganku yang sudah direntangkan lebar lebar ini dicengkeram erat oleh Sherly seolah olah ia sedang memperkosaku. Perasaan tak berdaya karena aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku sementara ada Sherly yang terus mencumbuiku, membuatku dalam keadaan terangsang hebat.
“Sher…”, keluhku. “Iya.. El..?”, tanya Sherly dengan suara yang menggigil layaknya orang terbakar nafsu. “Masukin… Sher..”, aku memohon. “Iya..”, kata Sherly sambil memagut bibirku, dan tangan kanannya melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan kiriku, lalu Sherly mengarahkan tangannya ke selangkanganku.
Awalnya Sherly mengaduk aduk liang vaginaku hanya menggunakan satu jari, dan itu sudah cukup untuk membuatku terbeliak dan mengerang menahan nikmat. Kini satu lagi jari Sherly melesak masuk menguak liang vaginaku, hingga tubuhku yang tertindih tubuh Sherly ini mengejang hebat. Cerita dewasa ini di upload oleh situs
“Aaaangghh..”, aku mengerang ketika Sherly memainkan dua jari tangannya di dalam liang vaginaku. Aku merasa seolah olah liang vaginaku sedang diserang dua penis kecil, yang mengaduk aduk dinding liang vaginaku kesana kemari, dan aku terus menggeliat keenakan. “Sheer… am..puuun…”, aku orgasme dengan hebat, rasanya cairan cintaku keluar dengan sangat banyak. Sherly tiba tiba beranjak melepaskan tindihannya pada tubuhku, dan ia segera mencari liang vaginaku.
“Auuuughh.. Sheeer… aaaahhh… nggghhhh”, aku melenguh sejadi jadinya ketika Sherly mencucup bibir vaginaku, ia menyedot semua cairan cintaku. Sedangkan tubuhku terus mengejang dan menggeliat sampai akhirnya melemas. Aku benar benar kelelahan, kini aku sudah tak berdaya, nafasku tinggal satu satu. “Sher… udah dulu.. nggak kuat Sher..”, aku memohon. “Mmmm…”, guman Sherly, tapi sepertinya ia mengabulkan permohonanku, dan berbaring di sampingku sambil memelukku.
“El.. kapan kapan kamu ke kosku.. nginap yah… kita lanjutin sampai puas…”, kata Sherly. Aku hanya mengangguk pasrah sambil beringsut, aku meletakkan kepalaku di atas payudaranya Sherly, menikmati keempukannya. Sherly membelai rambutku, dan aku terbuai dalam kenikmatan ini, rasanya aku ingin sekali tidur dalam keadaan seperti ini. Gesekan antara pipiku dan puting payudara Sherly membuat gairahku bangkit, aku mencium dan mencucup puting payudaranya Sherly walau dengan agak canggung.
Sherly menggeliat dan mengeluh, “Auuw.. El.. kamu nakal…”. Aku tersenyum geli dan terus mencucup puting payudara itu sepuasnya. Kini ganti Sherly yang terus menggeliat seperti cacing kepanasan. “Ngghhh.. aduh Eel..”, keluh Sherly. Aku tak perduli, tenagaku sudah mulai kembali dan kini saatnya aku yang bersenang senang.
Perlahan kumasukkan jari telunjukku dari tanganku yang kanan ke dalam liang vagina Sherly sambil menatap wajahnya untuk melihat reaksinya. Sherly menatapku sayu dan penuh penyerahan, membuatku sedikit merasa canggung dan jantungku berdegup kencang. aku belum terlalu terbiasa dengan semua ini, dimana aku sampai seintim ini dengan sesame wanita.
Jariku benar benar terbenam dalam liang vagina seorang wanita, dan kurasakan denyutan yang begitu sexy, aku membayangkan bagaimana perasaan para laki laki yang pernah membenamkan penis mereka pada liang vaginaku. Ia mengejang perlahan selama jari tanganku terus melesak ke dalam liang vaginanya yang terasa begitu hangat dan basah oleh cairan cintanya.
Perlahan, jari tengahku kulesakkan ke dalam liang vagina Sherly, membuat ia terbeliak menahan nikmat selama proses tenggelamnya jariku yang kedua ini ke dalam liang vaginanya. “El… aduuuuh…”, keluh Sherly, tubuhnya menggeliat kaku, sementara tangan kirinya mencoba menyingkirkan tanganku yang sedang mengantarnya menunju kenikmatan, dan tak berhasil sama sekali karena tenaga Sherly sudah tidak ada, tubuhnya sudah di luar kuasanya sendiri.
Aku mengerti sekali keadaan Sherly, sekarang ini ia dalam situasi yang sama seperti aku jika liang vaginaku sedang diaduk aduk hingga aku kehilangan semua tenaga untuk meronta, hanya bisa menggeliat mengikuti adukan pada liang vaginaku.. Tangan kanan Sherly tak bisa terlalu ia gerakkan karena tertindih badanku. Dan tangan kiri Sherly terlalu lemah untuk menyingkirkan tanganku. Aku sudah berkuasa…
Bersambung…
Kekacauan Di Jam Istirahat Pertama
Ulangan mata pelajaran Bahasa Inggris itu sudah selesai, dan aku sangat yakin bisa mendapat nilai sempurna. Kini adalah jam istirahat pertama, dan aku benar benar merasa lelah. Padahal sebentar lagi adalah jam olahraga. Mimpi buruk yang kualami tadi malam sempat terlintas dalam ingatanku.
Di kantin sekolah, Jenny dan Sherly seperti biasa menemaniku. Tapi sekarang ini aku lebih banyak diam dan mendengarkan dua sahabatku ini berceloteh. Bahkan tanpa sadar aku sudah melipat tanganku di atas meja, lalu aku menyandarkan kepalaku di atas tanganku.
“Eh Eliza, pagi pagi kok ngantuk sih? Bentar lagi jam olahraga lho. Kamu kurang tidur ya?”, tanya Jenny.
“Iya nih Jen… ngantuk… semalam aku kurang tidur, belajar untuk ulangan tadi”, jawabku lemah.
Kalau sekarang ini kami bertiga sedang berada di rumahku, aku mungkin saja sudah menceritakan tentang pemerkosaan yang menimpaku di tempat tambal ban kemarin, dan juga pesta seks semalam dengan Cie Stefanny. Tapi ini kan di kantin, nggak lucu kalau ada yang mendengar pembicaraan kami.
“Masa sih El? Kamu kemarin kan les sama Cie Stefanny? Aku aja dua hari yang lalu udah tenang untuk urusan ulangan ini abis les sama Cie Stefanny. Masa kamu perlu belajar sampai malam? Lagian kamu itu bahasa Inggrisnya kan ciamik”, celoteh Jenny lagi.
“Siapa Cie Stefanny itu Jen?”, tanya Sherly penasaran.
“Itu, guru les bahasa Inggrisku dan Eliza. Aku dikenalkan Eliza. Orangnya baik dan pinter lho, Sher… cantik abis lagi”, kata Jenny yang malah berpromosi tentang kecantikan Cie Stefanny, mengingatkanku bagaimana kemarin aku larut dalam gairah sampai akhirnya aku ‘memperkosa’ Cie Stefanny.
“Yeee… Eliza, kamu kok nggak ngenalin guru lesmu ke aku sih? Aku juga mau dong les bahasa Inggris seperti kalian…”, kata Sherly dengan gaya merajuk.
Aku memandangi Jenny dan Sherly sambil tersenyum geli. Mereka berdua ini memang selalu mendatangkan keceriaan bagiku.
“Iya iya Sher… ini aku kenalin deh. Bentar ya aku telepon Cie Stefanny”, kataku sambil mengambil handphoneku dari saku baju seragam sekolahku.
Ketika aku melihat layar handphoneku, terdapat tulisan 1 message received. Aku baru tahu kalau ada SMS masuk. Memang aku selalu mengganti mode handphoneku ke mode silent selama di sekolah, itu sudah menjadi aturan di sekolahku. Kini aku jadi penasaran dan membuka SMS itu, sambil berharap harap kalau kalau SMS itu dari Andy.
‘Eliza, nanti siang ngeseks yuk. Sudah tak sabar pingin ngerasain memekmu lagi. Satu ronde juga boleh.’
Mukaku rasanya panas membaca isi SMS itu. Kesal sekali hati ini. Mengharap kalau SMS yang masuk itu dari Andy, yang kudapat malah ucapan yang penuh pelecehan seperti itu.
“Ada apa Eliza?”, tanya Sherly heran, mungkin karena ekspresi mukaku berubah.
“Oh nggak, ini aku salah pencet, makanya kok tidak ketemu nomer handphone Cie Stefanny”, aku lagi lagi berbohong, supaya Sherly dan Jenny tidak tahu kalau aku baru saja dilecehkan seseorang lewat SMS.
Aku sempat memencet tombol bawah sekali lagi, tapi aku tidak mengenal pemilik nomer si pengirim. Ya sudah hal ini kuurus nanti saja, sekarang aku harus mencari nomer handphone Cie Stefanny. Selain aku ingin memperkenalkan Sherly pada Cie Stefanny, aku juga ingin memberikan kabar gembira pada Cie Stefanny, kalau tadi itu aku sukses menjalani ulangan bahasa Inggris.
“Mmm… kok nggak diangkat ya…”, aku mengguman setelah mencoba menelepon Cie Stefanny sampai tiga kali tanpa jawaban.
“Ya udah Eliza, nanti aja kan ngga apa apa”, kata Sherly.
Aku mengangguk dan menyimpan handphoneku kembali ke dalam saku baju seragamku. Dan aku kembali terlibat celoteh riang dengan kedua temanku yang cantik ini, walaupun aku tak seaktif biasanya. Selain aku merasa capek dan mengantuk, perasaanku berkecamuk kalau teringat isi SMS yang kurang ajar itu.
Tiba tiba perasaanku jadi nggak enak!
“Sherly, Jenny, aku ke toilet dulu ya”, pamitku dengan tergesa gesa dan aku langsung berdiri untuk meninggalkan mereka.
“Cepetan ya Eliza, jangan sampai pipis di celdam ya”, goda Jenny, dan kudengar Sherly tertawa geli.
“Awas kamu ya Jen”, sambil mulai berlari aku sempat menoleh ke arah Jenny dengan pandangan gemas, dan Jenny hanya meleletkan lidahnya.
Sayapun pergi ke ujung lorong sampai di depan toilet perempuan, lalu aku mengeluarkan handphoneku lagi untuk menelepon ke rumah. Saya mengkuatirkan keadaan Cie Stefanny.
Akupun teringat tadi pagi ketika akan berangkat sekolah, Cie Stefanny berkata kalau ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi. Kuberikan kunci kamarku dan menyuruh Cie Stefanny mengunci dari dalam, karena aku tahu tiga serigala di rumahku itu tidak mungkin membiarkan cewek yang cantik dan sexy seperti Cie Stefanny itu menganggur begitu saja.
“Halo… Sulikah? Cie Stefanny mana?”, tanyaku dengan cepat ketika telepon rumahku terangkat.
“Itu non… ada di kamar non…”, jawab Sulikah dengan nada ragu, membuatku mulai panik.
“Sendirian kan?”, tanyaku lagi dengan penuh harap.
“Engg… tadi waktu non Stefanny mau pergi…”, Sulikah menjawab seperti takut takut.
“Udah, tolong berikan telepon ini sama Cie Stefanny, cepat ya!”, kataku dengan perasaan tak menentu dan khawatir.
“Iya sebentar non”, kata Sulikah.
Dari cara Sulikah menjawab, aku tahu Cie Stefanny tidak sendirian. Jantungku berdegup kencang membayangkan Cie Stefanny sedang tak berdaya dikeroyok oleh mereka. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara lenguhan dari handphoneku.
“Ngghh… Eliza… aduuh…”, Cie Stefanny menjawab di antara lenguhannya yang terdengar makin keras.
“Cie… Ciee…”, panggilku dengan kuatir.
“Iyah… sayang… eengghh…”, jawab Cie Stefanny sambil mengerang.
“Cie Cie diapain…”, aku bertanya ragu.
Sebuah pertanyaan tolol, tapi pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Cie Cie… diperkosa… sama… Wawan… emmhhh…”, jawab Cie Stefanny terputus putus.
Aku bingung tak tahu harus berkata apa. Hanya bisa berharap kalau papa dan mamaku, juga kokoku, belum akan segera pulang dari hotel. Berharap kalau kokoku langsung kuliah, dan di hari Jumat begini, semoga kokoku berweek end bersama temannya, jadi paling tidak situasi di rumah masih ‘aman’.
“Cie…”, aku masih tak tahu harus berkata apa.
“Ngghh… Eliza… Cie Cie tutup dulu ya… Cie Cie mau oralin punya Suwito… ngghh…”, lenguhan Cie Stefanny menutup pembicaraan kami.
Aku termenung sejenak. Mendengar jawaban Cie Stefanny yang sepertinya malah sedang menikmati perkosaan serigala serigala itu, tiba tiba gairahku bergolak dan nafasku jadi memburu. Aku yang memang sudah berdiri di depan toilet perempuan ini, masuk ke dalam salah satu kamar di dalam toilet lalu mengunci pintunya.
Di dalam toilet ini aku menggigit bibir, dan tanpa bisa kukendalikan lagi aku menarik ujung rok seragam sekolahku ini ke atas dengan tangan kiriku, lalu tangan kananku kuarahkan ke selangkanganku, mencari bibir vaginaku.
“Mmmhh… engghh…”, aku merintih dan melenguh perlahan ketika jari tanganku kutekan tekankan pada bibir vaginaku.
Mendadak aku tersadar, aku memang tidak mengenakan celana dalam karena ancaman yang diberikan Dedi padaku. Aku diam sejenak, mencoba mengusir semua godaan birahi yang melandaku ini dengan memikirkan nasibku sehari hari di sekolah setelah kemarin aku mengintip persetubuhan Vera dengan Dedi dan Pandu di gudang sebelah ini.
Aku mulai menduga duga, jangan jangan SMS kurang ajar yang masuk di handphoneku itu adalah SMS dari Dedi. Tapi, darimana dia tau nomer handphoneku?
‘kriiing…’, bel tanda istirahat selesai menyadarkan lamunanku, dan aku bergegas merapikan keadaanku secukupnya supaya kelihatan wajar wajar saja. Lalu aku kembali ke kelas, sambil merenungi betapa kacaunya hari ini bagiku.
-x-
Kemesraan Jenny
“Sayang, kamu kenapa sih kok seperti lemas gini?”, tanya Jenny lembut sambil membelai keningku ketika aku sudah masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelahnya.
“Ya ampun… Eliza… kamu demam…”, kata Jenny dengan agak panik.
“Eh… nggak, nggak apa apa Jen… Ayo kita ganti baju di toilet…”, kataku lemah.
“Jangan sayang… kamu sakit… Minta ijin pulang aja ya? Aku antar kamu pulang ya?”, tanya Jenny.
Aku menggeleng lemah. Entahlah, rasanya sekarang ini aku malas berbuat sesuatu. Aku menyandarkan kepalaku di atas tanganku yang kulipat di atas meja. Teman teman sekelasku yang lain sudah keluar semua menuju ke aula tempat kami akan berolahraga, tinggal aku dan Jenny yang masih di sini.
“Ya udah kalau kamu nggak mau pulang, kamu istirahat di UKS aja ya sayang… Mau yah?”, ajak Jenny.
“Jangan, aku ikut olahraga aja Jen, nanti mungkin juga mendingan…”, aku menjawab dengan lesu.
“Sayang… kamu ini gimana sih? Nanti kamu malah kenapa kenapa lho kalau kamu paksain”, kata Jenny kesal.
Aku amat merasakan nada kesal itu dari Jenny, dan kini ia sudah duduk di sampingku. Tangannya yang lembut itu membelai keningku dan rambutku. Aku menatap Jenny dengan senyuman mesra. Senang sekali rasanya disayang dan diperhatikan oleh teman baikku, atau lebih tepatnya kekasihku ini.
“Makasih ya Jen… aku tau kamu memang paling sayang sama aku…”, bisikku pelan dan aku memeluk tangan Jenny, mendekapnya di depan dadaku.
Jenny menatapku sejenak, lalu menunduk dan tersenyum malu, membiarkan tangannya berada dalam dekapanku.
“Jen… kalau aku jadi jatuh cinta sama kamu, salah siapa coba?”, tanyaku menggoda Jenny.
“Eliza…”, desah Jenny yang makin menunduk malu, mungkin baru kali ini ada cewek yang mengatakan hal segila ini padanya.
“Gimana Jen?”, tanyaku lagi sambil menatap Jenny dengan nakal.
“Mmm… nggak tau deh… tapi kalau kamu memang cinta sama aku, ya nikahi saja aku…”, jawab Jenny sambil meleletkan lidah walaupun wajahnya merona merah.
Kami sama sama tertawa geli, dan setelah aku merasa agak enakan, aku memutuskan untuk segera bersiap mengikuti olahraga.
“Jen, ayo…”, kataku sambil berdiri dan menggandeng tangan Jenny yang menurut saja mengikutiku ke toilet untuk ganti baju.
“Sayang, ganti di sini aja dong”, kata Jenny manja sambil menarikku masuk bersamanya dalam satu dari enam kamar di dalam toilet ini.
“Jen, aku…”, aku mencoba untuk ganti di kamar yang lain karena aku tak ingin Jenny tau kalau aku tidak pakai celana dalam.
“Ih kamu ini, katanya cinta sama aku”, Jenny merajuk.
Jantungku berdegup kencang mendengar kata kata Jenny. Aku menggigit bibirku sambil tersenyum, lalu aku pasrah saja, bersama sama Jenny aku mencopot baju dan rok seragam sekolahku.
“Eh… Eliza? Kamu kok…”, Jenny tertegun menatap selangkanganku yang tidak tertutup celana dalam.
“Tadi waktu aku ke sini, celana dalamku basah kena air Jen”, kataku mencoba berbohong.
“Oooh… lain kali hati hati dong sayang … kalau kamu lagi mens dan mesti pakai pembalut, gimana coba? Yaaa bisa sih kamu ganti pakai tampon”, kata Jenny sambil tersenyum, manis sekali.
Lega rasanya, sepertinya Jenny percaya dengan kata kataku. Aku berganti baju olahragaku. Walaupun rasanya aneh memakai celana olahraga ini tanpa mengenakan celana dalam, juga aku sebenarnya masih merasa sangat capek, tapi aku berusaha bersikap wajar, dan aku menatap Jenny sambil tersenyum.
“Nah… Aku nggak terlihat seperti orang sakit kan Jen?”, kataku mencoba meyakinkan Jenny kalau aku baik baik saja supaya ia tidak mengkhawatirkanku lagi.
“Iya deeh… Duh… cantiknya kekasihku ini”, kata Jenny sambil membelai rambutku dengan mesra, membuatku tersenyum senang dan malu.
“Tapi jangan sampai ada cowok di kelas kita yang tau lho sayang, kalau bidadari di kelas mereka ini nekat nggak pakai celana dalam. Bisa bisa kamu diperkosa ramai ramai sama semua cowok di kelas kita nanti … hihihi…”, kata Jenny usil sambil tertawa.
“Kamu ini ya…”, aku berusaha menangkap Jenny untuk menggelitikinya.
“Atau malah diperkosa semua cowok di sekolah ini… hihihi… aduuuh…”, Jenny tertawa geli dan berusaha menghindariku, tapi di kamar toilet yang sempit ini dengan mudah aku berhasil menangkap dan menggelitiki pinggang Jenny.
“Eeh… iyaaa… ampuuun…”, Jenny merintih dan tubuhnya menggelinjang kegelian.
Aku melepaskan Jenny dan memasang muka cemberut. Tapi Jenny malah terlihat semakin senang dan ia kembali menggodaku.
“Duh, marah ya sayang… jangan marah dong, masa kamu tega sih marah sama kekasihmu ini?”, tanya Jenny dengan gaya usilnya, dan ia terus memandangku dengan matanya yang berkedip lucu, membuatku mulai berjuang menahan tawa.
Jenny memang selalu membuatku ingin tertawa kalau ia meledek atau menggodaku, tapi aku masih ingin pura pura merajuk. Tiba tiba Jenny memelukku dan memagut bibirku mesra. Aku langsung memejamkam mata dan balas memeluk Jenny. Tak lupa pagutan bibir Jenny itu kubalas dengan sepenuh hati, sampai akhirnya kami harus saling melepaskan karena kehabisan nafas.
“Udah dulu sayang… kalau kita… gini terus… kita bakal di sini terus… kita bakal telat ke aula…”, kata Jenny di sela nafasnya yang tersengal sengal.
“Lagian… siapa sih yang memulai…”, kataku sambil meleletkan lidah pada Jenny.
“Iya deh… ayo sayang… kita ke aula sekarang”, kata Jenny dan bersiap keluar dari toilet ini, tapi sekarang ganti aku yang terpana memandang Jenny, menikmati kecantikan kekasihku ini.
Model rambut Jenny yang baru ini membuat Jenny tampak seperti wanita dewasa, walalupun usia kami hanya terpaut beberapa bulan. Dan Jenny benar benar tampak cantik jelita dengan rambutnya yang tergerai seperti ini. Aku langsung saja mencium bibir kekasihku dengan mesra, dan ciumanku ini berbalas dengan tak kalah mesranya.
“Sayang… kamu cantik sekali…”, aku berbisik mesra pada Jenny sambil menyibakkan rambut Jenny yang sedikit menutupi wajahnya.
Jenny tersipu malu, dan ia menyusupkan wajahnya di atas pundak kiriku.
“Kamu lebih cantik… Eliza…”, guman Jenny yang memelukku erat erat.
Aku kembali memeluk kekasihku yang cantik jelita ini dengan sepenuh hati, rasanya aku tak ingin cepat cepat melepaskan Jenny dari pelukanku. Tapi aku sadar kalau kami harus segera ke aula, dan setelah kami berdua sama sama menenangkan diri dari gairah ini, kami berdua keluar dari toilet ini. Sambil bergandengan tangan, aku dan Jenny masuk ke aula tempat kami mengikuti pelajaran olahraga.
Seperti biasa, lari keliling lapangan aula adalah rutinitas awal yang harus kami lakukan sebelum guru kami membagi giliran pada kami semua untuk bermain bola basket ataupun voli.
Namun aku tak menyangka, baru aku berlari satu putaran, kepalaku rasanya berat sekali, lututku juga lemas dan betisku rasanya pegal sekali. Mungkin tubuhku sudah tak tahan setelah kemarin seharian ngeseks berkali kali tanpa istirahat yang cukup.
Aku menepi dan duduk di kursi panjang. Aku tertunduk lemas dan Jenny yang tadi berlari di belakangku kini menghampiriku, lalu menyeka keringat di keningku.
“Benar kan sayang… kamu sampai jadi gini… kamu tahan bentar ya, aku mintakan ijin ke UKS”, kata Jenny yang melihatku dengan iba.
Aku mengangguk pasrah, dan menunggu Jenny yang segera menemui pak Harjono, guru olahragaku yang masih memberikan aba aba pada semua untuk terus lari keliling lapangan. Setelah berbicara sejenak sambil sesekali menatap ke arahku, mereka berdua mendekatiku.
“Eliza, kamu kok tidak bilang kalau sakit? Lihat wajahmu sampai pucat seperti itu. Coba bapak periksa sebentar”, kata pak Harjono yang mengulurkan dan menempelkan punggung telapak tangan kanannya pada keningku.
“Wah badanmu panas sekali Eliza. Kamu istirahat saja di UKS. Lain kali kalau memang sakit ya jangan dipaksa berolahraga, Eliza”, kata pak Harjono lagi.
“Jenny, tolong antar Eliza ke UKS. Bantu rawat Eliza di sana. Nanti kalau memang Eliza sudah bisa ditinggal, baru kamu kembali ke sini”, kata pak Harjono.
“Iya pak, kami permisi dulu”, kata Jenny sambil menganggukan kepala, lalu Jenny membantuku berdiri.
“Terima kasih pak”, kataku pelan.
Setelah kami berpamitan, Jenny membimbingku ke ruang UKS. Ruangan ini, tempat aku kehilangan keperawananku akibat gangbang yang dilakukan satpam, tukang sapu plus wali kelasku yang bejat itu pada empat bulan yang lalu.
Aku merasa sedikit tak nyaman berada di sini, tapi aku menurut saja dengan lemas ketika Jenny membaringkanku di ranjang. Tak ada pilihan lain karena kelihatannya aku memang harus mengistirahatkan tubuhku. Sementara itu Jenny melepaskan kedua sepatu dan kaus kakiku.
“Jen… kamu jangan tinggalin aku di sini sendirian ya”, aku merengek pada Jenny, karena aku merasa risih berada sendirian di ruang ini, mengingatkanku ketika aku terikat di ranjang ini dan menunggu nasib.
“Iya sayang, aku memang mau jagain kamu kok”, kata Jenny sambil menatapku mesra.
Senang sekali rasanya ditemani oleh Jenny yang kini duduk di ranjang tempat aku berbaring ini, di sampingku. Ia membelai keningku dan rambutku, membuatku memejamkan mata dengan senang dan menikmati sentuhan sayang dari Jenny ini. Aku menyusupkan wajahku di paha Jenny, rasanya nyaman sekali.
“Sayang, kamu tidur aja ya”, kata Jenny dengan lembut.
Aku mengangguk dan tersenyum manja, lalu memejamkan mataku. Aku mencari posisi berbaring yang paling nyaman untuk mengistirahatkan tubuhku, yang tulang tulangnya ini serasa akan patah semua.
-x-
III. Horror Kedua Di Ruang UKS
“Eliza… kamu kok sampai capek seperti ini, memangnya kamu abis ngapain sayang?”, tanya Jenny.
“Mm… nanti aja aku jelasin di rumah ya Jen”, aku berkata pelan tanpa membuka mataku.
“Iya deh, sekarang kamu istirahat dulu aja”, kata Jenny sambil terus membelai rambutku.
“Jen…”, aku mengguman ketika Jenny membelai pipiku dengan semesra itu.
Jantungku berdegup kencang, aku tahu apa yang akan segera terjadi sebentar lagi pada kami berdua.
Aku membuka mata dan menatap Jenny. Dan seperti yang sudah kuduga, sesaat berikutnya kami sudah saling berpagut dengan panasnya. Aku menumpahkan semua perasaan sayangku pada Jenny dan bibirnya yang indah itu kupagut sepuas puasnya. Tapi kami segera saling melepas pagutan kami ketika pintu ruang UKS ini tiba tiba terbuka, membuatku dan Jenny menoleh ke arah pintu.
Entah apa adegan lesbian kami tadi itu terlihat oleh pak Edy, sekarang aku hanya menggigit bibir menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada kami berdua.
“Siang pak”, kata Jenny dengan gugup, dan melihat ekspresi wajah Jenny aku tahu kalau ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan pak Edy di dekat kami.
“Siang Jenny, Eliza. Tadi waktu bapak melihat lihat anak kelas bapak berolahraga di aula, kata pak Harjono kamu sakit. Sakit apa Eliza?”, tanya pak Edy sok perhatian sambil menutup pintu UKS.
Dasar guru bejat tak tahu diri, pakai pura pura nggak tahu lagi kalau kemarin itu ia adalah penyebab utama dari jatuhnya aku ke tangan Pandu dan Dedi, yang kemudian berlanjut dengan perkosaan terhadap diriku oleh Dedi dan 6 orang kasar di tempat tambal ban itu. Untungnya kelihatannya pak Edy tak sempat menikmati tontonan adegan lesbianku dengan Jenny.
“Iya pak. Eliza kecapaian”, jawabku lemah, sekaligus menyindir ulah bejatnya kemarin yang dengan seenaknya memperkosaku di ruang sebelah bersama Pandu dan Dedi.
“Oh, kalau begitu sebentar, bapak ada perlu di ruang bapak, nanti bapak kembali untuk menemani kalian di sini”, kata pak Edy, yang tanpa meminta persetujuan kami langsung saja keluar dari ruang UKS ini.
“Ih… ngapain juga sih pak Edy itu pakai acara menemani kita di sini? Mengganggu saja”, omel Jenny dengan kesal.
Aku hanya mengangkat bahu, tapi tiba tiba perasaanku jadi tak enak. Dan sebelum aku sempat berkata sesuatu, pintu itu kembali terbuka. Tenggorokanku rasanya tercekik ketika aku merasakan hadirnya horror di ruang UKS ini untuk kali kedua buatku.
Pandu masuk dan diikuti Dedi, lalu terakhir pak Edy juga kembali masuk ke dalam ruang UKS ini. Aku menatap pak Edy dengan marah sekaligus khawatir.
Wali kelasku ini sungguh gila! Bagaimana bisa ia yang malah mengatur skenario perkosaan terhadap aku dan Jenny di ruang UKS sekarang ini? Mengapa ia bisa setega itu padaku dan Jenny?
“Pak Edy? Mereka?”, tanya Jenny dengan suara tak percaya.
“Iya Jenny, mereka”, pak Edy berkata tenang sambil mengunci pintu ruang UKS ini.
“Tapi, mengapa pintunya dikunci pak?”, tanya Jenny lagi yang kini mulai terlihat panik.
“Karena bapak tak ingin ada gangguan waktu bapak menyampaikan beberapa hal penting ini pada kalian berdua, terutama pada kamu, Jenny”, kata pak Edy.
Dengan senyumnya yang memuakkan, pak Edy melangkah ke arah ranjang di sebelahku, duduk dengan santai seolah situasi ini bukanlah situasi yang luar biasa. Sementara itu Pandu dan Dedi tetap berdiri di tempatnya. Dedi menatapku, Pandu menatap Jenny. Tentu saja tatapan itu penuh nafsu, seperti ingin menelanjangi kami berdua yang masih memakai baju olahraga ini.
“Memangnya bapak ingin mengatakan apa?”, Jenny bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Pertama, bapak ingin bertanya dulu pada kamu Jenny…, kemarin sekitar jam yang sama dengan sekarang, kamu mengintip apa di gudang?”, tanya pak Edy.
Aku hanya bisa menggigit bibir dan menatap Jenny yang terlihat makin tegang mendengar kata kata pak Edy ini.
“Saya… saya…”, kata Jenny terbata bata.
“Ya, waktu itu kamu dan Eliza mengintip Vera sedang bermain main dengan kedua teman sekolah kamu ini, Pandu dan Dedi”, kata pak Edy sambil menunjukkan jari telunjuknya ke Pandu dan Dedi.
“Untuk itu, bapak pikir kamu harus berjanji untuk tutup mulut…”, kata kata pak Edy terhenti ketika Jenny langsung memotong.
“Iya pak, saya janji. Bahkan tanpa bapak suruh pun saya nggak ada niatan untuk bercerita pada siapapun tentang apa yang saya lihat kemarin, apalagi saya tak kenal mereka berdua”, kata Jenny dengan sungguh sungguh.
“Janji itu mudah diucapkan, Jenny. Tapi bapak juga perlu jaminan dari kamu, agar kamu tidak akan menceritakan apapun. Dan menurut bapak, hal itu baru bisa dipastikan jika kamu justru sudah mengenal dan berteman baik dengan mereka berdua”, kata pak Edy dengan senyumnya yang menjijikkan itu.
“Maksud… bapak…”, tanya Jenny dengan sedikit menggigil, rupanya Jenny sudah tahu kemana arah pembicaraan pak Edy ini.
“Sederhana. Kemarin bapak sudah memperkenalkan Eliza pada mereka berdua, dan kelihatannya mereka cocok. Sebenarnya bapak sudah menyuruh Eliza untuk mengajakmu ke pertemuan di ruang UKS ini Sabtu malam besok. Tapi kebetulan kamu ada di sini, jadi bapak pikir ada baiknya kamu berkenalan sekaligus bermain main dengan kedua teman sekolahmu ini”, kata pak Edy.
“A… apa pak Edy…”, desis Jenny dengan raut muka tak percaya.
“Dan nanti tentu saja kamu tidak akan bercerita pada siapapun tentang kejadian kemarin, karena mulai hari ini kamu sudah jadi teman Pandu dan Dedi. Iya kan Jenny?”, sambung pak Edy sambil terus menatap Jenny seolah ingin menelanjangi kekasihku ini.
Aku menatap pak Edy dengan marah. Ingin rasanya aku menampar muka wali kelasku ini sekeras yang aku bisa, tapi tentu saja aku tak mungkin berani melakukannya. Kini aku melihat Jenny yang hanya bisa menatap pak Edy dengan tegang.
“Oh iya, sebaiknya kamu dan Eliza tidak membuat keributan sampai urusan kita selesai”, kata pak Edy dengan santai, padahal ucapan yang baru saja dikeluarkannya itu adalah ancaman yang mengerikan untuk kami berdua.
“Gile nih amoy… cantik amat… nggak kalah sama Eliza”, puji Pandu dengan norak dan ia mulai mendekati Jenny yang kini makin terlihat panik.
Pandu segera menarik Jenny yang masih duduk di sampingku ini ke ranjang sebelah, tempat pak Edy duduk. Tak ada perlawanan yang dilakukan oleh Jenny. Sepertinya Jenny sadar, kalaupun ia melawan juga akan sia sia. Lalu Pandu duduk di samping Jenny, dan kini Jenny berada di tengah Pandu dan pak Edy, seperti seekor kelinci yang sudah tertangkap dua ekor serigala.
“Dedi, kamu tidak ikut berkenalan dengan Jenny?”, tanya pak Edy pada Dedi yang herannya masih berdiri saja di tempatnya sejak tadi.
“Tidak usah dulu pak Edy, saya sih maunya sama Eliza saja”, kata Dedi sambil menatapku, membuatku langsung membuang muka.
“Jangan… Eliza sedang sakit… kalian jangan ganggu Eliza…”, tiba tiba Jenny berkata memohon.
“Wah, jadi kamu mau memonopoli kontol semua laki laki di ruang ini ya Jenny? Bapak tidak menyangka kamu doyan ngeseks juga”, tanya pak Edy dengan senyum mengejek.
“Bukan begitu pak… Eliza sedang sakit… bapak boleh apakan Jenny sesuka bapak, tapi biarkan Eliza istirahat”, jawab Jenny lemah sambil menunduk, wajahnya memerah, mungkin saat ini Jenny amat marah karena mendengar penghinaan pak Edy yang keterlaluan itu.
“Jen…”, aku mengguman pelan, rasanya air mataku sudah akan menetes.
Aku terharu sekali, Jenny benar benar sayang padaku. Ingin rasanya aku memeluk Jenny dan bersandar di pundaknya, atau mencium bibirnya, pokoknya aku ingin menyayanginya. Ingin rasanya aku membawa Jenny keluar dari situasi ini, tapi sekarang ini posisi kami sama sama sedang terjepit.
“Ya, hari ini biarkan Eliza istirahat dulu Dedi, tadi dia sakit. Mungkin kecapaian setelah main sama kita kemarin”, kata pak Edy sambil tertawa.
Dasar sok tahu. Aku memang kecapaian, tapi jelas bukan gara gara ‘cuma’ digangbang tiga orang seperti mereka ini, apalagi salah satunya, yaitu pak Edy, sudah hampir impoten ini, tapi tenagaku terkuras habis di tempat tukang tambal ban kemarin, juga akibat bercinta semalam suntuk dengan Cie Stefanny.
“Beres pak, saya sih duduk di sebelah amoy secantik Eliza ini juga sudah senang”, kata Dedi sambil mendekatiku.
Aku cukup terpengaruh dengan rayuan Dedi tadi. Ia masih memuji kecantikanku seolah tak melihat kecantikan Jenny yang sama sekali tak kalah dariku. Dan kata kata Dedi tadi itu diam diam membuatku senang juga. Siapa sih cewek yang nggak senang kalau kecantikannya dipuji? Tapi aku berusaha tak memperlihatkan rasa senang ini, aku lebih memilih menjaga harga diriku yang mungkin sebenarnya juga entah sudah jatuh seperti apa di mata mereka.
Selagi aku hanya bisa menunggu Dedi berbuat sesuatu terhadapku, Jenny sudah mulai dikerubuti oleh pak Edy dan Pandu. Pak Edy dengan seenaknya merangkul Jenny dan melumat bibirnya, sementara Pandu yang seperti tak mau ketinggalan, dengan sedikit kasar meraba dan meremasi kedua payudara Jenny yang masih tertutup kaus olahraga itu.
“Emmh… oooh… mmmhhh…”, dengan mata terpejam, Jenny hanya menggeliat pasrah dan merintih tanpa perlawanan sedikitpun.
Pemandangan erotis ini membangkitkan gairahku, membuatku memalingkan mukaku dengan jantung yang berdebar. Tapi aku jadi melihat Dedi yang duduk di sampingku. Ia memandangi diriku seperti menginginkanku dan kedua tangannya mulai meremasi kedua payudaraku yang masih tertutup kaus olahragaku.
Aku segera menepis tangannya karena aku tak ingin makin terbakar oleh gairahku. Dan tak ingin bertatap muka dengannya, aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah Jenny yang terus digumuli oleh pak Edy dan Pandu itu.
Akhirnya pak Edy puas juga menciumi Jenny. Kini ia merebut payudara kiri Jenny dari tangan Pandu, dan kini kedua payudara Jenny jadi mainan kedua orang itu. Jenny kembali hanya bisa merintih pasrah, sesekali ia menatapku dengan pandangan memelas.
Maafkan aku Jen, aku tak bisa berbuat apa apa untuk menolongmu…
-x-
Jenny Yang Sexy Dan Erotis
Tak ada yang bisa kulakukan untuk menolong Jenny. Aku sendiri yang masih amat kelelahan, hanya bisa menepis dan menepis kedua tangan Dedi yang sibuk mencari kesempatan utnuk menggerayangi kedua payudaraku selagi aku terbaring lemas di ranjang UKS ini.
Jenny
Jenny
Dan toh kalaupun aku punya tenaga, aku sadar juga tak akan mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan Jenny, ataupun diriku sendiri. Aku makin merasa bersalah memikirkan Jenny yang bernasib seperti karena menemaniku di ruang UKS ini.
Dan lamunanku terhenti ketika tiba tiba aku melihat Pandu berhenti memainkan payudara Jenny, lalu ia medekati lemari kotak obat di dinding.
“Oh… kamu mau apa…”, Jenny mendesis ketakutan ketika Pandu kembali mendekatinya sambil membawa gunting yang diambilnya dari lemari itu tadi.
“Kamu sudah gila ya?? Jenny kan sudah tidak melawan, kok kamu masih ingin melukai Jenny?” dengan suara pelan aku membentak Pandu antara marah, ngeri dan kuatir.
“Memangnya siapa yang ingin melukai cewek secantik Jenny ini?”, bantah Pandu tanpa menoleh padaku, dan ia terus mendekati Jenny.
“Mmmh…”, Jenny merintih ketika Pandu menekan nekan bagian selangkangan Jenny.
“Ini memekmu ya?”, tanya Pandu sambil menekankan jarinya dengan nakal di tengah tengah daerah selangkangan Jenny.
“Angghhk… iyaa…”, keluh Jenny.
“Tapi… tapi kamu…”, Jenny makin panik dan tak meneruskan kata katanya.
Kini Jenny tak berani bergerak dan hanya memandang ngeri ketika Pandu menarik bagian selangkangan celana olahraga yang dikenakan Jenny itu, lalu menggunting pada bagian sambungan jahitan itu, membuat sebuah lubang kecil.
“Oooh…”, Jenny memejamkan matanya sambil merintih ketika Pandu sudah menarik celana dalam Jenny yang terlihat dari lubang itu.
Sebuah guntingan segaris yang dilakukan oleh Pandu pada celana dalam itu meninggalkan lubang, yang membuatku mengerti apa yang kira kira ingin dilakukan Pandu.
Diam diam aku makin larut dalam gairahku, apalagi ketika aku bisa melihat bibir vagina Jenny dari lubang yang dibuat Pandu pada celana olahraga dan celana dalam Jenny. Aku sudah tidak ada niat untuk menepis tangan Dedi yang makin sibuk menggerayangi tubuhku.
Bahkan diam diam aku menikmati setiap remasan pada kedua payudaraku ini, sambil membayangkan betapa sexynya Jenny kalau ia diperkosa dalam keadaan seperti itu, bahkan gilanya aku sampai hati membayangkan diriku yang berada di posisi Jenny sekarang ini…
Sementara Jenny sendiri memandang Pandu dengan memelas, seperti memohon agar Pandu tak meneruskan niatnya. Tapi aku tahu kalau Jenny sebenarnya juga sudah mengerti, sama sepertiku, bahwa kami berdua tak akan lolos begitu saja dari situasi sekarang ini.
“Ngghkk…”, Jenny melenguh tertahan dan tubuh Jenny tersentak ketika Pandu memagut bibir vaginanya.
Pandu terus melumat bibir vagina Jenny, sedangkan Jenny meronta menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri, seperti ingin melepaskan bibir vaginanya dari cumbuan Pandu. Tapi Pandu menangkap dan mengait kedua paha Jenny dengan kedua lengannya, hingga kini Jenny tak bisa kemana mana lagi. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Jenny selain merintih rintih dalam siksaan kenikmatan yang menderanya.
Aku mendengar jelas suara cairan yan diseruput oleh Pandu, mungkin itu cairan cinta Jenny. Tak lama kemudian tubuh Jenny mengejang dan pinggangnya tertekuk ke atas dengan sexy, dan tepat pada saat itu pak Edy dengan kejam meremas kedua payudara Jenny kuat kuat.
“Ngghh… udah… ampuun…”, Jenny merintih lemah.
Tapi Pandu terus memagut bibir vagina Jenny. Kedua tangan Jenny mencengkram sprei ranjang UKS itu, dan sesaat kemudian Jenny mendesah tak karuan dan ia mencoba menekan kepala Pandu untuk melepaskan pagutan pada bibir vaginanya. Tampaknya Jenny sudah mulai tersiksa oleh kenikmatan yang menderanya.
“Sudah Jenny, kamu diam saja”, kata pak Edy sambil menangkap dan menarik kedua pergelangan tangan Jenny itu ke atas kepala Jenny.
“Tapi… ooh…”, Jenny merintih tertahan.
Jenny terus menggeliat dengan kedua tangannya yang tertahan oleh cengkeraman tangan pak Edy. Tiba tiba kepala Jenny terdongak dan tubuhnya mengejang ngejang tak karuan.
“Ngghh… adduuh…”, Jenny melenguh dan merintih, kelihatannya Jenny sudah mengalami orgasme.
“Sluuurpp…”, Pandu terus menyeruput cairan cinta Jenny sepuas puasnya, sementara Jenny terus menggeliat dan mengejang tanpa daya.
“Ongghh… sudah Panduu… amppuuun…”, Jenny merintih dan menggelinjang tak karuan.
Pinggang Jenny sampai terangkat angkat dengan sexy ketika Jenny menggelepar sejadi jadinya melepaskan orgasmenya. Dan semua gerakan erotis Jenny itu baru mereda ketika akhirnya Pandu selesai menikmati tetes terakhir cairan cinta Jenny.
Kini Jenny tergolek lemas dengan nafas tersengal sengal, sedangkan Pandu menjilat bibirnya sendiri sambil tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa memberi kesempatan Jenny istirahat berlama lama, Pandu sudah melepaskan celana panjangnya berikut celana dalamnya. Kini penisnya yang hitam panjang itu sudah tegak mengacung, membuat wajah jelita Jenny yang tadinya sayu memelas karena larut dalam orgasme, kini berubah menjadi ekspresi ngeri.
“Nggak usah takut amoy sayang”, kata Pandu sok mesra pada Jenny.
Pak Edy mengangkat Jenny hingga terduduk, lalu ia memeluk tubuh Jenny dari belakang supaya Jenny tak kembali jatuh terbaring di ranjang. Jenny yang kini bersandar pada tubuh pak Edy itu menggigit bibir ketika ujung kepala penis Pandu sudah menempel pada bibir vaginanya.
Kedua betis Jenny diangkat melebar oleh Pandu, hingga lubang di celana itu ikut melebar dan mempertontonkan bibir vagina Jenny, seolah memberikan jalan untuk penis Pandu yang siap mengaduk aduk liang vagina Jenny.
Entah apa yang dirasakan oleh Jenny sekarang, apalagi pak Edy yang memeluknya dari belakang itu dengan tak tahu dirinya kembali meremasi kedua payudara Jenny. Aku ikut menggigit bibir menyaksikan proses penetrasi yang mulai dilakukan oleh Pandu itu.
“Ja… jangan…”, Jenny merengek ngeri sambil terus memandang ke arah penis Pandu.
Pandu dengan nakal malah menggoyang goyangkan pinggulnya hingga kepala penisnya bergesekan dengan bibir vagina Jenny. Muka Jenny terlihat memerah, entah apakah Jenny sedang marah, takut, atau ia malah mulai terangsang diperlakukan seperti itu oleh mereka.
“Aaahh…”, Jenny merintih ketika kepala penis Pandu itu mulai membelah bibir vaginanya.
Pandu terus melesakkan penisnya ke dalam liang vagina Jenny. Setiap centimeter dari penis Pandu yang masuk membuat Jenny makin menggeliat. Tapi Jenny tak bisa ke mana mana, karena tubuhnya sudah terjepit di antara pak Edy dan Pandu.
Jantungku berdegup makin kencang melihat penis Pandu itu terus melesak makin dalam melewati lubang dari celana Jenny itu. Sungguh pemandangan yang amat erotis dan sexy melihat penis itu tertelan sepenuhnya di dalam vagina Jenny, selagi Jenny masih berpakaian lengkap itu, apalagi kini Jenny sudah pasrah dengan keinginan Pandu. Ia memejamkan matanya erat erat dan menyandarkan kepalanya di atas pundak kanan pak Edy.
“Mmmhh…”, Jenny merintih tertahan ketika pak Edy dengan cepat memanfaatkan keadaan ini untuk memagut bibir temanku ini.
Beberapa menit digagahi oleh Pandu dan juga pasrah membiarkan bibirnya dilumat habis oleh pak Edy, Jenny akhirnya tak tahan lagi. Entah seperti apa kenikmatan yang diperoleh Jenny, sekarang ia mulai menggeliat hebat. Aku melihat tubuh Jenny mengejang hebat, dan erangan serta rintihan dari Jenny yang tersumbat pagutan pak Edy membuat jantungku berdegup tak karuan.
-x-
Gairahku Di Ruang UKS
Aku sudah tak bisa menahan diri, dan aku menoleh ke arah Dedi yang masih asyik meremasi kedua payudaraku.
“Ded… aku… aku juga mau…”, aku memohon dengan memelas.
“Juga mau apa cantik?”, kata Dedi sambil mencolek daguku.
Sebenarnya gaya Dedi tadi itu kampungan sekali, tapi aku tak memperdulikannya. Aku menguatkan hatiku, dan mengutarakan keinginanku lebih jelas.
“Aku juga mau seperti Jenny”, aku berkata dengan menahan malu, wajahku terasa panas sekali.
“Ohh… Elizaa… kamu ini kenapa… ngghh…”, tanya Jenny di sela rintihan dan lenguhannya.
Aku tak berani balas menatap Jenny yang kini kembali melenguh dalam himpitan Pandu yang terus memompa liang vaginanya dan pak Edy yang masih asyik meremasi kedua payudaranya.
“Oooh… jadi kamu juga mau celanamu dilubangin seperti itu?”, tanya Dedi lagi yang tersenyum lebar.
Aku melupakan semua harga diriku, dan aku memejamkan mataku sambil mengangguk perlahan.
“Elizaa… jangaan…”, Jenny merintih.
Aku menggigit bibir menahan malu yang amat sangat ini, dan aku tak tahu harus menjawab apa pada Jenny. Saya benar benar menginginkan kenikmatan yang dirasakan Jenny sekarang. Akupun berusaha tak memperdulikan tawa Dedi yang terdengar begitu senang itu. Kini aku hanya berharap harap cemas menunggu Dedi memenuhi keinginanku.
Sentuhan jari Dedi pada bibir vaginaku begitu terasa karena aku tak memakai celana dalam. Aku menggeliat tertahan dan membuka mataku, menatap ke arah selangkanganku dengan sayu. Dedi menarik celana olahragaku di bagian selangkanganku itu, lalu mengguntingnya dengan hati hati.
Dedi tertegun sejenak menatap selangkanganku, lalu ia tersenyum lebar. Rupanya ia sudah tahu kalau aku memenuhi ancamannya untuk tidak memakai celana dalam di sekolah. Dengan sebal aku membuang muka, tapi Dedi dengan nakal mengelus bibir liang vaginaku yang kini pasti bisa terlihat dari lubang yang baru saja dibuatnya di celana olahragaku ini.
“Mmm… Ded… “, aku menyerah dan merintih nikmat.
Benar benar gila, aku bahkan merasa kecewa ketika Dedi menghentikan elusan jari tangannya pada bibir vaginaku. Dedi melepaskan pegangan tangannya pada bagian celana olahragaku yang tadi ditariknya, lalu mengembalikan gunting itu di lemari. Kini Dedi mendekatiku dan kepalanya terus turun menuju selangkanganku.
“Cantik, memekmu udah basah gini… udah pengin ya?”, tanya Dedi yang terus menatap dengan penuh nafsu ke arah selangkanganku.
Walaupun wajahku rasanya panas mendengar pertanyaan mesum Dedi itu, aku sendiri sudah tak tahan lagi dan ingin rasanya aku berteriak memaksa Dedi segera menggoda, menyentuh atau malah memperkosa liang vaginaku.
Tapi aku belum setega itu untuk menghancurkan harga diriku sendiri. Aku hanya bisa menatap Dedi dengan penuh permohonan, menunggunya memberiku kenikmatan seperti yang dirasakan oleh Jenny sekarang ini. Setiap desahan dan lenguhan Jenny yang kudengar hanya membuatku makin iri padanya, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang ini.
“Mmmhh…”, aku merintih dan menggeliat ketika aku mendapat apa yang kuharapkan.
Dedi menjilati bibir vaginaku dan aku sendiri mencengkreram sprei ranjang ini kuat kuat. Kepalaku terdongak dan badanku tersentak ketika Dedi melesakkan lidahnya menerjang liang vaginaku, dan Dedi memagut bibir vaginaku setelah lidahnya terbenam cukup dalam. Dengan kejam Dedi memainkan lidahnya di dalam sana, membuatku menggelepar tanpa daya dan melenguh lenguh sejadi jadinya.
“Ssst… diam cantik, nanti yang di luar dengar!”, kata Dedi mengingatkanku sambil meremas kedua payudaraku.
Aku tergolek lemas, jilatan itu sudah berhenti. Aku memejamkan mata dan menenangkan diriku, tapi aku terus menunggu nunggu nikmatnya siksaan berikutnya dari Dedi.
“Cantik… aku perkosa kamu sekarang ya”, bisik Dedi di telinga kiriku.
Kata kata Dedi membuat perasaanku makin tersengat, dan aku mengangguk pasrah sambil membuka mataku, menatap sayu pada Dedi yang kini melepas celana panjang dan celana dalamnya. Lalu ia naik ke ranjang tempat aku berbaring ini, dan mulai bersiap untuk menggagahiku.
“Siap ya cantik”, kata Dedi ketika ia mulai menekankan kepala penisnya pada bibir vaginaku.
Urat urat tubuhku serasa mengejang ketika aku bersiap menerima tusukan penis Dedi yang mulai membelah bibir liang vaginaku.
“Ahh… sakit Ded…”, aku merintih dan mengeluh ketika Dedi menghunjamkan seluruh penisnya begitu saja tanpa ampun.
Berikutnya Dedi melebarkan pahaku dan menekan nekan penisnya dalam dalam menusuk liang vaginaku, lalu ia merebahkan tubuhnya di atasku. Kami saling bertatapan. Kurasakan Dedi menatapku dengan mesra, dan aku memalingkan wajahku ke kiri ketika Dedi menurunkan kepalanya.
“Cantik, sudah terima SMSku tadi?”, bisik Dedi di telingaku.
Aku menatap Dedi dengan kesal sekaligus terangsang. Teringat kata katanya di SMS tadi itu membuatku kesal, sementara penisnya yang bersemayam di dalam liang vaginaku ini berdenyut kuat, memaksaku larut dalam gairah.
“Kamu tahu nggak Eliza… kalau kamu melirik seperti itu… kamu makin cantik…”, desah Dedi merayuku sambil memulai genjotan penisnya pada liang vaginaku.
Aku mulai menggeliat nikmat di bawah tindihan Dedi. Aku merasa begitu sexy menyadari penis Dedi sekarang ini mengisi liang vaginaku melewati lubang di celana olahraga yang kukenakan ini. Apalagi kini kedua pergelangan kakiku dipegang oleh Dedi dan sudah tak bisa kugerakkan lagi sesuka hatiku. Rasa tak berdaya ini makin menambah sensasi kenikmatan yang kurasakan pada liang vaginaku.
Dedi terus menyetubuhiku dan menatapku dengan mesra seperti yang dilakukannya di tempat tambal ban kemarin. Penisnya itu bergerak gerak maju mundur mengorek dinding liang vaginaku, selagi aku hanya bisa pasrah dan menggeliat keenakan.
“Ooh… Eliza…”, Dedi meracau keenakan.
Tapi si kurang ajar ini tega menghentikan genjotan penisnya pada liang vaginaku.
“Ooh…”, aku mengeluh kecewa dan menatap Dedi dengan memelas.
“Eliza… capek nih… kamu sih kemarin hot amat di tempat tambal ban itu… sekarang kamu aja yang main ya”, bisik Dedi yang kini hanya diam dan menatapku dengan pandangan nakal dan mesum.
Aku melotot pada Dedi, berusaha memberinya isyarat untuk tak meneruskan cerita tentang kemarin.
Aku jadi kuatir kalau kalau ucapan Dedi ini terdengar oleh Jenny, dan terutama pak Edy dan Pandu. Kalau mereka tahu kemarin aku dijadikan obyek pesta seks oleh Dedi di tempat tambal ban itu, bukan tidak mungkin nasibku akan semakin buruk.
Tapi untungnya pak Edy dan Pandu terlalu sibuk menggumuli Jenny, sedangkan Jenny sendiri keliatannya dalam keadaan berjuang menahan siksaan kenikmatan yang mendera dirinya. Aku harap tak ada yang mendengarkan kata kata Dedi tadi.
Aku menggigit bibir dan memejamkan mata menahan birahi yang bergolak semakin liar di dalam tubuhku ini. Selagi aku tak tahu harus berbuat apa, aku kembali terbeliak dan melenguh ketika Dedi tiba tiba kembali memompa liang vaginaku.
“Oooh… aduuh… ngghh…”, aku merintih dan melenguh, tapi hanya sebentar karena Dedi kembali menghentikan gerakannya.
“Ayo cantik… goyang dong”, Dedi kembali memintaku.
Aku tak punya pilihan lain, aku menginginkan kenikmatan itu. Maka aku mulai menggoyangkan pinggulku dan membuat penis Dedi terkocok dalam liang vaginaku. Dedi mendesis keenakan, sedangkan aku sendiri makin menderita karena aku malah terangsang hebat akibat adukan penis Dedi pada liang vaginaku, dan tanpa bisa kutahan lagi aku mulai bergerak liar mencari kenikmatanku sendiri.
Pinggulku kuangkat agak tinggi dan kudorongkan maju hingga penis Dedi tertelan semakin dalam di liang vaginaku. Aku terus mendorong dorong pinggulku ke arah Dedi, dan akibatnya rasa ngilu yang mendera liang vaginaku makin menggila.
“Engghhk…”, aku melenguh dan merintih ketika Dedi menangkap dan menarik pinggulku ke arah tubuhnya, membuat tusukan penis Dedi itu terasa begitu dalam.
Kini kami berdua sama sama menggoyangkan pinggul kami sejadi jadinya. Dinding liang vaginaku teraduk aduk dengan hebat, membuatku mendesis, merintih dan melenguh. Tubuhku rasanya semakin lemas, tapi setiap hentakan yang dilakukan Dedi memaksa tubuhku mengejang dan menggeliat.
Aku benar benar menikmati semua ini dan tanpa ampun lagi orgasme ini mulai menderaku. Kedua betisku melejang lejang tak karuan dan sekarang ini tubuhku rasanya capek sekali. Liang vaginaku terasa begitu ngilu karena otot liang vaginaku terus berdenyut tak karuan dalam keadaan terisi penuh oleh sebatang penis, milik Dedi.
Otot perutku juga seperti tak mau ketinggalan menambahkan rasa sakit bercampur nikmat yang menderaku ini, dengan terus berkontraksi dan mengejang sampai rasanya hampir kram. Entah sampai kapan aku kuat menerima rasa sakit dan nikmat yang terus menderaku ini, dan juga orgasme ini terus menerus menyiksaku.
Aku semakin kecapekan dan sudah kehabisan tenaga untuk menggeliat. Dalam keadaan orgasme, aku hanya bisa pasrah membiarkan tubuhku terhentak hentak dipermainkan Dedi yang semakin bersemangat menghunjam hunjamkan penisnya mengaduk liang vaginaku. Sambungan tulang tulang di tubuhku rasanya seperti akan lepas semua, membuatku makin lemas dan tak berdaya.
Tapi aku amat menikmati siksaan orgasme yang terus menderaku sekarang ini. Penis yang memompa liang vaginaku tanpa henti itu benar benar membuatku makin tenggelam dalam birahi. Aku merintih dan tubuhku bergetar hebat tak kuasa menahan nikmat yang melanda selangkanganku ini. Setiap denyutan yang kurasakan dari penis Dedi menambah semua sensasi yang menjalari tubuhku.
Rintihanku, juga rintihan Jenny, bersahut sahutan dengan dengusan dua pejantan yang memperkosa kami di dalam ruang UKS ini, ketika…
‘tok tok…!’, terdengar suara ketukan di pintu UKS ini.
-x-
Kedatangan Pak Harjono
Serentak kami semua menghentikan pesta seks ini. Aku memandang panik ke arah pintu, lalu saling bertatapan dengan Jenny yang kini wajahnya pucat pasi. Entah siapa yang datang, tapi yang pasti jangan sampai ia mendapati suasana mesum di ruang UKS ini.
“Jenny? Eliza? Kalian masih di dalam? Kok pintunya dikunci?”, terdengar suara pak Harjono.
Dedi segera mencabut penisnya dari liang vaginaku, dan mencari cari celana panjang dan celana dalamnya yang berserakan di lantai. Demikian juga dengan Pandu, yang segera melepaskan Jenny yang masih di dalam pelukan pak Edy.
Jangan tanya raut muka pak Edy, dia terlihat paling panik di antara kami semua, hingga diam diam aku ingin tertawa. Dasar pengecut, setelah tega menjerumuskan aku dan Jenny dalam situasi yang menyedihkan, kini ia sendiri ketakutan seperti seorang maling yang terpojok.
“Iya pak… saya dan Eliza masih di dalam”, jawab Jenny.
“Lalu kenapa kok pintunya ini dikunci?”, tanya pak Harjono lagi dengan cepat.
“Pintunya… soalnya tadi saya sedang mengompres badan Eliza pak… saya takut ada yang masuk”, jawab Jenny yang kemudian tersenyum lega padaku, mungkin karena Jenny merasa telah berhasil mendapatkan jawaban yang bagus.
Aku sendiri juga merasa lega, sungguh satu alasan yang sempurna, jadi pak Harjono tak akan curiga yang tidak tidak karena pintu yang terkunci itu.
“Ooo… coba kamu cepat selesaikan, bapak mau masuk dan melihat keadaan Eliza. Kalau memang panas badan Eliza masih mengkhawatirkan, sebaiknya bapak antar Eliza ke dokter”, kata pak Harjono.
“Iya pak, sebentar…”, kata Jenny.
Aku dan Jenny cepat cepat merapikan diri sebisanya. Perasaanku campur aduk, antara merasa terselamatkan oleh kedatangan pak Harjono, tapi aku juga agak takut kalau kalau pak Harjono mengetahui apa yang baru terjadi padaku dan Jenny di ruang UKS ini.
Tapi… ya ampun, bagaimana ini? Mana mereka bertiga itu malah mematung seperti menunggu datangnya setan yang akan mencabut nyawa mereka.
“Pak! Kalian! Kalian semua ini gimana sih? Cepat sembunyi!”, aku membentak mereka dengan suara pelan.
Seperti tersadar, mereka segera bergegas memunguti helai helai pakaian mereka yang masih tercecer tak karuan di atas lantai, dan mereka… malah berimpit impitan bersembunyi di pinggir lemari!
“Eh? Kok malah di sana semua sih??? Cepat sembunyi di bawah sini!”, bentak Jenny yang juga dengan suara pelan, sambil menyeret mereka semua untuk bersembunyi di kolong ranjang tempat dimana tadi Jenny tadi digagahi oleh Pandu, lalu Jenny membeber selimut pada ranjang itu, menutup sisi kolong ranjang yang akan terlihat oleh pak Harjono nanti.
“Mana kunci pintunya pak?”, Jenny meminta kunci pintu pada pak Edy.
Kulihat tangan pak Edy terjulur keluar dari kolong ranjang dan memberikan kunci itu pada Jenny. Lalu Jenny menatapku sambil mengangkat kunci itu, seolah meminta persetujuanku. Setelah aku merasa sekarang ini sudah aman, aku mengangguk dan kemudian Jenny membuka kunci pintu.
“Bagaimana Eliza? Masih sakit?”, tanya pak Harjono yang melangkah masuk dan mendekatiku.
“Iya pak… tapi sekarang Eliza udah merasa agak mendingan kok”, kataku lemah.
Untung saja tadi itu gairahku langsung padam, dan aku punya waktu yang cukup untuk mengatur nafasku hingga kini nafasku sudah kembali normal. Dan tak lupa aku merapatkan kedua pahaku, agar lubang yang dibuat oleh Dedi pada bagian selangkangan celanaku ini tak sampai terlihat oleh pak Harjono. Nggak lucu kalau pak Harjono bertanya tentang lubang itu, atau tentang cairan cintaku yang membasahi daerah itu.
“Coba bapak periksa sebentar Eliza”, kata pak Harjono sambil meraba keningku.
Aku hanya tersenyum tipis, membiarkan pak Harjono memeriksa keadaanku. Hatiku rasanya sejuk mendapat perhatian seperti ini, yang kelihatannya bukan topeng yang menyelubungi niat tersembunyi pak Harjono untuk sekedar menyentuh tubuhku.
“Hmm… sepertinya panas badanmu sudah tidak terlalu tinggi seperti tadi, Eliza. Tapi jelas kamu masih sakit, dan kalau kamu mau pulang untuk beristirahat, atau menemui dokter, silakan. Bapak akan Bantu urus ijinnya. Kalau perlu bapak bisa mengantarkan kamu ke dokter”, kata pak Harjono sambil menurunkan tangannya yang tadi meraba keningku.
Sayang sekali, seharusnya aku bisa saja mengiyakan tawaran pak Harjono ini. Tapi Jenny sudah menjadi korban kebejatan pak Edy dan Pandu karena menemaniku di ruang UKS ini, dan sekarang aku tak mau meninggalkan Jenny sendirian di sini bersama mereka.
Apalagi nanti jam terakhir adalah pelajaran geografi. Pak Edy yang mengajar geografi itu mungkin akan mencari segala macam alasan untuk memanggil Jenny ke ruangannya, dan di sana Jenny akan menanggung derita seperti yang selama ini sering kualami.
Selain itu, aku takut kalau nanti atau besok aku dan Jenny malah mendapat ‘hukuman’ tambahan dari wali kelasku yang bejat itu.
“Enggak pak, terima kasih. Eliza sudah agak enakan kok”, aku menolak walaupun aku amat menyesali kata kataku ini.
Pak Harjono menggeleng gelengkan kepalanya.
“Memangnya kamu kenapa kok sampai jatuh sakit seperti ini, Eliza?”, tanya pak Harjono.
“Mmm… kemarin Eliza belajar untuk ulangan sampai larut malam pak. Jadi sekarang Eliza mungkin kecapekan karena kurang tidur”, lagi lagi aku berbohong soal penyebab kurang tidurku.
“Oh.. begitu… Memang seperti yang bapak dengar dari guru guru lain, kamu itu murid yang pandai dan rajin, tapi jangan lupa, kesehatan juga harus dijaga. Ya sudah… kamu istirahat saja di sini, sampai kamu sembuh”, kata pak Harjono.
“Aduh… makasih pak”, aku tersenyum malu.
“Oh iya Jenny, kalau kamu tidak keberatan, temani Eliza sampai jam olahraga selesai”, kata pak Harjono pada Jenny.
“Iya pak, saya nggak keberatan kok”, kata Jenny.
“Baik, kalau gitu saya kembali dulu ke aula. Kalau ada apa apa, cari saya di aula ya Jenny”, kata pak Harjono yang disambut oleh anggukan dan senyum manis oleh Jenny.
‘kriiing…’, bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, dan pak Harjono keluar meninggalkan kami.
Artinya jam olahraga sudah tinggal satu jam pelajaran lagi, dan itu adalah 45 menit. Dan selama itu aku dan Jenny harusnya bisa mendapat ‘jatah’ beristirahat di dalam ruang UKS ini, tapi kelihatannya kami tak bisa menikmatinya karena kami masih harus berurusan dengan tiga pejantan bejat itu.
Jenny menutup pintu itu, tapi ia tak memutar kunci pintunya. Lalu Jenny menarik dan memegang kunci itu dalam genggaman tangannya. Jenny memandangku sejenak dan menghela nafas panjang, lalu ia memandang ke arah kolong ranjang tempat bersembunyinya tiga lelaki bejat itu.
“Kalian bertiga sudah boleh keluar”, kata Jenny dengan dingin.
Perlahan mereka bertiga muncul dari balik kolong ranjang itu dan mereka terlihat masih tegang. Pak Edy sendiri langsung menuju ke kursi dan duduk menenangkan diri. Selagi Dedi dan Pandu memakai pakaian mereka, Jenny duduk di sampingku dan membelai keningku.
“Jen…”, entah apa yang harus kukatakan, sekarang ini aku terharu karena aku merasa Jenny begitu sayang padaku.
“Kamu nggak apa apa kan Eliza… kamu istirahat aja ya”, kata Jenny pelan sambil terus membelai keningku.
Aku mengangguk lemah dan tak banyak bergerak, hanya melihat situasi di ruangan ini sekarang. Pak Edy masih diam, kelihatannya ia masih cukup shock dengan kejadian tadi. Pandu yang sudah selesai berpakaian itu mendekati Jenny dan mengulurkan tangannya.
“Maafkan saya Jen, terima kasih sudah menyembunyikan kami”, kata Pandu.
“Tak perlu berterima kasih. Sekarang aku minta kamu keluar dari ruangan ini!”, jawab Jenny ketus sambil membuang muka tanpa menyambut uluran tangan Pandu.
“Jenny, saya sungguh minta maaf untuk semua ini. Eliza, tolong maafkan saya untuk yang kemarin”, kata Pandu dengan raut muka yang sedih, hingga aku merasa sedikit aneh.
Sesaat kemudian Pandu melangkahkan kakinya keluar dari ruang UKS ini dengan kepala tertunduk seperti seekor anjing yang baru kalah berkelahi. Kini tinggal Dedi yang juga hampir selesai mengenakan pakaiannya, dan pak Edy yang masih terduduk lemas di kursi itu. Sepertinya pak Edy masih shock dan belum bisa menguasai dirinya.
“Eliza, kamu kecapekan ya? Kalau kamu mau, kapanpun kamu boleh ke rumahku… Eh kalian jangan marah dulu, ayahku itu tukang pijat, tuna netra”, Dedi buru buru menjelaskan ketika ia melihatku dan Jenny melotot padanya.
“Tuna… netra…?”, tanyaku ragu, rasa kesalku langsung surut dan berubah menjadi rasa iba pada Dedi.
“Ya. Walaupun ayahku buta, tapi dia ahli menghilangkan rasa capek. Jadi kapan saja kamu merasa capek, kamu boleh ke rumahku untuk dipijat ayahku. Dan khusus untuk kamu, gratis”, kata Dedi.
Aku memandang Dedi ragu, lalu aku memandang Jenny seperti meminta pendapat atau persetujuan darinya. Tapi Jenny cuma diam memandangku dengan raut muka kesal. Sepertinya Jenny nggak suka melihatku menanggapi kata kata Dedi tadi.
“Oh iya, kalau kamu juga capek, kamu boleh datang Jen… dan juga gratis untuk kamu”, Dedi juga memberikan tawaran aneh itu pada Jenny.
“Memangnya aku pikir aku akan mau? Dan lagian, ngapain juga kamu ngasih aku gratisan segala? Nggak perlu kali!”, kata Jenny ketus.
“Anggap saja ini permintaan maaf dan tanda terima kasihku pada kalian berdua, karena…”, kata kata Dedi terhenti karena Jenny dengan cepat memotong.
“Nggak ada perlunya kamu minta maaf atau terima kasih ke aku. Tadi itu kamu menyentuh aku juga nggak. Kamu itu harusnya cuma perlu minta maaf sama Eliza! Udah tau Eliza sakit, masih saja kamu perkosa”, bentak Jenny dengan kesal sambil melotot pada Dedi walaupun dengan suara yang pelan.
Dedi tertunduk diam seperti tak tahu harus berkata apa. Aku agak kasihan juga melihat Dedi dimarahi oleh Jenny, padahal tadi itu aku yang meminta Dedi untuk menggagahiku, atau lebih tepatnya menyetubuhiku.
Semua itu karena aku sama sekali tak bisa menahan gairahku ketika tadi aku melihat gerak dan liuk tubuh Jenny yang mengejang dengan sexy dan erotis ketika tadi Pandu merangsang Jenny, apalagi ketika Pandu melubangi celana olahraga Jenny pada bagian selangkangannya, dan aku merasakan sensasi yang sulit kugambarkan dengan kata kata ketika aku melihat penis Pandu keluar masuk melalui lubang itu selagi Pandu menggagahi Jenny tanpa melucuti celana Jenny.
“Ded, soal itu nanti akan kupikirkan. Sekarang kamu keluar, aku ingin istirahat”, kataku pelan sambil mengalihkan pandanganku ke pintu.
“Maafkan saya Eliza, dan sekali lagi terima kasih”, kata Dedi yang kemudian terus keluar dari ruang ini dengan kepala tertunduk.
Kini di ruang ini tinggal aku, Jenny dan pak Edy. Kelihatannya pak Edy sudah bisa menenangkan diri, dan ia mulai mengenakan pakaiannya. Aku dan Jenny saling berpandangan, menunggu entah apa yang akan dilakukan wali kelas kami yang bejat ini setelah semua kejadian tadi.
“Bapak keluar dulu sekarang, bapak harus mengajar. Jenny, kalau ada apa apa atau ada perlu, kamu bisa panggil bapak di kelas II G”, kata pak Edy.
Jenny hanya diam tidak menjawab, bahkan Jenny membuang muka seperti jijik melihat pak Edy.
“Pak Edy, besok malam saya nggak bisa datang pak. Saya sakit”, kataku cepat sekalian mencoba memperbaiki nasibku.
“Ya, tidak apa apa. Pertemuan besok sudah tidak penting Eliza”, kata pak Edy sambil terus melangkahkan kakinya dan keluar, diikuti Jenny yang kemudian langsung mengunci pintu ruangan ini.
-x-
VII. Istirahat Dalam Pelukan Jenny
Jenny kembali duduk di samping kananku, tapi ia terlihat seperti tidak senang, membuatku kuatir dan mengira ngira apa yang kira kira membuat Jenny bersikap seperti itu.
“Jen… kamu kenapa?”, tanyaku dengan ragu.
“Eliza… apa sih maksud si Dedi bilang kamu kemarin hot amat di tempat tambal ban itu?”, tanya Jenny.
“Aku… ini… nanti aku ceritakan di rumah aja ya Jen… jangan di sini…”, aku memohon.
Jenny termenung sejenak.
“Iya, kamu kan lagi sakit. Nanti pulang sekolah, kamu kuantar pulang ya sayang, sekalian nanti di rumahmu ceritain, kekasihku ini abis ngapain dan diapain kok sampai lemas seperti ini”, kata Jenny sambil menatapku nakal.
“Iih… apaan sih”, jawabku sambil meleletkan lidah.
“Pokoknya nanti kamu kuantar pulang! Nggak boleh menolak!”, kata Jenny tegas.
“Iya iya… makasih ya sayang”, aku menjawab pasrah.
“Ya udah, sekarang kamu tidur aja El…”, kata Jenny yang kemudian ikut berbaring di sampingku.
Kini kami berdua berdesakan di atas ranjang UKS yang cukup kecil ini, dan aku memejamkan mataku menikmati pelukan Jenny.
“Tapi awas kalau kamu berani suka sama Dedi!”, bisik Jenny di telingaku.
Aku sampai menoleh kaget mendengar ucapan Jenny, karena sama sekali tak kurasakan nada canda dari suara itu. Apalagi cara Jenny menatapku sekarang ini persis seperti ketika aku menatap tak senang pada Andy, sewaktu aku mendapati Andy sedang bercanda dengan siswi lain. Itu adalah tatapan cemburu!
“Jen?”, aku mendesis ragu.
“Tadi itu… waktu aku liat kamu nyerahin diri begitu aja… aku nggak suka! Kamu nggak boleh suka sama Dedi! Pokoknya nggak boleh! Lagian, ngapain juga sih kamu mau sama cowok sejelek itu?”, tanya Jenny dengan ketus.
“Aku nggak suka sama Dedi kok, Jen…”, aku membantah dengan cepat, karena aku memang tak merasa seperti itu.
“Bagus deh kalau kamu nggak suka. Dan tadi itu kamu sadar nggak sih kalau kamu itu lagi sakit?”, tanya Jenny, masih dengan nada yang ketus.
“Aku…”, kata kataku terhenti karena aku sudah tak tahu harus berkata apa.
Malu sekali rasanya kalau teringat betapa tadi itu aku bukan hanya menyerahkan diri, bahkan aku yang minta untuk digagahi oleh Dedi. Dan hal ini masih ditambah lagi dengan kekuatiranku akan nada cemburu yang kurasakan dari suara Jenny.
“Ya udah… yang penting kamu nggak boleh ninggalin aku… Eliza”, bisik Jenny sambil melingkarkan tangan kanannya di atas dadaku.
“Ih… kamu ini ada ada saja Jen…”, kataku sambil memeluk tangan Jenny yang menindih kedua bukit payudaraku ini
Aku berpikir untuk mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami yang menurutku jadi semakin menegangkan ini. Entahlah, aku memang suka bermesraan dengan Jenny yang cantik jelita ini. Bahkan aku ingin bercinta dengan Jenny seperti kemarin aku bercinta dengan Cie Stefanny.
Tapi menurutku semua ini hanyalah untuk bersenang senang saja, bukan karena aku jatuh cinta pada Jenny. Aneh sekali rasanya kalau kemudian Jenny memintaku supaya tidak ‘meninggalkan’ dirinya, yang berarti aku tak boleh mencintai seorang laki laki, mencintai dalam arti sesungguhnya.
Harus kuakui, gairah yang melandaku saat berduaan dengan Jenny sering membuatku lepas kontrol, apalagi kedekatan hubungan kami berdua memang sudah tidak sewajarnya seperti persahabatan erat biasa.
Tapi aku sadar betul kalau kami berdua sama sama wanita. Seberapapun kami saling sayang, kami tak mungkin bisa menikah. Lagipula aku sudah mengidamkan seorang lelaki di dalam hatiku, maka aku makin khawatir dengan perkataan perkataan Jenny tadi.
“Tau nggak? Aku jadi ingat waktu dulu kita liburan di villamu… udah capek capek ngelindungin kamu, eh malah kamunya yang nyerahin diri ke penjaga villamu itu”, kata Jenny yang kini seperti merenung.
“Jeen…”, aku merengek malu karena diingatkan kembali tentang kejadian itu.
“Apalagi waktu itu kamu pakai sayang sayangan sama Sherly, aku sampai iri ngeliat kalian berdua. Tapi nggak apa apa sih. Gara gara itu, sekarang kamu kan malah jadi kekasihku”, kata Jenny yang kemudian mencium bibirku dengan mesra.
“Emmphh…”, aku merintih senang, lagi lagi aku sudah lupa diri dan membalas ciuman Jenny dengan mesra dan sepenuh hati, dan kami berciuman sampai nafas kami sama sama tersengal sengal.
“Mmm… aku sayang sama kamu…”, guman Jenny yang kini malah memejamkan matanya dan menyusupkan wajahnya di pundak kananku.
Jantungku makin berdegup kencang, sesaat aku sadar dan teringat akan kecemburuan Jenny tadi, dan lidahku rasanya kelu untuk menjawab atau berkata sesuatu.
“Sayang… kamu istirahat ya…”, bisik Jenny dengan mesra.
Aku mengangguk lemah dan diam saja. Sekali ini aku mencoba benar benar beristirahat. Mataku kupejamkan, kubuang semua pikiran yang memusingkan kepalaku ini dan aku mulai menikmati istirahatku dalam pelukan Jenny.
Akhirnya aku benar benar tertidur, memberikan istirahat pada tubuhku yang sudah terlalu lelah akibat ngeseks berkali kali sejak kemarin…
-x-
VIII. Jam Istirahat Ke Dua Yang Penuh Gairah
Dadaku tiba tiba terasa sesak. Kecupan lembut pada bibirku membuatku perlahan mencoba membuka mataku. Setelah aku benar benar terbangun, aku mendapati Jenny yang menindih tubuhku sedang mengecup mesra bibirku, hingga aku tersenyum dan merintih manja.
“Sayang… udah bangun ya…”, desah Jenny menyapaku dengan tatapan mata yang sayu.
“Mmm…”, aku hanya bisa merintih, dan jantungku berdegup kencang seiring dengan bangkitnya gairahku.
“Kamu udah nggak sakit sayang?”, tanya Jenny sambil terus menciumi bibirku.
“Udah… mendingan sih, Jen… mmmhh…”, aku berusaha menjawab di tengah hujan ciuman dari Jenny ini.
“Bentar lagi jam istirahat ke dua nih, Eliza. Aku ambilkan baju seragammu di kelas, kita ganti baju di sini aja ya”, kata Jenny yang beranjak bangun.
Aku menganggukkan kepala walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa karena Jenny menghentikan cumbuannya padaku.
Jenny mengecup bibirku sekali lagi, lalu ia pergi keluar meninggalkanku di ruang UKS ini. Dering bel sekolah tanda jam istirahat ke dua sudah berbunyi. Aku kembali memejamkan mataku. Sambil menunggu Jenny, aku tersenyum senyum sendiri mengingat ingat kemesraan kami berdua ini.
‘klik’, kembali pintu ruang UKS ini terbuka.
Jenny masuk dengan membawa tas plastik, mengeluarkan dan menaruh isinya yang ternyata adalah baju seragam kami itu di atas meja. Jenny sendiri sudah berganti baju seragam sekolah. Lalu Jenny menatapku dengan senyuman nakal, membuatku kuatir dengan hal apa lagi yang kira kira akan dilakukan kekasihku ini terhadap diriku.
“Eliza, tadi aku ketemu pacarmu lho, bentar lagi dia mau ke sini”, kata Jenny.
“Eh? Siapa Jen?”, aku bertanya dengan bingung sekaligus penuh harap jika yang dimaksud Jenny adalah Andy.
“Ih… senangnya. Aku cemburu lho”, Jenny merajuk.
“Cemburu sama siapa Jen?”, tanya Sherly yang sudah masuk dan mengunci pintu ruang UKS ini, dan sekarang Sherly berdiri berada di samping Jenny.
“Sama kamu! Abisnya kekasihku ini senang sekali gitu waktu dia tau kamu mau ke sini”, jawab Jenny yang lalu langsung merangkul Sherly dan bibir mereka berdua saling berpagut dengan panasnya.
Sherly
Sherly
“Mmmhh…”, Sherly merintih mesra sambil memeluk Jenny.
“Ka… kalian?”, aku bertanya setengah tak percaya.
Pemandangan di depan mataku ini membuat nafasku mulai memburu. Kedua kekasihku yang cantik jelita ini saling memagut bibir dan saling peluk dengan begitu mesra. Kini pikiranku jadi melayang ke mana mana. Apa mereka berdua memang sudah terbiasa saling bermesraan seperti ini?
Terlintas di benakku tentang kekuatiranku tadi terhadap sikap Jenny yang sepertinya tak ingin aku mencintai orang lain. Dengan kejadian ini, aku berharap dugaanku tadi sama sekali tidak benar, melihat Jenny yang kini bersikap begitu mesra dengan Sherly di hadapanku.
Bahkan tadi ia sempat menggodaku http://kisahbb.wordpress.com/category/eliza-series-by-diankanon/ dengan mengatakan kalau Sherly itu pacarku. Mungkin saja tadi itu Jenny sekedar tidak rela melihatku menyerahkan diriku pada Dedi, mengingat penampilan Dedi yang sama sekali nggak setara denganku.
“Kenapa sayang… kamu jealous ya ngelliatin Jenny kucium seperti ini?”, tanya Sherly sambil menatapku dengan pandangan menggoda
“Masa sih jealous? Maafin aku ya sayang… mmm… kalau gitu… sebagai permintaan maaf…”, kata Jenny yang kemudian mendekatiku diikuti Sherly.
“Kalian mau apa…”, aku bertanya dengan suara gemetar karena aku menjadi tegang melihat ekspresi wajah mereka yang jelas sekali sedang merencanakan sesuatu.
“Nggak ngapa ngapain kok sayang. Kita ini perhatiin kamu lho… kamu kan lagi sakit. Jadi aku dan Sherly mau membantu gantiin baju kamu”, kata Jenny dengan senyum tertahan sambil duduk di samping kananku, bersamaan dengan Sherly yang sudah duduk di samping kiriku.
“Eh?”, aku menoleh ke arah Jenny dan Sherly dengan agak terkejut, dan sebelum aku bisa berbuat sesuatu, mereka mulai menelanjangiku.
Kaus olahragaku ditarik mereka ke atas, dan aku hanya pasrah mengangkat tanganku, memudahkan Jenny dan Sherly melucuti kaus olahragaku ini.
“Duh… aku udah kangen deh sama punya Eliza ini”, kata Sherly yang kemudian menyusupkan wajahnya pada bukit payudara kiriku yang masih terbungkus bra ini, memaksaku menggeliat lemah menikmati cumbuan Sherly pada bukit payudara kiriku ini.
“Aku juga kangen…” desah Jenny dengan tatapan matanya yang sayu, dan kemudian Jenny ikut menyusupkan wajahnya pada bukit kanan payudaraku.
“Mmhh… ooh… kalian curang…”, aku merengek manja sambil mulai meremas remas rambut milik kedua kekasihku ini.
“Kok bisa curang sih sayang…”, desah Sherly di antara nafasnya yang memburu.
“Kalian kan… berdua… aku cuma satu… angghk…”, aku tak mampu meneruskan omelan manjaku ini karena aku harus melenguh melepaskan gejolak birahi akibat rangsangan hebat yang melandaku ketika Sherly kembali menekan payudara kiriku dengan wajahnya.
“Udah deh Sher… kalau kita sayang sayangan sama Eliza terus gini, kapan Eliza ganti bajunya?”, kata Jenny yang tiba tiba menghentikan cumbuannya pada payudara kananku.
“Iya iya… ayo Jen, kita bantuin Eliza untuk ganti baju”, kata Sherly sambil menggigit bibirnya dan menatapku dengan penuh gairah, membuatku tersenyum malu dan jantungku berdebar semakin kencang.
Jenny mengambil baju seragam sekolahku, sementara Sherly sudah mulai mengaitkan kedua jari telunjuk tangannya ke bagian pinggangku, menurunkan celana olahragaku. Aku hanya bisa menatap Sherly dengan tegang tanpa tahu harus berbuat apa selagi ia akan segera menelanjangiku.
Walaupun mereka berdua sudah pernah melihat tubuhku tanpa busana, tetap saja rasanya aneh dan kacau kalau mereka melucuti pakaianku di sekolah seperti sekarang ini. Aku merasa seolah akan diperkosa saja oleh kedua kekasihku ini.
“Ya ampun… Eliza?”, tanya Sherly yang terbelalak melihat ke arah selangkanganku.
Inilah salah satu hal yang kutakutkan sejak tadi. Sekarang ini Sherly pasti sudah melihat lubang yang tadi dibuat oleh Dedi pada jahitan di bagian selangkangan celana olahragaku. Reflek aku menurunkan kedua tanganku menutupi lubang itu, tapi aku sadar kalau Sherly tentu tak akan membiarkanku begitu saja.
“Buka dulu dong sayang, aku kan juga mau lihat”, kata Sherly lembut sambil menyingkirkan kedua tanganku.
“Jangan Sher… aku mmpph…”, kata kataku terputus ketika tiba tiba Jenny sudah memagut bibirku.
Selagi aku disibukkan oleh serangan Jenny, Sherly mulai menggoda liang vaginaku. Kurasakan satu jari tangan yang pasti milik Sherly itu mulai menguak sobekan pada bagian selangkangan celana olahragaku.
Kemudian jari itu menerobos masuk melalui lubang itu, membelah bibir vaginaku yang masih terkatup rapat ini. Jari itu terus melesak masuk dan mulai mengaduk liang vaginaku. Aku meronta lemah, tapi aku masih terlalu lemas untuk berbuat sesuatu.
“Mmpphh… ooohh… ngghhhk…”, aku merintih dan melenguh diterjang rangsangan bertubi tubi yang diberikan oleh kedua kekasihku ini, dan kepalaku kugelengkan kuat kuat, rasanya aku tak kuasa menahan siksaan kenikmatan ini.
“Sayang… ayo dong aku cium dulu”, bisik Jenny mesra dan menahan gelengan kepalaku dengan kedua tangannya, lalu ia memagut bibirku kembali.
“Mhhh…”, aku merintih tertahan.
Kini aku hanya bisa pasrah membiarkan kedua kekasihku ini berbuat sesuka hati mereka padaku. Kedua tanganku yang tadinya kupakai untuk mencoba mendorong tangan nakal Sherly ini sudah melemas, membuat Sherly makin leluasa menggoda liang vaginaku.
Aku sendiri mulai membalas pagutan Jenny untuk menikmati ‘perkosaan’ ini, sambil menunggu datangnya orgasme yang akan menyiksa tubuhku.
“Eliza… kamu sexy sekali…”, kudengar bisikan Sherly yang kini dengan nakal melesakkan jari tangannya yang ke dua ke dalam liang vaginaku.
“Engghh…”, aku terbeliak dan mengejang sambil melenguh antara kesakitan dan keenakan.
“Sayang, jangan ribut dong… nanti ketauan yang lain nih…”, desah Jenny yang lalu kembali memagut bibirku, membungkam lenguhanku yang makin menjadi karena Sherly terus mengaduk liang vaginaku tanpa belas kasihan.
Aku menggelepar sejadi jadinya di atas ranjang ini menikmati semua sensasi yang menjalari sekujur tubuhku. Kedua kakiku melejang tak karuan ketika rasa ngilu yang amat sangat ini mendera liang vaginaku.
Sprei ranjang tempat aku dibantai kedua kekasihku ini kucengkram kuat kuat dengan kedua telapak tanganku ketika gejolak liar itu mulai melanda tubuhku. Rasa ngilu yang makin menjadi pada liang vaginaku ini menandai datangnya orgasmeku. Kedua betisku melejang lejang tak karuan, dan cairan cintaku mulai membanjir.
Sherly dengan cepat mencabut jari tangannya, lalu ia tega menambah siksaan ini dengan memagut bibir vaginaku dan menyeruput semua cairan cintaku. Getaran nikmat yang menjalari sekujur tubuhku ini makin menghebat ketika Jenny yang masih melumat bibirku ini dengan nakal meremasi kedua payudaraku ini bergantian.
Pandanganku sudah mulai kabur dan aku mulai kehabisan nafas. Aku benar benar tak berdaya digempur kedua kekasihku ini, yang seperti berkerja sama untuk membuatku tersiksa dalam orgasme. Kini aku hanya bisa berharap semoga mereka segera menghentikan kenakalan mereka ini.
Akhirnya Sherly selesai menghisap habis cairan cintaku dan melepaskan pagutannya pada bibir vaginaku, sementara Jenny memang melepaskan pagutannya pada bibirku. Tapi kini Jenny mengecup mataku, pipiku, lalu sekujur wajahku. Mati matian aku berusaha mengatur nafasku dan menekan gairahku, walaupun kedua pahaku ini kurapatkan, menikmati sisa sisa dari sensasi orgasme tadi.
“Sayang… aku lepas celana olahragamu ya…”, kata Sherly dengan senyum yang nakal.
“Mmmhh…”, aku hanya bisa merintih di tengah hujan ciuman dari Jenny ini.
Sherly melucuti celana olahragaku ini, dan Jenny seperti bekerja sama dengan Sherly, ia melucuti kaus olahragaku. Kini aku tinggal mengenakan bra di hadapan mereka berdua. Dan sesaat kemudian, Jenny dan Sherly memapahku hingga aku berdiri.
Tak bisa kupungkiri, aku memang suka bercinta dengan mereka, tapi kondisi badanku saat ini benar benar hancur hancuran. Aku sudah akan merengek supaya mereka menghentikan penyiksaan ini, tapi Sherly meletakkan jari telunjuk kanannya pada bibirku.
“Enggak kok sayang, sekarang udah waktunya kamu pakai baju seragam. Kalau nggak, bisa bisa kita nggak keluar keluar dari sini”, bisik Sherly pada telinga kiriku.
“Ini salah kamu juga Eliza. Abisnya kamu sexy sih”, Jenny menggodaku dengan tatapan nakal.
“Tapi jangan kuatir deh sayang, nanti kita lanjutin di rumahmu kok”, kata Sherly sambil mengecup telinga kiriku ini, membuatku menggigil dalam birahi.
“Hah?”, sesaat kemudian aku nyaris memekik karena terkejut menyadari arti perkataan Sherly.
“Iya, kamu kan lagi sakit, jadi nanti kamu nggak boleh pulang sendiri Eliza! Aku dan Sherly yang antar kamu pulang!”, kata Jenny.
Akupun mengangguk pasrah, walaupun hatiku menjadi resah. Teringat kalau di rumahku sekarang ini, Cie Stefanny mungkin masih menjadi bulan bulanan dua atau tiga serigala itu. Entah apa yang akan terjadi kalau Jenny dan Sherly melihat semua itu. Dan entah apa pula yang terjadi kalau mereka itu melihat kecantikan dua kekasihku ini.
Lamunanku buyar ketika Jenny mulai menghanduki tubuhku yang banjir keringat ini dengan handuk kecil yang memang selalu kubawa kalau ada mata pelajaran olahraga. Lalu Jenny memakaikan baju seragam sekolahku. Sherly juga memakaikan rok seragam sekolahku hingga aku sudah tak telanjang lagi. Aku duduk kembali di ranjang untuk mengenakan kaus kaki dan sepatuku.
“Udah yuk, kita balik ke kelas”, ajak Jenny.
“Tapi sebelumnya cium dulu dong”, kata Sherly yang langsung saja memagut bibirku dengan mesra.
“Mmm…”, aku merintih manja dan membalas pagutan bibir Sherly.
“Aku juga dong”, kata Jenny begitu ciumanku dan Sherly terlepas, dan Jenny langsung memagut bibirku tanpa memberiku kesempatan untuk bernafas.
“Mmmh… udah dong… kalian ini mau memperkosa aku sampai kapan?”, aku pura pura menggerutu ketika akhirnya Jenny puas memagut bibirku.
Kami semua tertawa geli, dan akhirnya acara sayang sayangan antara aku, Jenny dan Sherly ini berakhir juga. Setelah saling merapikan penampilan, kami semua keluar dari ruang UKS ini, ruang yang kini tak hanya meninggalkan kenangan pahit buatku, tapi juga kenangan indah berupa saat saat bercinta dengan Jenny dan Sherly.
-x-
Saat Saat Yang Indah
“Hai Eliza… hai semua”, Andy menyapa kami begitu kami bertiga keluar dari pintu ruang UKS ini.
“Eh… hai Andy”, aku membalas sapaan Andy dengan gugup.
Entah sejak kapan Andy menungguku di luar ruang UKS ini, dan aku tak berani membayangkan kalau tadi lenguhanku saat Jenny dan Sherly merangsang tubuhku itu terdengar oleh Andy.
Selagi Jenny dan Sherly membalas sapaan Andy, aku merasa gelisah dan berharap harap cemas, semoga saja Andy tak mendengar apapun saat Jenny dan Sherly membuatku merintih dan melenguh di dalam ruang UKS tadi.
“Eee… aku bawain kamu Aqua ini… kamu tadi sakit ya?”, tanya Andy yang menyodorkan satu Aqua gelas, tapi ia terus menunduk seperti tak berani menatapku.
“Cieee… kok baik amat sih sama Eliza? Hayoo…”, Jenny mulai usil dan menggoda Andy.
“Eliza, ayo diterima dong. Kamu nggak kasihan ya sama Andy dari tadi terus megangi gelas itu buat kamu?”, Sherly ikut meledek, membuatku semakin gugup.
“I… iya… makasih ya Andy”, kataku dengan pelan.
“Ya udah kami kembali ke kelas dulu ya Eliza. Andy, jagain Eliza ya! Awas lho kalau sampai Eliza kenapa kenapa”, kata Jenny yang lalu menggandeng tangan Sherly setelah Andy mengangguk, dan mereka meninggalkanku dalam situasi yang membuatku menggigit bibir antara malu, tegang dan senang.
Beberapa saat kami saling diam. Aku sendiri sekarang ini entah harus berkata apa, berhadapan dengan lelaki yang selama ini diam diam kuidamkan dalam hati ini.
“Eliza… kamu sakit apa?”, tiba tiba Andy bertanya dengan suara pelan, namun cukup jelas bagiku kalau suara itu bergetar.
“Aku nggak sakit kok Andy, tadi itu aku cuma kecapaian. Mmm… kamu kok tau sih aku ada di sini?”, tiba tiba aku jadi penasaran dan sekalian mencoba mencairkan suasana yang menurutku sedikit canggung ini.
“Tadi waktu jam istirahat kedua, aku menyerahkan daftar absen ke pak Harjono. Oh iya, pak Harjono itu wali kelasku. Dan tadi pak Harjono sempat bercerita, ada murid kelas sebelah yang pandai dan rajin, belajar sampai lupa waktu dan lupa istirahat. Akibatnya waktu jam olahraga, murid itu sampai harus istirahat UKS. Terus aku jadi ingin tahu siapa yang dimaksud pak Harjono, dan menanyakan nama murid itu. Ketika pak Harjono menyebut nama Eliza, aku pikir itu pasti kamu… aku… aku…”, Andy mulai gugup.
Aku menunduk dengan rasa senang yang entah bisa kusembunyikan atau tidak. Andy sampai membawakan minuman untukku setelah ia tahu kalau aku sakit dan harus istirahat di UKS. Senang sekali mendapat perhatian seperti itu dari Andy.
‘kriiing…’, bel tanda jam istirahat kedua berakhir ini berbunyi, membuatku kecewa karena ini berarti saat saat bersama Andy sekarang ini juga harus berakhir.
“Eliza, kamu baik baik saja? Kamu nggak apa apa kalau jalan sendiri ke kelas? Aku…”, Andy tak melanjutkan kata katanya, dan ia malah menunduk.
Lagi lagi aku tersenyum senang, dan aku memandang ini adalah kesempatan untuk memberikan ‘signal’ pada Andy, semoga setelah ini ia lebih berani mendekatiku.
“Aku memang sudah enakan, tapi nggak tau ya… ada apa apa gimana maksudnya? Memangnya kenapa ya Andy, kok kamu nanyain itu?”, tanyaku sambil memasang senyum semanis mungkin, dan terbersit setitik harapan di dalam hati ini kalau Andy akan menemaniku kembali ke kelasku.
“Aku… kalau kamu nggak… aku… boleh aku temani kamu kembali ke kelas?”, tanya Andy yang masih menunduk dan tak berani memandangku.
“Boleh sih. Tapi kalau nanti ada yang marah sama kamu gara gara kamu antarin cewek lain, gimana coba?”, lagi lagi aku menggoda Andy sekaligus mencari tahu apa Andy sebenarnya sudah punya pacar.
“Ah… nggak ada… sungguh, nggak ada kok. Ayo Eliza”, ajak Andy yang terlihat malu tapi sesekali ia menatapku, seperti berharap aku mau ditemaninya sampai kembali ke kelas.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kami berjalan berdampingan ke arah kelasku tanpa saling berbicara, namun sesekali Andy menoleh padaku dan tersenyum. Kurasakan tatapan iri dari beberapa mata murid perempuan yang memandangku, membuatku diam diam merasa bangga.
Kalau saja status kami ini adalah pacar, aku tak akan segan segan memamerkan sikap mesraku dengan menggandeng tangan Andy. Tapi aku memutuskan untuk menjaga sikap dan tak membuat Andy merasa risih padaku.
“Eliza, aku kembali ke kelas dulu. Oh iya, kamu jangan lupa istirahat ya, jangan sakit lagi”, kata Andy.
“Iya… makasih ya Andy”, aku menjawab sambil mengangguk dengan hati yang berbunga bunga.
Aku berjalan menuju ke kursiku. Diam diam aku merasa lega, sepertinya tidak ada tanda tanda kalau Andy tahu tentang aksi sayang sayangan antara aku, Jenny dan Sherly di ruang UKS tadi.
Di samping kursiku, Jenny sudah menunggu, pastinya ia sudah siap untuk menggoda dan meledekku habis habisan. Aku bisa melihat pandangan matanya yang jenaka dan usil itu. Dan memang, itulah yang terjadi ketika aku sudah duduk di kursiku. Tapi aku sama sekali tak berusaha membela diri atau balas meledek Jenny, karena sebenarnya aku merasa bahagia.
Ya, aku sedang merasa bahagia. Tadi itu Andy sudah mulai memperlihatkan perhatiannya padaku. Aku merasa mempunyai harapan besar, bahwa Andy menyukaiku. Semoga semua ini bukan sekadar mimpi indah untukku.
“Hei… digodain kok malah melamun… cieee, yang jatuh cinta…”, bisik Jenny sambil mencubit tanganku.
“Aduh… sakit Jen…”, aku mengeluh dan tersadar dari lamunanku, dan kata kata Jenny membuatku jadi teringat tentang kekuatiranku akan sikap aneh Jenny di ruang UKS tadi.
Tapi aku melihat Jenny tersenyum, dan aku merasa senyuman itu begitu tulus. Aku menatap Jenny dalam dalam dan ketika aku melihat Jenny mengangguk lembut, aku merasa lega dan semua kekuatiranku lenyap dalam senyumanku.
Oh, hari ini benar benar indah. Aku tak ingin mengingat semua kejadian pahit yang menimpaku di hari ini, aku juga tak ingin memikirkan apa nanti yang akan terjadi ketika Jenny dan Sherly mengantarku sampai ke rumah dan Cie Stefanny masih menjadi bulan bulanan oleh tiga pejantan itu. Sekarang ini aku hanya ingin mengingat saat saat bersama Andy.
Dua jam pelajaran terakhir ini terasa berlalu begitu cepat, termasuk Geografi, jam pelajaran terakhir yang diajar oleh pak Edy, wali kelasku yang bejat itu. Aku tak memperdulikannya, tak ingin mendengarkan apapun darinya. Soal catatan, aku bisa meminjam Jenny, atau mungkin Rini si kutu buku itu kalau kalau Jenny juga malas memperhatikan dan mencatat pelajaran ini.
Lagipula kali ini sepertinya pak Edy masih agak shock akibat kedatangan pak Harjono di ruang UKS saat ia sedang asyik mencabuli Jenny. Sekarang ini pak Edy lebih banyak menerangkan sambil membaca bukunya, tak seperti biasanya yang berkali kali memandangiku di sela sela menerangkan pelajaran dengan tatapan cabulnya yang seperti ingin melihat isi bajuku ini.
Maka aku dan Jenny bisa lebih ‘tenang’ kali ini, bebas dari gangguan guru bejat itu. Bahkan aku dan Jenny sesekali mengobrol walaupun kami menjaga volume suara kami supaya tak sampai mengganggu yang lain dan dijadikan pak Edy alasan untuk membuat kami susah.
Setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi, seperti biasa kami segera membereskan buku buku kami sebelum menutup dengan doa. Dan aku terkejut ketika Jenny menadahkan tangannya di atas tasku, seperti sedang meminta sesuatu dariku.
“Mana kunci mobilmu, Eliza?”, tanya Jenny.
Aku baru ingat kalau nanti ini aku diantar pulang oleh Jenny, dan juga Sherly. Sebenarnya aku tak enak membuat mereka repot, tapi tadi aku sudah mengiyakan. Jadi aku lebih takut menyinggung mereka kalau tiba tiba aku menolak. Maka kuberikan kunci mobilku pada Jenny. Tak lama kemudian Sherly juga datang.
“Yuk kita antar bidadari kita ini pulang”, kata Sherly pada Jenny.
“Iya, bidadari kita yang lagi jatuh cinta”, ledek Jenny.
“Jeen…”, aku merengek manja.
“Iya iya sekarang aku diam deh. Tapo nanti kita ledekin kamu di rumahmu sampai puas”, kata Jenny sambil menggandeng tangan kananku dan mengajakku pulang.
“Bisa nggak ya kita buat pangerannya Eliza ini cemburu sama kita?”, tanya Sherly sambil menggandeng tangan kiriku.
“Duh… kalian ini apaan sih…”, aku kembali merengek, padahal hatiku senang sekali.
“Ih malah senyum senyum… awas kamu nanti di rumah, bibir kamu pasti abis”, bisik Sherly.
“Nanti di kamarnya, bidadari kita ini enaknya diapain ya…”, kata Jenny sambil menatapku nakal.
“Ya terserah deh kalian mau apain. Dasar, kalian ini memang curang, beraninya main keroyok”, kataku sambil meleletkan lidah.
Mereka berdua tertawa geli sambil terus menggandeng kedua tanganku ke arah parkiran mobil. Ketika kami sudah sampai di depan mobilku, Jenny dan Sherly menelepon sopir masing masing. Jenny meminta sopirnya mengikuti mobilku ke rumah, sedangkan Sherly meminta sopirnya untuk langsung pulang karena nanti Sherly akan diantar pulang oleh Jenny.
“Makasih ya kalian sampai repot gini”, aku menyatakan rasa terima kasihku dengan tulus.
“Nggak apa apa kok Eliza. Yang penting…”, kata Sherly sambil membuka pintu kiri depan mobilku.
“Yang penting bidadari kita ini baik baik saja”, kata Jenny dan membimbingku duduk di depan.
“Terus aku dan Sherly bisa merawat sambil menyayangi bidadari yang satu ini”, kata Jenny.
“Duh… nasibku ini…”, aku pura pura menghela nafas panjang, dan cukup untuk membuat mereka kesal dan menggelitiku sampai aku minta minta ampun.
Kini Sherly duduk di belakang dan Jenny yang menyetir mobilku. Sepanjang perjalanan pulang, mereka terus meledekku soal Andy, membuatku tersenyum malu namun senang. Sesekali Sherly membelai rambutku dengan mesra. Tak terasa akhirnya sampai juga kami di depan pintu gerbang rumahku.
Aku memencet remote untuk membuka pintu pagar, lalu Jenny melajukan mobilku ke dalam garasi. Lalu mereka berdua membimbingku turun dari mobil, dan aku merasa beruntung diantar oleh mereka karena kini kembali merasa lemas.
Sherly menjagaku sementara Jenny menuju ke depan sebentar, dan kudengar ia meminta sopirnya untuk menunggu di mobil. Setelah itu Jenny dan Sherly kembali menggandeng kedua tanganku, dan mereka mengajakku ke kamarku.
Ketika kami sudah sampai di depan pintu kamarku, jantungku berdebar dengan kencang. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ternyata saat kami masuk nanti, tiga maniak itu masih asyik mereguk kenikmatan dari tubuh Cie Stefanny.
Kalau itu yang terjadi, entah apa reaksi Cie Stefanny melihat kedatangan kami, entah apa reaksi para pejantan itu kalau mereka melihat kecantikan Jenny dan Sherly, dan entah apa reaksi Jenny dan Sherly sewaktu mereka melihat pesta seks itu nanti.
-x-
Kemesraan Di Rumah
“Lho… ini kok seperti sepatu Cie Stefanny?”, Jenny bertanya tanya sendiri ketika ia memandang sepasang sepatu yang terletak tak beraturan di depan keset pintu kamarku.
“Bener Jen? Eh kebetulan dong kalau gitu. Ayo Eliza… kenalkan aku ke Cie Stefanny dong”, kata Sherly dan ia langsung membuka pintu kamarku lalu masuk ke dalam.
“Sher…”, aku berkata ragu, tapi aku tak meneruskan kata kataku ketika aku melihat Sherly berhenti melangkah dan seperti tertegun karena melihat sesuatu.
“Ada apa Sher?”, tanya Jenny yang ikut masuk ke dalam kamarku, dan kini Jenny juga tertegun.
Aku tak punya pilihan lain, aku masuk ke dalam kamarku dan segera mengunci pintu. Lalu aku terus melangkah ke arah Jenny dan Sherly, untuk melihat sendiri apa yang dilihat mereka di situ sehingga mereka berdua tertegun seperti itu. Aku tak terlalu terkejut melihat Cie Stefanny yang dalam keadaan telanjang bulat, terbaring begitu saja di atas ranjangku dengan rambut yang sedikit awut awutan.
Dan Cie Stefanny entah sedang pingsan atau tertidur. Aku menduga Cie Stefanny kelelahan setelah diajak ngeseks oleh Wawan dan Suwito tanpa henti, dan mungkin juga tadi pak Arifin ikut ambil bagian menikmati Cie Stefanny.
“Ya ampun… Eliza… ini…”, Jenny mendesis lirih.
“Eliza… Cie Cie ini… ya ampun… cantik sekalii…”, Sherly berkata kagum sambil terus menatap ke arah Cie Stefanny.
“Iya… Sher. Dan… ini Cie Stefanny, Sher”, aku berkata dengan pelan.
“Eh?”, Sherly memandangku seperti tak percaya.
“Iya, ini memang Cie Stefanny, Sher”, kata Jenny sambil melangkah maju, lalu duduk di ranjangku dengan perlahan sambil menatap ke arah Cie Stefanny yang masih terbaring pulas.
Sherly juga ikut duduk di samping Jenny. Dengan hati hati mereka menyelimuti tubuh telanjang Cie Stefanny, tapi tiba tiba Cie Stefanny merintih perlahan. Ternyata Cie Stefanny tetap terbangun juga walaupun tadi itu Jenny dan Sherly sudah sangat hati hati menyelimutkan selimut itu.
“Eh… sorry Cie, tapi…”, kata Jenny dan Sherly hampir berbareng.
“Nggak apa apa… makasih ya…”, kata Cie Stefanny dengan lembut sambil mendekap selimut itu hingga menutup tubuh Cie Stefanny sampai ke dada.
“Cie… sorry ya… Eliza nggak tau kalau Cie Cie masih di sini…”, aku berkata pelan dan aku sedikit merasa bersalah.
“Nggak apa apa, Eliza… ini salah Cie Cie juga kok…”, kata Cie Stefanny sambil tersenyum manis padaku, membuatku teringat kembali bagaimana kemarin aku menyukai senyuman dari wajah yang amat cantik itu, dan jantungku kembali berdegup kencang.
“Cie, ini teman teman Eliza. Kalau Jenny Cie Cie udah tau kan, nah yang ini namanya Sherly. Sher, ini Cie Stefanny”, kataku memperkenalkan Sherly dengan Cie Stefanny.
Cie Stefanny dan Sherly saling bersalaman dan tersenyum manis. Sherly langsung menyatakan keinginannya untuk les bahasa Inggris pada Cie Stefanny, dan mereka segera terlibat pembicaraan untuk mengatur jadwal les.
Sementara itu Jenny mendekatiku, dan menatap heran padaku, seperti bertanya tanya padaku apa mungkin bisa yang terjadi pada Cie Stefanny sampai tertidur dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjangku seperti tadi.
Aku sadar kalau Jenny juga sudah tahu bahwa jadwal les bahasa Inggrisku adalah kemarin. Seharusnya aku hanya akan menceritakan tentang perkosaan yang menimpaku di tempat tambal ban kemarin, tapi kelihatannya aku tak bisa berbohong kalau Cie Stefanny menginap di sini.
Aku bisa saja menceritakan pada Jenny kalau aku telah bercinta dengan Cie Stefanny, tapi aku sendiri tak tahu bagaimana aku menjelaskan mengapa di siang ini Cie Stefanny tertidur dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjangku.
“Cie Stefanny… kemarin malam menginap di sini…”, aku berkata pelan.
“Terus…?”, tanya Jenny yang kini terlihat semakin penasaran.
“Mmm… aku…”, kembali aku tergagap tak tahu harus berkata apa.
Aku teringat kalau aku sudah berjanji pada Cie Stefanny bahwa aku tak akan menceritakan kejadian kemarin pada siapapun. Tapi sekarang situasi menjadi sulit bagiku. Kalau aku bercerita, berarti aku melanggar janjiku pada Cie Stefanny. Tapi kalau aku tak bercerita, mungkin Jenny akan kesal padaku.
Bahkan sekarang Sherly juga melihatku seperti sedang menungguku menceritakan apa yang kuketahui, membuatku makin bingung dan memandang ke arah Cie Stefanny.
“Eliza, nggak apa, biar Cie Cie yang cerita”, kata Cie Stefanny.
Aku mengangguk lega, dan kini kami semua duduk di ranjangku, mengelilingi Cie Stefanny yang terbaring di tengah. Cie Stefanny menarik nafas panjang, lalu ia beranjak duduk, hingga kedua payudaranya yang indah itu kembali terlihat.
“Kemarin, Eliza mengajak Cie Stefanny tidur di sini…”, Cie Stefanny mulai menceritakan bagaimana aku tiba tiba mencumbuinya, kemudian memaksanya untuk menginap dan di malam harinya aku bahkan ‘memperkosa’ Cie Stefanny.
“Ih… sayang… kamu nakal sekali… masa Cie Stefanny kamu perkosa…”, kata Sherly sambil merangkulku.
“Iya… kamu kok jadi nakal gini sih?”, Jenny meledekku tapi kemudian ia mendekatiku dan mengecup bibirku dengan mesra.
“Mmmh… kalian ini… ya seperti sekarang ini… aku jadi gini kan juga gara gara kalian tau mmpph…”, aku mulai mengomel, tapi omelanku terhenti ketika tiba tiba Jenny melumat bibirku dengan ganas.
“Mmhh… udah dong… kamu nggak kasian ya sama aku… aku kan capek… lagian ada Cie Stefanny nih… kamu nggak malu ya Jen”, aku merengek manja ketika Jenny melepaskan bibirku.
“Kamu kan udah istirahat tadi di sekolah… lagian, nggak apa apa kan Cie?”, tanya Jenny dengan manja pada Cie Stefanny.
“Kalian ini…”, Cie Stefanny tersenyum geli.
“Terus, masih ada lanjutannya nggak Cie?”, tanya Sherly dengan antusias.
“Iya, masih ada. Nah, abis itu Cie Cie dan Eliza tidur. Tapi malam itu…”, kata Cie Stefanny melanjutkan ceritanya, tentang pak Arifin, Wawan dan Suwito yang menerobos masuk kamarku lewat jendela di tengah malam, sampai ketika aku melakukan ‘live show’ di depan Cie Stefanny, yang akhirnya membuat Cie Stefanny takluk juga dalam gairahnya dan mau mencoba keperkasaan tiga pejantan itu.
“Ya ampun… Eliza… Bukannya ngusir mereka, eh… malah… duh duh… kamu ini ternyata nakal abis”, kata Sherly sambil menggeleng gelengkan kepalanya sambil menatapku dengan usil.
“Biarin…”, aku membela diri sambil meleletkan lidah pada Sherly.
“Pantesan… kamu sampai ngantuk seperti itu di sekolah. Pakai alasan belajar sampai malam. Nggak taunyaaaa… kamu…”, kata Jenny yang juga ikut menggeleng gelengkan kepalanya dan lalu memonyongkan bibirnya meledekku.
“Abisnya, masa aku cerita sama kalian kalau aku abis sayang sayangan sama Cie Stefanny? Ntar kalian malah iri lagi sama aku. Belum lagi kalau nanti ada yang lain yang nggak sengaja dengerin ceritaku, terus ikut iri juga, kan malah aku yang jadi sengsara di sekolah?”, kataku sambil meleletkan lidah.
Kami semua tertawa geli, lalu Cie Stefanny juga menceritakan tentang kejadian tadi pagi. Sebenarnya sekitar jam 8 pagi Cie Stefanny sudah bangun dan berniat untuk segera pulang. Cie Stefanny mandi dulu, lalu memakai bajunya yang kemarin.
Setelah merapikan penampilan dan menyisir rambutnya, Cie Stefanny membuka pintu kamarku yang tadinya masih terkunci, lalu Cie Stefanny berjalan menuju ke garasi. Di situ Cie Stefanny memanggil Sulikah, bermaksud meminta tolong dibukakan pintu gerbang.
Tapi yang menemui Cie Stefanny bukannya Sulikah, melainkan Wawan yang hanya bertelanjang dada dan bercelana pendek. Tak ada yang bisa dilakukan Cie Stefanny selain merengek dan memohon agar dilepaskan ketika Wawan langsung menyergap dan mendekapnya dengan bernafsu.
Ketika Suwito dan pak Arifin keluar karena mendengar rengekan Cie Stefanny, dan melihat Cie Stefanny sedang meronta dalam pelukan Wawan, mereka segera membantu Wawan menyeret Cie Stefanny ke dalam kamarku.
Mereka sama sekali tak memperdulikan rengekan Cie Stefanny yang terus minta dilepaskan dan diperbolehkan pulang. Cie Stefanny bahkan sampai berjanji pada mereka untuk datang lebih awal setiap memberikan les padaku sehingga mereka bisa menggagahi Cie Stefanny terlebih dahulu. Tapi mereka bertiga hanya tertawa tawa dan malah meremasi payudara Cie Stefanny.
Dan setelah mereka membopong Cie Stefanny yang terus merengek sampai ke dalam kamarku, tanpa membuang waktu mereka segera menelanjangi Cie Stefanny, kemudian mereka beramai ramai menggagahi Cie Stefanny di atas ranjangku.
Cie Stefanny akhirnya menyerah, dan melayani nafsu tiga pejantan di rumahku ini. Ketika menerima telepon dariku di pagi tadi sewaktu jam istirahat pertama sekolahku, yaitu sekitar pukul 08:45, pesta seks itu baru dimulai sekitar 10~15 menit.
Mereka terus bergantian menggagahi Cie Stefanny sampai akhirnya sekitar jam 11:00 mereka semua kehabisan tenaga karena kelelahan. Puas menggagahi Cie Stefanny, mereka meninggalkan Cie Stefanny yang masih dalam keadaan telanjang bulat itu begitu saja.
Cie Stefanny sendiri terbaring lemas tanpa daya di atas ranjangku, dan kemudian Cie Stefanny tertidur karena kelelahan. Dan kelihatannya Cie Stefanny sudah tak diapa apakan lagi oleh mereka sampai ketika kami semua pulang sekolah dan membuat Cie Stefanny terbangun.
“Mereka itu gimana sih… tadi malam udah ngerjain aku dan Cie Cie, paginya masih juga…”, aku mulai mengomel dengan kesal.
“Dasar, beraninya cuma main gangbang saja”, Sherly juga ikut mengomel, tapi kata kata Sherly itu membuat kami semua tertegun dan menatapnya.
“Coba kalau kita kita yang lebih banyak, aku yakin mereka yang akan merangkak tak bisa berdiri kalau kita peras abis spermanya”, kata Sherly lagi dengan ketus.
“Ya ampun Sher…”, kata Jenny yang tertawa geli.
Aku dan Cie Stefanny saling pandang, lalu kami berdua juga tertawa geli. Sherly masih cemberut, dan ia menaruh tasnya di atas meja belajarku, lalu mulai merapikan penampilannya dan menyisir rambutnya dengan rapi di depan meja riasku hingga ia terlihat semakin cantik. Kemudian Sherly duduk di sofa kamarku sambil termenung sejenak, sepertinya Sherly sedang memikirkan sesuatu.
“Eliza, keluargamu ada yang sedang di rumah nggak sekarang ini?”, tanya Sherly.
“Nggak ada siapa siapa sih Sher. Papa mamaku ada urusan kerja, kokoku juga kebetulan lagi ikut menemani papa mamaku. Kalaupun mereka pulang, kira kira nanti jam lima atau jam enam sore. Emang kenapa Sher?”, tanyaku balik. Cerita dewasa ini di upload oleh situs
“Kalau gitu, yuk, kita balas mereka”, kata Sherly membuat kami semua kembali terkejut.
“Maksudnya Sher?”, aku bertanya heran.
“Ya kita balas. Aku mau liat sampai di mana mereka bisa tahan melawan kita bertiga”, kata Sherly dengan cueknya, seperti sedang mengatakan hal yang wajar.
“Eh? Kok kita bertiga?”, Jenny juga bertanya heran.
“Iya. Kan Cie Stefanny masih lemas abis dibantai mereka bertiga. Jadi kita bertiga aja yang peras sperma mereka sampai abis. Sekalian membalas apa yang mereka lakukan sama Cie Stefanny”, kata Sherly.
“Lho… kok aku jadi ikutan?”, aku memprotes.
“Iya. Kok aku juga?”, Jenny ikut memprotes.
“Abisnya sama siapa lagi dong? Masa aku sendiri yang melawan mereka bertiga? Nanti bisa bisa aku dibantai abis seperti Cie Stefanny dong? Udah ah, ayo! Masa kalian biarin aku sendirian?”, Sherly merengek sambil mengajak kami untuk menemui tiga pejantan itu.
Cerita Sex The Wedding Red Stain
“Yah… sayang, kalau nurutin Sherly, kamu nggak jadi istirahat dong…”, kata Jenny sambil membelai rambutku.
“Iya nih… Sherly ini ada ada saja kok”, kataku sambil melirik Sherly.
“Ayolah… masa sih kalian benar benar tega biarin aku dikeroyok sama mereka?”, rengek Sherly lagi.
“Iya iya deh…”, keluh Jenny dengan gaya yang lucu, membuatku tertawa geli dan ikut mengangguk.
“Nah… gitu dong”, kata Sherly senang sambil mengecup bibirku dan bibir Jenny dengan mesra.
“Kalian… anu… Cie Cie ikut”, kata Cie Stefanny pelan dengan wajahnya yang cantik jelita itu merona merah.
Aku menatap Cie Stefanny dan tertegun.
“Cie Cie? Apa Cie Cie nggak istirahat aja? Kayaknya Cie Ce masih lemas gini?”, tanya Sherly dengan nada kuatir.
“Nggak, nggak apa apa Sherly… Cie Cie udah enakan kok… Cie Cie udah tidur kan tadi. Lagian, Cie Cie mau bantuin kalian. Kalau kita berempat dan mereka bertiga, kan lebih baik”, kata Cie Stefanny sambil beranjak bangun sambil membelitkan selimut itu ala kadarnya untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang bulat…


